MUTIARA HIKMAH (33) SAYA WAQAFKAN DIRI SAYA UNTUK NAHDLATUL WATHAN Oleh : Abu Akrom

MUTIARA HIKMAH (33) SAYA WAQAFKAN DIRI SAYA UNTUK NAHDLATUL WATHAN Oleh : Abu Akrom

Salah seorang perintis sekaligus pendiri Pondok Pesantren NW (Nahdlatul Wathan) di Muara Gembong, Bekasi, Ust. Muhammad Nasir menyampaikan pernyataan yang sangat mengejutkan, tergolong berani dan tidak semua orang NW mampu menyatakannya, yaitu; “Saya waqakan diri saya untuk Nahdlatul Wathan”. Pernyataan ini beliau ucapkan saat memberikan sambutan pada acara Rapat Kerja PW NW dan PD NW DKI Jakarta hari Ahad, 19 Juli 2020 di Ponpes NW Muara Gembong, Bekasi.

Perlu diketahui bahwa Ust. Muhammad Nasir, memang aslinya bukanlah orang yang berasal dari NW dan bahkan orangtuanyapun tidak tahu-menahu soal NW. Dan beliau tahunya hanya NU, bukan NW.

Dalam sejarahnya cinta NW berawal mula beliau mencari guru yang benar-benar dapat membimbing kehidupannya agar menjadi insan yang membawa manfaat bagi orang banyak.

Singakat cerita, pada tahun 2005 beliau bertemu di Ponpes NW Gabus dengan salah seorang kiyai yang bernama Drs. KH. Muhammad Suhaidi, SQ yang berpenampilan sangat sederhana, bahkan dilihat secara lahiriyah sepertinya bukanlah seorang kiyai. Berpakaian sangat sederhana bahkan tinggalnyapun sangat sederhana. Tetapi dari segi ajaran dan akhlaknya sungguh kiyai ini sangat luar biasa dan menyentuh hati dan siapapun yang bertemu dengannya pasti senang, simpati dan jatuh hati.

Inilah yang membuat Ust. Muhammad Nasir benar-benar tertarik dengan kemuliaan pribadi KH. Muhammad Suhaidi yang ternyata beliau seorang ulama’, pejuang dan tokoh inspirator yang membawa ajaran guru besarnya, yaitu Maulana Syaikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid yang merupakan pendiri organaisasi NW yang berpusat di Lombok, NTB.

Setelah Ust. Muhammad Nasir banyak berdialog tentang bagaimana sesungguhnya hidup beragama yang benar melalui NW, semua ucapan yang disampaikan KH. Muhammad Suhaidi benar-benar menyentuh hati dan memberi solusi terhadap berbagai problematika kehidupan. Sampai pada akhirnya Ust. Muhammad Nasir benar-benar mantap hatinya untuk ikut berjuang menegakkan agama Allah melalui NW.

Singkat cerita Ust. Muhammad Nasir ingin sekali berjuang menyebarkan NW di daerah asalnya di ujung laut utara Jakarta, yaitu kampung Muara Gembong, Bekasi. Maksud yang mulia ini disampikan kepada KH. Muhammad Suhaidi, dan mendapatkan restu untuk menyebarkan NW di tempat tersebut.

Ust. Muhammad Nasih di kampung Muara Gembong, memang sangat dikenal sebagai tokoh masyarakat yang aktif terlibat dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Dan keberadaannya dengan masyarakat sekitar sangat dekat dan peduli terutama dalam urusan kegiatan keagamaan. Sehingga pada saat pertama kali memperkenalkan NW baik kepada keluarga maupun masyarakat secara umum tidak mengalami suatu hambatan yang cukup berat. Walaupun ada tantangan demi tantangan, tapi dapat diatasi dengan baik.

Di Ponpes NW Muara Gembong yang dirintis sejak awal sampai saat ini benar-benar meletakkan ajaran NW yang berpaham Ahlussunnah Waljama’ah (ASWAJA). Diantara ciri khas ajaran NW sebagaiamana yang diwariskan oleh pendiri NW Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah membaca Hizib Nahdlatul Wathan, membaca shalawat Nahdlatain, membaca doa pusaka dan membaca tarekat hizib Nahdlatul Wathan. Semua bacaan dan doa ini bertujuan agar kiranya Allah selalu memberi pertolongan dan keberkahan dalam berjuang menegakkan ajaran agama Islam melalui NW.

Kalau melihat lokasi berdirinya Ponpes NW Muara Gembong, sungguh berada pada jalur yang sangat strategis dan memiliki prospek yang menguntungkan terutama yang berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi. Disebelah barat terdapat banyak tambak ikan dan udang sebagai mata pencaharian masyarakat sekitar, juga berada dekat dengan pantai yang sangat sejuk dan indah karena dipinggir pantai banyak pepohonan yang tumbuh dengan rindang.

Sebagai awal gerakan NW di Muara Gembong terlebih dahulu di area pesantren dibangun masjid yang cukup bagus, rapi dan elegan. Masjid ini didesain layaknya rumah panggung karena pondasinya yang cukup tinggi. Disamping masjid dibangun juga aula yang cukup luas dan ditata sedemikian rupa yang terkesan alami, karena bahan-bahannya dari kayu dan bambu. Yang menarik dari aula ini dibagian depan terpampang foto Maualana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid berukuran besar menghadap kearah timur, seakan-akan Maulana Syaikh mengawasi pergerakan NW di sana.

Pada waktu PW NW dan PD NW DKI Jakarta melakukan rapat kerja di pesantren ini, benar-benar merasakan suasana yang alami, sejuk dan menyenangkan. Angin sepoi-sepoi bertiup dari hamparan tambak ikan dan alamnyapun sangat bersih jauh dari polusi. Kodisi yang bagus ini, membuat para peserta rapat terlihat raut wajah mereka penuh ceria, hati penuh bahagia dan rapatpun begitu semangat, sehingga terbangun komunikasi yang hangat dan menghasilkan keputusan rapat yang sangat berkualitas.

Kita doakan semoga NW di Muara Gembong akan terus maju dan dapat berkiprah secara luas melalui empat bidang yang pokok yaitu Pendidikan, Sosial, Dakwah dan Ekonomi. Aamiin.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA