Menyadari Nikmat Pemberian Allah (Jum’at ke-15 masjid HAMZANWADI)

banner post atas

 

Terkadang manusia sering lupa terhadap nikmat yang sedang dipakai sehari-hari. Siang dan malam dapat bernafas dan bergerak, serta dalam keadaan sehat wal Afiah sehingga bisa menyelesaikan berbagai aktivitasnya, namun masih saja manusia sering lupa mensyukuri nikmat yang digunakan itu. Kira-kira apa ya yang menjadi menyebab manusia sering lupa mensyukurinya ?.

Teringat kata pepatah “bulu mata yang ada di dekat mata sering terlupakan, sedangkan sesuatu yang lebih jauh darinya sering mendapatkan perhatian”, maka bisa jadi lupanya manusia mensyukuri nikmat yang sering dipakai disebabkan karena teramat dekatnya keberadaan nikmat tersebut, dan bisa jadi juga karena saking seringnya dipakai sehingga nilai dari nikmat itu terlupakan, dan baru akan disadari keberadaannya setelah nikmat tersebut tiada, atau dicabut oleh Allah yang menciptakannya.

Iklan

Pada prinsipnya, Allah sebagai pemberi nikmat tidak pernah merasa rugi bila nikmat pemberiannya tidak disyukuri, dan tidak juga menjadi terangkat semakin agung bila seorang hamba mensyukuri nikmat pemberiannya. Karena pada hakekat sebenarnya yang untung dan rugi adalah manusia sendiri, sedangkan Allah yang maha besar dan maha kaya tidak akan pernah merasa rugi. Dalam Al Qur’an surat Ibrahim ayat 7 disebutkan:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Terjemah Arti: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Pertanyaannya, pantaskah manusia untuk tidak mensyukuri nikmat Allah, sedang nikmat tersebut terus mengalir pada dirinya tanpa henti dan cuma-cuma ?. Sebagai makhluk berakal tentu manusia sangat tidak tahu malu apabila tidak mensyukuri nikmat pemberian Allah. Mari perhatikan bersama bagaimana Allah menanyakan kepada manusia tentang nikmat yang diberikannya. Dalam Al-Quran Surat Ar-Rahman Allah menyebutnya berkali-kali dengan jumlah yang sangat banyak.

BACA JUGA  Buletin Jum'at HAMZANWADI Edisi-06

فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Terjemah Arti: Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Begitu banyak nikmat Allah yang manusia gunakan, sehingga mereka tidak bisa terlepas darinya, dan tidak bisa hidup tanpanya. Contoh sederhana dari nikmat tersebut adalah organ tubuh manusia yang tidak ternilai harganya, dan dipakai dalam setiap harinya. Andai Allah mencabut nikmat tersebut, maka manusia tidak akan bisa berbuat apa-apa.

Dari demikian banyaknya nikmat Allah yang ada pada manusia, dan dipakai pada setiap harinya, membuat mereka harus berupaya menjadi hamba yang baik, dengan cara berusaha taat kepada Allah SWT. dan berikhtiar menjadi manusia yang bermanfaat bagi kehidupan manusia yang lain, sebagai bentuk manifestasi rasa syukur terhadap anugrah nikmat pemberian Allah yang maha kuasa.

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni).

Adapun diantara cara mensyukuri nikmat Allah adalah melalui ucapan (lisan) dengan membaca Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) dan melalui tindakan atau perbuatan (af’al), dengan menjalankan kewajiban sebagai orang muslim, dan mendermakan sebagaian hartanya bagi yang kaya.

Tulisan ini diambil dari intisari khutbah yang disampaikan oleh Ust. Abdul Karim, SQ pada tanggal 30 Oktober 2020 di Masjid HAMZANWADI Jum’at yang ke-15.

FATH