Mulut Mentradisi di Masyarakat Lombok

banner post atas

Sinar5news.com -Maulid dalam bahasa Lombok sering disebut dengan Mulut atau Bulan Mulut. Bulan yang diisi dengan berbagai kegiatan, dari pengajian sampai berbagai macam acara kemasyarakatan.

Disebut bulan mulut, karena pada bulan itu biasa banyak makanan yang tersaji. Makanan tersebut barasal dari masyrakat setempat, dibawa ke Masjid, dihidangkan Bersama-sama setelah acara Maulid digelar, dan ada juga yang dibawa pulang.

Menghantar kue maulid ke Masjid

Maulid merupakan perayaan yang sudah mentradisi di kalangan masyarakat Lombok. Hampir semua lapisan masyarakat muslim Lombok merayakan Maulid. Dari pemerintahan, lembaga pendidikan, Majlis Ta’lim, Pondok Pesantren dan masyrakat pada umumnya beramai-ramai memperingati Maulid Nabi SAW.

Iklan
Tumpukan kue Maulid

Acara Maulid biasanya dihadiri oleh kaum Priya dari golongan orang tua, anak-anak, dan para pemuda. Adapun kaum wanita tidak ikut merayakannya di masjid, karena mereka mempersiapkan konsumsi/kue Maulid di rumah.

Berbagai bentuk kue tersaji dalam acara Maulid, seperti kue tarik, renggi, opak-opak, peyek, kue matahari, kue elak-elak, kue kaliadem, kue dadar, kue cantik manis dan lain-lain dari makanan dan kue khas kampung setempat. Ada juga kue-kue modern masa kini yang ikut maramaikan sajian Maulid, seperti bronis, bolu batik dan lain-lain. Dan berbagai model buahpun tidak ketinggalan ikut melengkapi sajian maulid. Terang ibu Uyik dan ibu Ela.

Antusias warga dalam memperingati Maulid hampir menyamai perayaan hari lebaran. Karena beberapa hari sebelum acara Maulid digelar, masyarakat sudah mulai meramaikannya dengan berbagai kegiatan.

Perayaan Maulid di Lombok boleh dikatan diperingati satu bulan penuh. Masing-masing kampung biasa memperingatinya di hari yang berbeda. Satu kampung selesai mengadakan Maulid, kampung yang lain menyusul lagi peringatan Maulid. Begitu seterusnya sampai habis bulan Robiul Awal. Rasanya kurang afdhal, kalau satu kampung tidak diadakan Maulid.

BACA JUGA  Bupati Lombok Timur Sukiman Azmy Pimpin Rombongan " Belajar Dari Desa Wisata Suranadi"

Peringatan Maulid tidak hanya ramai di kalangan masyarakat, dalam pendidikan formalpun Maulid sudah menjadi bagian dari pelajaran agama. Misalnya di SMP Negeri 2 Labuan Haji, beberapa hari yang lalu telah melaksanakan perayaan Maulid, dengan menyuruh peserta didik membawa makanan sendiri yang akan dihidangkan setelah acara usai.

Begitu lekatnya Maulid di kalangan masyarakat Lombok, Pendidikan anak usia dinipun sudah mulai dibiasakan untuk ikut serta merayakan Maulid Nabi SAW di Sekolahnya. Misalnya PAUD Asysyisyifa Pancor. Mereka sudah dibiasakan memperingati Maulid dalam bentuk sederhana, menceritakan kisah Nabi dan ditutup dengan ramah tamah.

Bagaimana penyelenggaraannya ?

Secara umum, acara Maulid diselenggarakan dengan relatif sederhana. Mulai dari pembukaan, Pembacaan Kalam Ilahi, sambutan, pengajian yang biasa diisi oleh Tuan Guru dan ditutup dengan doa. Setelah itu baru dilanjutkan kepada acara ramah tamah.

Berbagai kegiatan diselenggarakan di pra acara Maulid, menyesuaikan budaya masing-masing kampung. Misalnya di Dusun Esot Desa Labuan Haji sebelum acara Maulid, diadakan Selakaran bersama di Masjid membaca bait-bait Syair dalam kitab Al-Barzanji. Di Desa Pancor Lombok Timur, Selang beberapa hari sebelum pelaksanaan Maulid diadakan, berbagai macam perlombaan digelar. Dari lomba yang berbasis agama sampai berbagai kegiatan lomba yang bersifat umum. Misalnya pada Maulid tahun ini, sekitar dua minggu sebelum peringatan digelar diadakan lomba Tahfidz, menghafal Juz ‘Amma, Hiziban akbar, sunat masal, lomba masukin jarum ke botol, dan sepeda santai.

Di Desa Lombok Kayangan Lombok Timur, dalam peringatan Maulid dikenal dengan acara Seribu Bakul. Sebelum acara peringatan, masyarakat dibagikan bakul untuk diisi dengan makanan sajian Mualid, kemudian makanan tersebut diantar ke Masjid ketika Maulid digelar, dijadikan sebagai konsumsi sehabis acara.

BACA JUGA  Temu Kangen Reoni SMP Harapan l Jakarta Angkatan Th 1998-1999 Berlokasi di Rumah Makan Palm Corner

Di Lombok tengah peringatan Maulid disambut dengan sangat meriah. Maulid bukan sekedar peringatan, melainkan sebuah hajatan. Maka tak heran, sebelum peringatan digelar, masyrakat menyiapkan kue/makanan Maulid dengan besar-besaran, sehingga muncul istilah Maulid keluarga. Karena ramainya Maulid bukan hanya di masjid, akan tetapi antar keluargapun mengadakan acara Maulid di rumah. Saking meriahnya Maulid muncul istilah Penamat Dulang, dimana warga menaikkan kue Maulid ke Masjid dengan tumpukan yang sangat tinggi.

Begitu juga di Mataram dan Lombok Barat, acara Maulid disambut dan diperingati dengan sangat meriah. Sebelum diselenggarakan Maulid, berbagai kegiatan lomba diadakan seperti lomba baca puisi ayat-ayat alqur’an, lomba azan, lomba shalat berjamaan, cerdas cermat dan lainnya.

Tidak ketinggalan juga Lombok Utara, Maulid diselenggarakan dengan sangat unik, dalam acaranya terkadang dipadukan bersama adat Perisaian Lombok. Dan begitu juga Lombok Selatan tidak ketinggalan dalam memeriahkan Maulid Nabi SAW. (fathi)