Oleh : Ahmad Rusdi
Mungkin tidak sedikit diantara kita yang berpandangan musibah ya musibah…mana mungkin musibah itu membawa anugerah. Saya pernah membaca satu buku yang menceritakan bagaimana Imam Ali Zainal Abidin bersyukur atas musibah yang dialaminya. Dikisahkan saat beliau menderita sakit, di tengah sakitnya beliau justru bersyukur, ”Ya Robb ya Rohman ya Rohim… bagaimana hamba tidak bersyukur atas sakit yang hamba alami ini…Dengan sakit ini hamba jadi lebih banyak berzikir menyebut nama-Mu, hamba jadi sedikit beraktifitas di luar sehingga mengurangi kemasiatan hamba. Dengan sakit ini para sahabat hamba jadi bersilaturrrahim dan mengunjungi hamba. Lebih dari itu ya Robb…sakit ini insyaa Allah atas izin-Mu akan menjadi penghapus dosa-dosa hamba.”
Kisah di atas memberikan ibroh untuk melihat musibah dari sudut pandang lain Imam Ali Zainal Abidin terkungkung dengan penderitaan sakitnya.
Itulah yang namanya musibah membawa anugerah. Ibarat seorang photografer saat ingin membidik suatu obyek, dia terhalang maka apa yang dilakukan. Dia pindah mencari posisi yang pas, mencari sudut pandang lain sehingga mendapatkan hasil bidikan yang lebih bagus. Nah mungkin begitu kira-kira yang dilakukan keturunan Rasulullah SAW di atas. Beliau memandang musibah dari sudut pandang lain.
Saat saya masih di usia puber ditakdirkan scoliosis (tulang punggung bengkok sehingga punggung jadi bungkuk) dan sempat minder, malu dan terkungkung dengan scoliosis. Saya belajar harus bisa melihat dari sudut lain.
Ada satu peristiwa yang bila saya mengingatnya saya senyum sendiri, yaitu banyolan uwak saya, H. Hamdan. Beliau ini mukimin di Jeddah Saudi Arabia. Jadi belau warga Indonesia yang menjadi warga Saudi Arabia. Suatu waktu beliau pulang ke Indonesia dan melihat saya, beliau kaget dan bertanya: “Endi (ini panggilan masa kecil saya di tengah keluarga)..elu bagusan begitu dah jadi kagak banyak gangguannye…”
“Kok begitu Wak…” jawab saya.
Beliau: melanjutkan, ”iye… kalau elu kagak begitu badannya, uwak malah khawatir elu bakal keluyuran kemane-mane, entar elu malah jadi playboy… habis muke Lu cakep dan sebenernya elu tinggi. Badan Lu pendek karena bungkuk aja.”
Mendengar jawaban Wak haji…saya jadi senyum. Itu mungkin omongan candaan, tapi itulah contoh melihat musibah dari sudut pandang lain untuk kebaikan kita sendiri. Dan benar ternyata cacat ini ada manfaatnya…paling tidak saya jadi mudah dikenali…he he….
Intinya kita harus husnuzh-zhon kepada Allah. ‘Ana ‘Inda Zhonni ‘abdiy Biy.” Aku tergantung prasangka baik hamba-Ku kepada-Ku.
Itulah mungkin rahasia kenapa nikmah (نعمة ) yang lazim kita sebut nikmat dengan niqmah ( نقمة ) yang berarti bala atau bencana secara redaksional berdekatan huruf ‘ainul fi’li-nya, yaitu huruf ‘AIN dan huruf QOF. Ini mengisyaratkan bahwa nikmat itu bisa berubah jadi bencana/musibah begitu pula sebaliknya. Ibarat kata nikmat/anugerah dan bencana/musibah itu berdampingan bagaikan dua sisi mata uang. Jadi tergantung pada diri kita.
Mungkin disinilah pentingnya sudut pandang BERPIKIR POSITIF DAN RIDHO ATAS TAKDIR ALLAH SWT.
Wallahu a’lam.
Renungan tanggal 22 September 2020




