Maulana Syaikh Ulama Penyusun Tarekat Mu`tabarah

banner post atas

Oleh :H Muslihan Habib (Derektur media sinarLIMA )

Melahirkan atau menyusun sebuah tarekat dan apalagi sebuah tarekat yang mu`tabarah, tentunya tidaklah seperti menyusun sebuah buku ilmiah umumnya dan sang penyusun tarekat, tidaklah sembarangan ulama. Tapi, tentunya seorang ulama yang telah memiliki tingkatan mukasyafah. Dan apabila tersebut telah mukasyafah, maka tentu terbukalah segala  hijab dari segala rahasia-rahasia yang tersembunyi. Hal ini mengisyaratkan bahwa dengan ilmu mukasyafah semua apa yang sebelumnya tersembunyi dan terselubung dalam sebuah rahasia akan nampak jelas dipandang mata. Dengan demikian, ketika seorang hamba telah mencapai pada tingkat mukasyafah ini, maka baginya tidak ada lagi sebuah rahasia yang menyelimuti dalam hatinya. Dengan ilmu mukasyafah ini pula, seseorang akan mengetahui segala rahasia yang ada, karena tidak lagi ada batas pandang yang sanggup dicapai oleh ilmu-ilmu lain, selain ilmu mukasyafah.

Guru besar kita, Sulthaanul Aulia Al-`Aalim Al-`Allamah Al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah sorang ulama penyusun tarekat akhir zaman yang kemudian dinamakan dengan Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan. Tarekat ini berhasil disusun pada tahun 1967. Dan beliau sebagai ulama penyusun terekat, maka tentunya merupakan seorang wali Allah yang telah mukasyafah dan bahkan disebut sebagai seorang ulama yang telah berhasil menduduki kewalian tertinggi yang dinamakan Quthb (Kutub) atau Poros Alam. Dan suatu tingkatan wali yang kadang juga dinamakan al-Ghauts yang berarti Penolong atau Sulthan al-Awliya yang berarti Raja Para Wali.

Iklan

Dalam penelitian penulis bahwa Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan yang disusun oleh Guru besar kita; Sulthaanul Aulia Al-`Aalim Al-`Allamah Al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah Tarekat Mu`tabarah.
Untuk penyebutan pada istilah Tarekat Mu`tabarah, lebih merujuk pada sebuah substansi Tarekat yang sanadnya bersambung kepada Rasulullah Shalallaahu `alahi wa sallam, lalu beliau menerimanya dari Malaikat Jibril `alaihissalam dan Malaikat Jibril menerima dari Allah Subhanahu wa ta`ala. 22 Ketika kita mengacu pada pendefisian seperti ini, maka terhadap keberadaan substansi Tarekat Hizib inipun adalah jelas seperti itu. Selain itu, secara substansial, Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan adalah Tarekat yang berisikan ayat-ayat al-Qur`an al-Karim dan Hadits-hadits Rasulullah serta wirid dan doa yang disusun oleh para wali dan ulama Allah. Dengan demikian, dengan memperhatikan substansi Tarekat yang memuat hal-hal seperti yang disebutkan di atas, maka terhadap Tarekat Nahdlatul Wathan, dapat disebut sebagai Tarekat Mu`tabarah.

Sementara itu, dalam persepsi Jam`iyyah ahl al-Thariqah al-Mu`tabarah al-Nahdhiyyah, menyebutkan bahwa sebagai acuan kemuktabrahan sebuah tarekat adalah 1) memperhatikan syariat Islam dalam pelaksanaannya, 2) berpegang teguh pada salah satu madzhab Fiqh yang empat, 3) mengikuti haluan ahlusunnah wal Jama`ah, 4) meningikuti ijazah yang sanadnya muttashil. 22 Ketika kita mengacu pada kretaria seperti ini sebagai acuan kemuktabrahan sebuah tarekat, maka terhadap keberadaan substansi Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan inipun adalah jelas akan masuk dalam klasifikasi tarekat yang muktabarah juga.

Selanjutnya, ketika kita sepakat dalam menyebut Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan sebagai sebuah tarekat muktabarah, maka penyusun terekat inipun tidaklah sembarangan penyusun. Tapi, penyusunnya adalah seorang Wali Allah yang masuk dalam tingkatan Sulthan Al-Awliya (Raja Para Wali).
Pernyataan penulis diatas ini, dapat kita perkuat dengan sebuah pernyataan yang dituangkan dalam buku Permasalahan Thariqah, Hasil Muktamar dan Musyawarah Besar Jam`iyyah Ahlith Thariqah al-Mu`tabarah Nahdlatul Ulama (1957-2005). Dalam buku ini, disebutkan bahwa setiap Thariqah Mu`tabarah mempunyai Sulthan al-Auliya` sendiri-sendiri dan bagi pengikutnya, wajib menetapi dan mahabbah sulthannya masing-masing serta tidak menyakiti kepada wali lainnya.

Dan dalam hal ini pula, penulis pernah melakukan wawancara khusus dengan salah seorang murid dekatnya Maulana Syaikh, yaitu Tuan Guru Haji Mahmud Yasin (Allahu yarhamu) pada tahun 2010 dan beliau menyebutkan bahwa Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menyusun Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan itu dengan proses cukup panjang dan merupakan suatu hal yang sangat berat, karena merupakan suatu tugas yang diberikan pada para wali yang setingkat wali Quthb.

Senada dengan komentar Tuan Guru Haji Mahmud Yasin diatas, ada juga komentar yang sama dari salah seorang murid dekatnya Maulana Syaikh juga dan bahkan telah mendapatkan wewenang, izin atau kepercayaan dalam mengijazahkan Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan dengan menyebut Atas Nama Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul madjid dalam pengijazahannya untuk wilayah DKI Jakarta, yaitu; al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi, pimpinan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta. Dalam hal ini, beliau juga mengatakan bahwa Sulthaanul Aulia Al-`Aalim Al-`Allamah Al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah seorang ulama dari wali Allah yang telah menduduki posisi Wali Qutb al-Aqtab, sehingga dengan tingkatan kewalian seperti itulah, beliau menyusun tarekat.

BACA JUGA  SUBHANALLAH, PEMBACA MEDIA SinarLIMA TEMBUS KE ANGKA 13 JUTA

Oleh sebab itu, dalam sejarah penyusunan Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan oleh Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, maka tidaklah dengan serta merta lahir dan tersusun dengan begitu saja. Namun, lahir dan tersusunnya tarekat tersebut adalah setelah melalui proses penyusunan yang cukup panjang yang dimulai sejak tahun 1964 dan berakhir tahun 1967. Dan dalam proses penyusunannya itu, sungguh sangat sarat dengan nuansa spiritual atau kesufian.

Dalam hal ini, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid secara pribadi seringkali mendapatkan suatu bisikan spiritual (bisikan bathin) atau al-Mubasyirat, secara langsung ataupun tidak langsung. Secara langusng artinya tanpa ada perantara bagi beliau sendiri yang mendapatkan petunjuk dari Allah Subhanahu wa ta`ala. Dan secara tidak langsung disini adalah dengan al-Mubasyirat yang disampaikan melalui para muridnya yang berisikan sebuah seruan yang menyerukan untuk segera membentuk perkumpulan tarekat, karena Nahdlatul Wathan telah memiliki kitab Hizib yang lengkap (Hizib Nahdlatul Wathan dan Hizib Nahdlatul Banat) yang di dalamnya termuat atau berisikan dzikir dan do`a, tapi organisasi NW ini belum memiliki tarekat. Dengan terwujudnya tarekat yang dimaksud, maka nantinya akan menyempurnakan amalan-amalan atau tasawuf warga Nahdlatul Wathan (NW) dalam pendekatan dirinya kepada Allah Subhanahu wa ta`ala.

Dalam penuturan yang disampaikan oleh Tuan Guru Haji Mahmud Yasin (Allahu yarhamu), bahwa setelah Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid memperhatikan banyaknya penyimpangan yang dilakukan masyarakat dalam bertarekat dengan mengatasnamakan tarekat tertentu, maka beliau merasa geram melihat fenomena penyimpangan ini, sehingga sampai beliau memunculkan istilah tarekat “Syetan” ataupun thariqat yang “diperkosa”, pada terekat-tarekat tersebut.
Perkembangan selanjutnya, dengan melihat kondisi itu, saat itupun beliau sempat termenung, bahkan sempat membuat pikiran dan perasaannya susah dan gelisah. lalu dengan mediasi yang berasal dari salah seorang muridnya yang mendapatkan al-Mubasyirat (mimpi) dipanggil dan bahkan bertemu dengan Rasulullah Shallallahu`alaihi wa sallam.

Dan dari mubasyirat muridnya inilah kemudian menjadi titik awal (starting Point) dalam proses tersusunnya Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan.
Dalam al-Mubasyirat tersebut, sang murid berada di Raudhah (makam) Rasulullah shallallaahu `alaihi wa sallam. Lalu, dengan tiba-tiba sang murid merasa kagum dan juga kaget, karena ia melihat kitab Hizib Nahdlatul Wathan yang telah di susun oleh Sulthaanul Aulia Al-`Aalim Al-`Allamah Al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid berada di atas Raudhah (makam Rasul). Lalu, Rasulullah Shalallaahu `alaihi wa sallam berkata dan menitip pesan kepada sang murid dengan mengatakan;
“ Salam saya kepada gurumu (Syaikh Zainuddin) dan katakan juga agar segera membuat sebuah tarekat”.

Keesokan harinya, sang murid datang menghadap Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid untuk menyampaikan pesan Rasulullah tersebut. Merespons isi pesan yang berasal dari Rasul itu, maka beliau sempat merasa terkejut dan termenung juga. Karena menurutnya, menyusun sebuah tarekat itu adalah suatu hal yang sangat berat dan hal itupun adalah merupakan suatu tugas yang diberikan pada para wali yang setingkat wali Quthub.
Selanjutnya, sebagai dorongan yang lebih keras lagi adalah ketika Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid mendapatkan tugas sebagai Pimpinan Haji (Amirul Haj), tepatnya saat sedang beribadah di Masjid Nabawi di Madinah al-Munawwarah. Di tempat suci itu, beliau di datangi oleh seorang tua mengenakan sorban putih– yang kemudian diyakini sebagai Nabi Khidir `alaihissalam pemilik rahasia ilmu pengetahuan—mendekati beliau. Lalu berkata; menyampaikaan salam dari Nabi Ibrahim `alaihissalam yang menyatakan;

BACA JUGA  MILAD IAIH NW PANCOR KE 41 DENGAN TEMA MENJADI MILINIAL YANG RELIGIUS, BERBUDAYA DAN BERKEMAJUAN

“Bahwa Nahdlatul Wathan ( NW ) akan menjadi organisasi yang lengkap dan sempurna, apabila ia telah memiliki tarekat, maka hendaklah membentuk perkumpulan tarekat.”
Dan pada klimaksnya, setelah mendapatkan berbagai bentuk dorongan spiritual (bathin) yang bertubi-tubi, sebagaimana disebutkan diatas, maka Maulana syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid memulai mencoba mengarahkan konsentrasinya dalam penyusunan tarekat yang dimaksudkan dengan penuh motivasi dan selesai pada tahun 1967 M.

Dengan demikian, tercatatlah dalam tinta sejarahnya, untuk prosesi penyusunan tarekat Hizib Nahdlatul Wathan ini, terhitung sejak tahun 1964 M dan dapat diselesaikan dengan lengkap pada tahun 1967 M.
Tekait dengan keterlibatan Rasulullah Shallallaahu`alaihi wa sallam dan Nabi Khidir `alaihissalam dalam prosesi kelahiran Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan itu, dapat kita telusuri dari penegasan beliau sendiri yang telah direkam dan tertuang dalam buku Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru, yang merupakan karya langsung dari Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid berikut ini ;

”Thariqat Hizib thariqat terakhir
Dengan bisyarah ”al-Basyirunnadzir”
Kepada Bermi al-Faqir al-Haqir
Dan ditaukidkan oleh al-Hidir ”
—————–
Banyak sekali bisyarah nan nyata
Untuk jama`ah thariqat kita
Dari anbiya` dan dari aulia`
Menjadi bukti menjadi fakta ”. 25

Dengan memperhatikan untain bait Sya`ir Wasiat di atas, maka setidaknya dapat kita ambil tiga hal penting sebagai suatu penegasan Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid terhadap keberadaan Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan. Tiga hal penting yang dimaksudkan, yaitu; Pertama, terkait dengan penyebutan terhadap Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan sebagai sebutan ” Tarekat Akhir Zaman”, tidaklah direkayasa. Dengan menyebut istilah tarekat terakhir di sini, maka jelaslah pula konotasi makna tehadap Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan itu adalah sebagai tarekat yang berada terakhir di akhir zaman ini dan akan menjadi anutan yang tepat bagi orang-orang yang berada atau hidup diakhir zaman ini juga. Disamping itu pula, bahwa keberadaan Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan ini adalah sebagai tarekat terakhir, karena keberadaannya adalah menjadi tarekat penutup terhadap kemunculan tarekat-tarekat Mu`tabarah yang lainnya.

Lalu, sebagai mafkhum mukhafahnya adalah seolah tidaklah akan muncul lagi tarekat-tarekat mu`tabarah baru yang lainnya.
Kedua, penyebutan “Dengan bisyarah ”al-Basyirunnadzir” Kepada Bermi al-Faqir al-Haqir. Kalimat ini mengandung arti, dengan petunjuk al-Basyir an-nadzir, yakni baginda Rasulullah Shallallaahu `alaihi wa sallam yang ditujukan kepada Bermi, yakni Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang kelahirannya di kampung Bermi Pancor. Dan untuk pemaknaan pada kalimat al-Faqir al-Haqir, sebagai bentuk kalimat tawadhu` (merendahnya Maulana Syaikh).
Pernyataan diatas, sangat memperkuat tesis yang penulis munculkan sebelumnya, bahwa adanya al-Mubasyirat dari seorang murid Maulana syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang menyebutkan bahwa ia berada di Raudhah (makam) Rasulullah Shallallaahu `alaihi wa sallam. Lalu, dengan tiba-tiba sang murid merasa kagum, karena ia melihat kitab Hizib Nahdlatul Wathan yang telah di susun oleh Maulana Syaikh berada di atas Raudhah. Lalu, Rasulullah berkata dan menitip pesan kepada sang murid dengan mengatakan;

“ Salam saya kepada gurumu (Syaikh Zainuddin) dan katakan juga agar segera membuat sebuah tarekat”.
Ketiga, penyebutan; “Dan ditaukidkan oleh al-Hidir ” mengandung arti, dikuatkan oleh Nabi Khidir `alaihissalam. Pernyataan inipun memperkuat tesis diatas bahwa ketika beliau mendapatkan tugas sebagai Amirul Haji, tepatnya saat sedang beribadah di masjid Nabawi di Madinah. Di tempat suci itu, beliau di datangi oleh seorang tua mengenakan sorban putih– yang kemudian diyakini sebagai Nabi Khidir `alaihissalam pemilik rahasia ilmu pengetahuan—mendekati Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Lalu berkata; menyampaikaan salam dari Nabi Ibrahim `alaihissalam yang menyatakan; bahwa Nahdlatul Wathan ( NW ) akan menjadi organisasi yang lengkap dan sempurna apabila ia telah memiliki tarekat, maka hendaklah membentuk perkumpulan tarekat.