Semua pasangan suami istri pada awal mulanya berharap rumah tangganya nanti akan menjadi rumah tangga yang penuh dengan suasana bahagia. Bahkan banyak yang mendoakan agar rumah tangga yang dibangun nanti sakinah (tenang, rukun dan damai), mawaddah (penuh cinta), warahmah (penuh sayang sampai akhir kematian).
Beberapa bulan di awal bulan madu terlihat begitu bahagia, serasi dan saling perhatian. Tidak ada tanda-tanda rumah tangga itu akan mengalami keretakan. Orang-orang sekitar yang melihatpun merasa iri dan turut bahagia atas suasana rumah tangga mereka yang sangat harmonis.
Tetapi entah kenapa di tengah perjalanan rumah tangga tersebut mengalami masalah yang tak terduga. Yang tadinya akur tiba-tiba menjadi sering cekcok. Yang tadinya harmonis tiba-tiba menjadi berantakan. Yang tadinya selalu bersama-sama tiba-tiba menjadi renggang. Demikian seterusnya.
Kenyataan ini mesti menjadi evaluasi dan tanda tanya besar bagi kita, kira-kira apa penyebabnya sehingga terjadi seperti itu, dan bagaimana solusi terbaik untuk menyelesaikannya?
Inilah yang namanya rumah tangga, ternyata tidak semudah yang kita bayangkan. Banyak sekali masalah, tantangan dan ujian datang silih berganti seakan-akan tidak ada habisnya. Bagi orang yang menikah hanya modal cinta dan hawa nafsu, biasanya rumah tangga itu tidak akan langgeng. Tapi bagi orang yang menikah disamping karena modal cinta dan hawa nafsu juga karena dengan ilmu dan niat yang suci untuk beribadah kepada Allah, niscaya rumah tangga itu akan langgeng hingga ajal menjemput.
Salah satu faktor penyebab retaknya kehidupan dalam rumah tangga adalah karena kurangnya komunikasi yang terbangun antara pasangan suami istri. Komunikasi itu artinya melakukan hubungan dalam bentuk pembicaraan yang disampaikan dari hati kehati yang berkaitan dengan segala sesuatu yang penting (urgent).
Komunikasi ini sangat penting untuk dilakukan baik dalam hal spele atau hal-hal yang berat seperti bincang-bincang ringan, diskusi dan dialog mencapai kesepakatan dalam sesuatu yang dibutuhkan.
Tujuan utama dari komunikasi ini adalah agar terjadi intraksi yang intens dan positif secara terus menerus kepada pasangan suami istri. Dampak positif dari komunikasi ini yaitu semakin kuat mengikat jiwa/batin dengan pasangan dan juga tidak ada hal-hal yang disembunyikan dalam kehidupan berumah tangga.
Alangkah nikmat dan indah suasana rumah tangga seperti ini. Tidak ada masalah yang tak terselesaikan bila selalu berkomunikasi. Oleh karena itu mari kita budayakan untuk selalu berkomunikasi dengan saling bertegur sapa. Atau jika dibutuhkan, berkomunikasilah melalui handphone jika ada di luar rumah. Buanglah rasa ego, malas dan tidak semangat, karena semua ini bisa menjadi penyebab komunikasi tidak dapat terbangun dengan lancar, akhirnya rumah tangga menjadi hancur berantakan.
Semoga mutiara hikmah hari ini menjadi tambahan ilmu untuk dijadikan bekal dalam membangun komunikasi yang harmonis dengan pasangan demi membangun mahligai rumah tangga yang samara.
Bekasi, 22 Jumadil Awwal 1441 H/18 Januari 2020 M



