Mensyukuri nikmat allah adalah keharusan bagi setiap orang Islam, karena syukur itu merupakan salah satu cara berterimakasih terhadap anugrah pemberian allah yang tiada hentinya pada setiap saat, setiap menit, bahkan setiap detik. Lebih lagi bila memperhatikan berbagai fasilitas dan anugrah yang telah diberikan, memaksa manusia untuk pandai dalam bersyukur.
Tanpa anugerah nikmat dari allah, jantung tidak akan bisa berdetak, darah tidak bisa mengalir, mata tidak bisa melihat dan begitu juga telinga tidak akan bisa mendengar.
Begitu banyak nikmat yang diberikan allah, dari yang tidak kelihatan sampai yang kelihatan, yang hanya bisa dirasa sampai yang bisa dilihat oleh pandangan mata. Karena banyaknya nikmat tersebut bila dihitung dengan angka niscaya tidak akan bisa ditentukan berapa jumlahnya.
Kaitannya dengan tidak mampunya manusia menghitung nikmat yang dianugrahkan allah, dijelaskan dalam al-Qur’an surat annahl ayat 18.
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya: Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An Nahl: 18).
Melihat begitu banyaknya nikmat allah, mengharuskan manusia untuk pandai dalam bersyukur. Adapun diantara cara mensyukuri nikmat allah adalah sebagai berikut:
1. Memperhatikan yang memberikan nikmat (allah).
Manusia jangan sampai lalai dan lupa diri kepada allah karena terbuai dalam mengonsumsi nikmatnya. Dalam kata lain selalu ingat terhadap yang memberikan nikmat.
2. Melihat dan memperhatikan apa yang ada pada diri sendiri.
Dengan memperhatikan apa yang ada pada diri sendiri akan mampu menumbuhkan rasa syukur. Sebaliknya dengan melihat apa yang ada pada diri orang lain akan membuat seseorang lupa terhadap dirinya dan nikmat yang ada padanya, karena perhatiannya difokuskan kepada selain dirinya. Hal ini bisa membuat orang lupa diri dan berdampak kepada lupa dari mana datangnya nikmat yang sedang dipakai, bahkan yang lebih parah tidak bisa mensyukuri nikmat allah.
3. Memperhatikan apa yang sudah didapatkan
Dengan memperhatikan apa yang sudah ada atau yang sudah dimiliki, akan bisa menumbuhkan kesadaran terhadap kebaikan yang diberikan allah. Sebaliknya bila terlalu melihat apa yang belum dimiliki (kekurangan) dalam masalah dunia, dapat membawa kepada selalu merasa kekurangan, serta lupa mensyukuri nikmat yang telah ada.
Untuk bisa mensyukuri nikmat allah, dibutuhkan pemahaman yang baik terhadap berbagai bentuk nikmat yang dianugerahkan kepada manusia. Diantaranya ada yang berbentuk materil seperti harta benda yang dimiliki, dan ada juga yang non materil seperti kecerdasan, keahlian, keimanan dan lain sebagainya.
Mensyukuri nikmat allah secara proporsional akan bisa menjadi sebuah mahnit yang akan menarik lebih banyak lagi nikmat yang lain, serta menjadi penyebab terhindar dari siksa allah. Hal ini sesuai dengan firman allah dalam surat Ibrahim ayat 7
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيد
Atinya : Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. ( Quran Surat Ibrahim Ayat 7)
Adapun diantara ciri orang-orang yang bersyukur terhadap nikmat allah adalah sebagai berikut :
1. Berwajah ramah dan indah (وجه مليح) yaitu wajah yang selalu teduh dan senang bila dipandang, serta selalu lapang dalam menerima segala keputusan allah.
2. Lidah yang fasih (لسان فصيح) kata-katanya adem bagai berteduh dibawah pohon, tidak bosan dalam mendengar perkataannya, serta kata yang keluar dari lidahnya adalah nasihat.
3. Hati yang takwa (قلب تقي). Yaitu hati yang selalu bersandar dan terpaut kepada allah. Apapun yang dilakukan landasannya karena allah. Tujuan hidupnya mencari ridha allah. Oleh karena itu apapun yang dialami di dunia diyakini allah ada dibalik semua kejadian tersebut, dan memiliki hikmah dan tujuan tertentu.
4. Tangan yang pemurah (يد سخي) tangan yang ringan dalam memberikan bantuan dan pertolongan baik berupa tenaga ataupun harta, hal ini didasari oleh sebuah keyakinan bahwa sekecil apapun yang dilakukan akan mendapat balasan dari allah.
Tulisan ini diambil dari intisari khutbah yang disampaikan oleh Ust.Sarbini Khair, S.Ag pada hari jum’at tanggal 11 september 2020 di Masjid Jami’ Hamzanwadi Ponpes NW Jakarta.
Fath.




