Media Sinarlima sebagai Hikmah Ilmu Pendidikan

banner post atas

“ Sudah cukup. Saya pilih di sini sajalah tempat pemberhentian terkahir saya…”
Kira-kira seperti itu kalimat yang pernah dilontarkan oleh Ustaz Hamzani. Kalau tidak salah ingat, kala itu tahun 2018. Kalimat itu keluar ditengah-tengah masa perjuangannya bersama Ustaz Muslihan Habib dan Pak Rohimin tatkala membangun Media Sinarlima di YMS tempatnya mengabdi. Saat itu Sinarlima sedang merangkak ke dalam bentuk daring. Ustaz Hamzani memang kerap menikmati kopi bersama siapa saja yang senang minum kopi. Lantas, ketika kopi tersaji, tak ada yang lebih sering keluar dari mulutnya selain cerita tentang perkembangan media Sinarlima. “Sinarlima ini nantinya dapat membantu para siswa, santri…” ucapnya suatu ketika.

Mengapa siswa/santri disebut olehnya? Sebab di YMS Nahdaltul Wathan Jakarta, Ustaz Hamzani merupakan guru Quran Hadis. Hal tersebut yang membuat beliau memandang bahwa Sinarlima dapat mendorong tumbuh kembang keterampilan siswa ( dan santri) yang sebagian besar berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah. Sehingga, siswa yang berbakat dapat berkecimpung di bidang media informasi sepertii kameraman, reporter, editor, ataupun penulis berita. Tapi, kita akan salah sangka kalau melihat Ustaz Hamzani sebagai guru profesional di SMA NW Jakarta. Sebab ruang kelas terlalu kecil dan tidak muat untuk menampung mimpi besarnya untuk Sinarlima.

“ Hamzani.. ini pemberian dari Maulana Syeikh.” Ucapnya suatu ketika. Apa yang beliau, ucapkan kerap kali “ujung-ujungnya” terkait dengan Sinarlima. “ Pak Kiai Suhaidi, begitu menghargai
perjuangan saya untuk Sinarlima ini…”, kisah Ustad Hamzani suatu ketika. K.H Muhammad Suhadi, pimpinan YMS NW Jakarta, merupakan salah satu tokoh agama yang berpengaruh besar di sekitar lingkungan gang bona, penggilingan, Cakung Jakarta Timur, tempat dimana Sinarlima kini bermarkas.
Beliau kerap bersentuhan langsung oleh Ustad Hamzani dalam meperjuangkan Sinarlima.

Iklan
BACA JUGA  Wagub NTB Hj Rohmi Disebut Sebagai Srikandi Pembangun Indonesia

Kedua nama yang disebut oleh Ustad Hamzani dalam percakapan tersebut merupakan tokoh penting dari berdiri dan berkembangnya Media Sinarlima. “ Pada tahun 1994 media Sinar Lima didirikan langsung oleh pendiri organisasi NW Jakarta, Sulthanul Auliya Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Pada waktu itu terbit dalam bentuk majalah setiap bulan dan telah mencapai 5 edisi.” Ujar K.H Muhammad Suhaidi, S.Q. sebagaimana dilansir oleh Sinarlimanews,9 November 2019. Pada tahun itu, tahun 2019, Ustaz Hamzani mewujudkan ucapannya mengenai perhentian terakhir.

Selepas meliput dan mengabarkan berita tentang LDKS SMA NW Jakarta, beliau berpulang ke rahmat Allah. Kendati demikian, pada tahun itu dan selanjutnya, sinarlima tak rapuh. Energi perjuangan
Sinarlima tetap hadir dan diperjuangkan kembali oleh muridnya yaitu Pak Rohimin dalam dukungan gurunya yaitu Ustaz Muslihan Habib.

Sejauh yang saya amati belakangan ini, perjuangan Sinarlima tak lepas dari dukungan lain seperti para guru/ ustaz dan alumni di NW Jakarta seperti Ustaz Badri, Ustad Marolah,Ustaz Sughiatul Fathi, Megovik, Reyhan dan lain-lain. Mereka semua begitu aktif merawat eksistensi Sinarlima yang menginjak usia 26 tahun pada September 2020 ini.

Sebagai guru, saya kira kita patut mensyukuri kehadiran media Sinarlima sebagai hikmah ilmu pendidikan. Jauh sebelum Kemdikbud bicara mengenai konsep guru penggerak maupun pendidikan karakter belakangan ini, sejatinya semua itu telah terjadi di Sinarlima. Sinarlima terlalu jauh melampaui paradigma pendidikan dalam Kurikulum Indonesia belakangan ini.

Sinarlima diperjuangkan dalam atmosfir spirit guru-murid / Ustad-santri. Lantas, output (hasil) darinya bukanlah sekedar prestasi basa-basi ala pendidikan formal. Sinarlima diturunkan dari guru kepada muridnya bukan berupa benda mati sebagaimana lembaran rapot dalam tradisi sekolah formal. Namun, Sinarlima merupakan daya getar berupa kegimbaraan untuk mengabarkan nilai-nilai Islam.

BACA JUGA  PENTINGNYA BERADAB KEPADA RASULULLAH

Sebagaimana teori ilmu fisika bahwa energi tak akan mati termakan oleh waktu, perjuangan media Sinarlima akan menjadi semacam itu. Tentu kalau kita memperlakukannya tidak dengan cara￾cara media “Jakarta”. Sinarlima akan terlalu kecil kalau sekedar cari-cari sensasi dengan berita bobrok, kebohongan, dan hal-hal yang tak mendidik demi dikenal luas di ibu kota. Sebab, Sinarlima telah viral di langit. Hujan lebat akan membuatnya melejit kemana-mana dengan mulia.

Jatiasih, Bekasi. 17. September.
M.Agung. ( Pengajar Bahasa/Sastra Indonesia di SMA NW Jakarta.)