Diantara tugas para Nabi Rasul adalah membuka pintu-pintu kebaikn untuk manusia dan menutup pintu-pintu keburukan. Hal ini bisa dilihat dari berbagai upaya dan langkah yang dilakukan oleh para Nabi dan Rasul dalam menyelamatkan ummat.
Nabi Nuh berusaha membukakan pintu kebaikan untuk ummatnya, dengan membuat perahu yang sangat besar untuk menyelamatkan mereka dari gelombang banjir bandang yang sangat besar. Tindakan itu sekaligus menyelamatkan ummatnya dari ditenggelamkan oleh banjir.
Nabi Ibrahim membuka kebaikan untuk ummat manusia dengan mendirikan ka’bah sebagai tempat dan pusat ibadah melaksanakan hajji dan ummrah, serta berbagi bentuk ibadah lainnya. Nabi Ibrahim juga menghancurkan patung berhala sebagai langkah untuk menutup pintu keburukan dan menyelamatkan aqidah ummatnya.
Nabi Yusuf membuka kebaikan dengan menjadi seorang bendahara yang hebat di zamannya, sehingga mampu menyelamatkan rakyat dan kerajaan dari petaka kemarau yang sangat panjang.
Nabi Musa membuka pintu kebaikan dengan menyelamatkan ummatnya dari kejahatan Fir’aun.
Begitu juga Nabi Muhammad SAW membuka pintu kebaikan bagi manusia, dengan menyampaikan segala risalah yang diamanatkan Allah kepadanya. Dan segala bentuk tindakan kebaikan yang dilakukan oleh Nabi adalah termasuk salah satu upaya menutup pintu-pintu keburukan untuk ummatnya.
Adapun diantara cara membuka pintu kebaikan dan menutup pintu keburukan adalah sebagai berikut;
1. Mengajarkan imu
Dengan mengajarkan ilmu, berarti seseorang telah berupaya membuka pintu kebaikan dan menutup pintu keburukan, karena ilmu adalah salah satu alat untuk menggali dan mengetahui mana yang hak dan yang batil, dengan bisa membedakan antara keduanya, berarti manusia telah membuka pintu kebaikan dan menutup pintu keburukan. Karena itulah allah menganjurkan kepada orang Islam untuk pergi menuntut ilmu. Allah SWT berfirman;
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ (التوبة [٩]: ١٢٢)
“Tidak sepatutnya orang-orang yang beriman itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa kelompok yang memperdalam pengetahuan agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila telah kembali kepada mereka supaya mereka menjaga diri.” (QS. At Taubah [9]: 122).
2. Menegakkan ma’ruf dan mencegah kemungkaran.
Dengan melakukan keduanya, berarti telah berupaya membuka pintu kebaikan dan menutup pintu kemungkaran. Ma’ruf mengajak kepada berbagai bentuk kebaikan, dan mungkar berarti melarang untuk tidak melakukan segala bentuk keburukan. Kaitannya dengan hal ini Allah menjelaskan dalam al-qur’an;
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”.
3. Mengajak orang lain untuk melaksanakan sunnah Nabi.
Segala sunnah Nabi adalah kebaikan, oleh karena itu, dengan mengajak orang lain melaksanakan sunnah Nabi, berarti telah berupaya membuka pintu kebaikan dan menutup pintu keburukan.
Tentang keutamaan mengajak kebaikan dijelaskan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
“Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun”
Tulisan ini diambil dari intisari khutbah jum’at yang sampaikan di Masjid Hamzanwadi pada tanggal 2 oktober 2020 oleh TGH. Lalu Mumtaz, S.PdI.
Fath




