NIKMAT KEMERDEKAAN Dakwah Ketum Dewan Tanfidziyah PBNW Tuan Guru Bajang Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA. Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa

banner post atas

Selama kurun tiga setengah abad Indonesia dijajah Belanda dan Jepang adalah sebuah masa yang sangat lama. Terlebih, penjajahan itu dipenuhi dengan keberingasan dan keberutalan dari para penjarah bangsa ini.

Cara-cara licik dalam setiap agendanya, suka menggunakan strategi adu domba sesama anak bangsa, dan mengeruk kekayaan bumi Katulistiwa lalu melarikan hasilnya ke negara asal mereka, semuanya adalah bagian dari cara dan perilaku jahat mereka selama 350 tahun silam.

Namun, menariknya adalah selama penjajahan itu, selama itu pula para pejuang, para syuhada dari Nusantara ini terus bangkit melawan penindasan itu. Cerita ini yang direkam dalam karya Buya HAMKA yang berjudul, “Sejarah Islam Pra Kenabian Hingga Islam di Nusantara” berikut ini:

Iklan

“Bukanlah mudah bagi Belanda untuk memperkukuh kedudukan penjajahannya. Seluruh penjajahannya, 350 tahun, tidaklah pernah sunyi pada setiap abadnya.” Tegas Buya.

Selama itu pula tulisnya, “Pahlawan-pahlawan dari suku bangsa Indonesia, yang didorong oleh rasa iman dan agamanya untuk menentang penjajahan, lalu muncullah beberapa pahlawan pada abad ke-17, yang menjadi kemegahan bagi sejarah suku-suku bangsa Indonesia, terutama dalam agama Islam.” (Halaman 625).

Jadi, semakin jelas kemerdekaan yang kita nikmati saat ini, merupakan satu karunia Allah yang muncul, setelah menempuh sekian proses perjuangan panjang, yang dilakoni para pendahulu kita. Dan –lagi sekali– perjuanga itu sangat lama dari satu generasi ke genarasi berikutnya.

Oleh karenya, boleh jadi atas dasar kesadaran itu pula –selain ruh dan jiwa keimanan– para pendahulu atau para pendiri bangsa ini mempernyatakan dalam pembukaan teks UUD 1945, bahwa kemerdekaan ini dapat terselenggara berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Artinya, kemerdekaan kita adalah sebuah nikmat dari-Nya.

BACA JUGA  PENGUNJUNG MEDIA SinarLIMA TEMBUS ANGKA ENAM JUTA

Menempatkan kemerdekaan sebagai sebuhah nikmat dari Allah, kata Tuan Guru Bajang (TGB), maka kemerdekaan ini harus ditasyakkur atau ditafa’ul. Maksudnya, harus ada perjuangan, upaya dan usaha untuk mengisinya dengan hal-hal baik dan produktif.

Lebih lanjut, ulama tafsir itu mengatakan, bahwa mensyukuri nikmat kemerdekaan itu, tidak bisa sembarangan. Nikmat kebebasan dari penjajahan itu sangat berharga, maka mensyukurinya harus dengan kesungguhan, dengan kepahaman yang utuh, sehingga kita bisa memahami makna kemerdekaan itu seperti apa.

“Setiap tahun kita merayakan 17 Agustus, merayakan kemerdekaan Republik yang kita cintai ini, pada saat yang sama kita harus betul-betul bertasyakkur dan mengevaluasi diri, ‘Apakah kita sudah benar-benar mensyukuri nikmat kemerdekaan ini?’.” Demikian kata TGB dalam sebuah ceramahnya di Sumatera.

Apa yang disampaikan Tuan Guru Bajang ini, mengingatkan kita bahwa yang paling esensi dari perayaan (seremonial) 17 Agustus-an, adalah mensyukuri nikmat kemerdekaan ini, dengan memberikan karya terbaik kita pada pertiwi, sesuai bidang dan kapasitas kita masing-masing sebagai anak bangsa.

Wa Allah A’lam!

Bilekere, 14 Agustus 2020 M.