NAMA MUHAMMAD ZAINUL MAJDI (Sempena Maulana Dibalik Sebuah Histori)

NAMA MUHAMMAD ZAINUL MAJDI (Sempena Maulana Dibalik Sebuah Histori)

Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa
Nama tidak hanya sekedar identitas yang menandakan jenis kelamin semata. Dan pendapat yang mengatakan, “Apalah arti sebuah nama”, dibantah mentah oleh Islam.

Dalam pandangan Islam, nama adalah sebuah doa. Bahkan –kata Nabi– pada hari kiamat, orang akan dipanggil sesuai namanya dan nama ayahnya. Karena itu, فأحسنوا أسماءكم (maka perbaguslah nama-nama kalian).

Nama seperti apa yang bagus menurut Islam?

Jawabnnya adalah hadis Nabi saw. berikut ini:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : تسموا بأسمآء الأنبيآء وأحب الأسمآء إلى الله عبد الله وعبد الرحمن وأصدقها حارث وهمام وأقبحها حرب ومرة .

Dari hadits tersebut kita mengetahui, bahwa Nabi saw. menyuruh kita memberi nama dengan nama-nama para Nabi, semisal Ibrahim, Harun, Yahya, Yusuf atau lainnya.

 

Sementara nama yang paling disukai adalah nama-nama seperti Abdullah, Abdurrahman atau yang semisal Abdurrahim. Nama yang disandarkan kepada “al-Asma al-Husna”.

Adapun nama yang termasuk pilihan lain selain yang tersebut tadi, nama-nama yang baik dan lebih benar lainnya adalah seperti nama “Haris” dan “Hammam” (Selalu semangat).

Asalkan jangan sampai memberi nama yang konotasinya jelek dan bahkan salah, seperti nama “Harb” (perang) dan “Murrah” (kecut atau pahit), atau nama lainnya yang mengandung arti tidak pantas dan tidak layak.

Nah, mencermati tuntunan Nabi Muhammad saw dalam pemberian nama seperti yang tersebut tadi, maka kita sebagai umat Islam mestinya mengamalkan hal itu. Agar sebisa mungkin, kita memberi anak, cucu dan keluarga kita nama yang baik dan bagus.

Sebab lagi sekali, nama adalah doa (harapan masa depan yang tercermin dari sebuah namanya), dan agar kelak di akhirat mereka “tidak malu” dipanggil Allah swt. dengan namanya saat di dunia.

Dalam konteks cara memberi nama yang sarat dengan kandungan doa, dan menyelipnya sebuah harapan di masa mendatang (saat mereka telah dewasa), bisa kita mencermati contohnya dari gaya Al-Magfurulah Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid menamakan orang atau sesuatu.

Al-Magfurulah memang piawai (pandai dan cakap dalam hal yang satu ini), ahli (mahir alias paham betul) dan sangat seni (merangkai nama yang begitu menyentuh di hati, mudah diucap dan enak di dengar dan bisa diakronimkan).

Kepiawaian, keahlian, dan kesenian Maulana Syaikh dalam memberi nama yang penuh dengan sempena, bisa kita saksikan pada setiap nama apa saja yang berkaitan dengan simbol-simbol perjuangannya, nama-nama anggota keluarganya, dan juga nama-nama anak dari beberapa jamaah NW yang kebetulan mereka minta kepada beliau saat pengajiannya.

Sebagai contoh sebagiannya saja!.

Nama alat perjuangan Maulana bernama “Nahdlatul Wathan” (Kebangkitan Tanah air). Nama ini sangat tepat dengan kodisi bangsa saat penamaannya. Sehingga ia tidak hanya sekedar nama, tapi ia juga memiliki kandungan magic dan sempena yang sangat luar biasa, yang mampu membangkitkan jiwa kebangsaan para jamaahnya.

Bahkan sebelum ada ormas NW, ada cikal bakal atau embrio perjuangan Maulana Syaikh bernama mushalla “Al-Mujahidin”. Sebuah nama yang berarti “Para pejuang”. Nama yang menggelorakan jiwa anak negeri untuk bangkit dan merdeka. Sebuah nama yang tepat dan mengena di telinga dan sesuai dengan konteksnya. Dan masih banyak lagi nama-nama lainnya.

Yang menariknya –bagi penulis–, nama-nama yang dibuat Al-Magfurulah ada banyak nama-nama yang memiliki akronim. Sebagai contoh; NW akronim dari Nahdlatul Wathan. NWDI adalah akronim Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah. NBDI merupakan akronim Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah.

Ada juga nama-nama dari lembaga miliknya. MDQH sebuah nama dari akronim Ma’had Darul Qur’an wal Hadis. IAI H sebagai akronim dari Institut Agama Islam HAMZANWADI. Sedangkan HAMZANWADI sendiri akronim dari HAji Muhammad ZAinuddin Nahdlatul WAthan Diniyah Islamiyah. Sebuah akronim yang indah dan tidak kalah menarik dengan akronim HAMKA.

Begitulah Sang Maulana membuat nama yang menarik dan mengandung sempena. Termasuk pada pemberian nama Muhammad Zainul Majdi. Pada nama tersebut ada sempena, ada doa, ada harapan dan ada kebanggan yang disematkan Sang Ninik kepada cucu tercintanya.

Dari mana kita ketahui ini?

Berikut tuturan Ummuna Hajjah Siti Rauhun Zainuddin Abdul Majid dalam sebuah vidio singkatnya (bisa didownload).

Ceritanya begini. Pada hari ketujuh dari kelahiran si bayi mungil, sesaat setelah dimandikan dan masih sedang dipapah Ummuinya depan rumah, ketika datanglah Maulana Syaikh dari arah belakang, mendekat dan bertanya, “Sudahkah ada namanya tamu ini?”

“Belum ada ayah, saya bingung, siapa saya mau beri ia nama , mungkin Muhammad Zainul Abdi saja?” Jawab Ummuna.

Seketika Maulana langsung mencegat dan memberikan cucunya nama, “Tidak usah. Nama cucuku ini adalah Muhammad Zainul Majdi. Zainul adalah namaku. Majdi adalah nama datuknya. Mudahan ia bisa menjadi penerusku.”

“Begitu ceritanya. Dan saya masih hidup ini sebagai saksinya.” Kata Ummuna menutup ceritanya.

Nah, dengan sepenggal cerita ini maka nampak jelas, bahwa nama Muhammad Zainul Majdi adalah nama yang bersempena, sebuah pemberian dari Maulana untuk cucunya, yang –alhamdulillah– kini sudah menjadi orang ternama.

Selain itu, cerita ini sengaja dituturkan Ummuna (saat ini) untuk menjawab isu liar yang mengatakan; nama asli Tuan Guru Bajang sesuai pemberian Niniknya adalah Hikmatussyakirin, tapi ayahnya –H. Jalaluddin– yang merubahnya menjadi Muhammad Zainul Majdi.

Demikian cerita asal muasal nama TGB yang mengandung sempena, doa dan harapan dari Sang Niniknya. Namanya bersempena karena mengandung berkat. Mengandung doa agar si cucu mengikuti jejak kealiman dan kepintaran Sang Ninik dan keberanian Sang Datuk.

Itulan nama Muhammad Zainul Majdi yang diharapkan Maulana Syaikh sebagai PENERUSNYA berkat sematan nama yang langsung darinya.

Wa Allah A’lam!

Bilekere, 7 Oktober 2020 M.

 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA