Maulana Syaikh Pahlawan Nasional NTB: Realitas yang Patut Disyukuri

banner post atas

 

Oleh: Dr. H. Abdul Fattah, M.Fil.I
> Plt. Sekwil PW NW NTB (Akademisi UIN Mataram)

Satu-satunya pahlawan nasional yang berasal dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga tahun 2020 ini adalah TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang lebih masyhur dikenal sebagai “Maulana Syaikh”. Penyerahan plakat tanda gelar pahlawan diserahkan Presiden kepada para ahli waris sesuai dengan petunjuk presiden kepada Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan berkenaan dengan hasil sidang III pada 19 Oktober 2017, yang selanjutnya dituangkan ke dalam Surat Keputusan Presiden Nomor 115/TK/2017 tentang Penganugerahan Pahlawan Nasional. Fakta ini harus disyukuri, (bahkan menjadi “kebanggaan bersama”) oleh warga NTB tanpa memandang agama, suku, dan organisasi kemasyarakatan. Maulana Syaikh merupakan milik seluruh komponen masyarakat NTB.

Iklan

TGKH. Zainuddin Abdul Madjid dinilai telah membangun banyak pondok pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan keagamaan (Islam) lainnya. Sepanjang hidupnya, Beliau terus berjuang memberikan bekal pendidikan kepada anak-anak muda pada zamannya, adalah kehebatan luar biasa yang tidak dimiliki oleh orang lain. Prof. Anhar menggarisbawahi tentang kepahlawanan Maulana Syaikh; “Beliau memiliki keperdulian yang tinggi kepada masyarakat untuk bisa keluar dari kebodohan dan keterbelakangan. Inilah nilai-nilai kepahlawanan yang terpenting dan sesungguhnya”.

Pendidikan keagamaan di daerah NTB khususnya, mengalami kemajuan yang signifikan menjelang abad ke-19 M, setelah situasi kehidupan keagamaan mulai cerah. Pusat-pusat pendidikan dengan sistem pegajian mulai tumbuh dan berkembang seperti di Batu Bangka daerah Sakra Lombok Timur di bawah asuhan Haji Ali, di Praya Lombok Tengah di bawah pimpinan Guru Bangkol, di Sesele Lombok Barat, di bawah pimpinan Tuan Guru Haji Amin, di Sekarbela Lombok Barat di bawah pimpinan Tuan Guru Haji Musthafa. Anak-anak selain belajar al-Qur’an, juga diajarkan tentang ushul fiqh. Bagi orang orang dewasa, ditambah dengan pelajaran tasawwuf. Bahkan sudah mulai diajarkan pelajaran dasar-dasar Bahasa Arab dan gramatikanya.

Dalam suasana dan kondisi pendidikan seperti itu, muncul pesantren al-Mujahidin. Pesantren ini didirikan di kampung Bermi, Desa Pancor Lombok Timur pada tahun 1934 M oleh Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, setelah setahun ia kembali dari Tanah Suci Makkah. Proses belajar mengajar di pesantren ini berlangsung dari pukul 05.00-06.00 WITA, yang di khususkan untuk masyarakat dari kalangan orang-orang tua dan dewasa. Mereka juga di sediakan waktu pada malam hari. Adapun untuk anak-anak muda dan remaja pelajaran di mulai dari pukul 14.00-17.00 WITA. Pesantren al-Mujahidin, pertama-tama dimaksudkan sebagai pilot projek dengan menggunakan sistem “halaqah”. Di sampinng itu, dimaksudkan untuk mengantisipasi masyarakat terhadap kebutuhan masa depan dalam bidang pendidikan Islam.

BACA JUGA  Renungan Seorang Musafir : 5 obat Hati

Pada prinsipnya, kemunculan pesantren al-Mujahidin tersebut dimotori dan saat itu didorong oleh suasana dan kondisi umat Islam khususnya di pulau Lombok yang masih amat terbelakang dalam segala hal sebagai akibat dari tekanan pemerintah Kolonial Belanda dan lamanya kerajaan Hindu-Bali bercokol di daerah NTB. Penamaan Pesantren al-Mujahidin ini tidak terlepas dari suasana psikologis bangsa Indonesia saat itu yang sedang berjuang melawan penjajah, termasuk melalui jalur pendidikan Islam. Kesemua ini menegaskan bahwa Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, sesungguhnya memiliki andil dan peran besar bagi perjuangan kemerdekaan RI, serta revitalisasi khazanah Pendidikan Islam yang masih terpuruk, khususnya di Indonesia.

Jihad dan ijtihad TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid untuk melengkapi pendidikan di lingkungan NWDI dan NBDI, tidak pernah berhenti. Selanjutnya, Beliau mendirikan Perguruan Tingkat Tinggi yaitu Akademi Paedagogik yang resmi didirikan pada tahun 1964. Begitu juga, pada tahun 1965 dibuka perguruan tinggi non formal yang khusus mengkaji kitab-kitab klasik ataupun modern, yaitu Ma’had Darul Qur’an wal Hadits al-Majidiyah asy-Syafi’iyah yang diperuntukkan untuk laki-laki, menyusul 9 tahun kemudian berdirilah Ma’had Darul Qur’an wal Hadits untuk perempuan.

Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid mendirikan Universitas Hamzanwadi dan menjadi Rektor pada lembaga yang didirikannya tersebut pada tahun 1977. Universitas Hamzanwadi terdiri dari 4 fakultas, yaitu:
1) Fakultas Tarbiyah Hamzanwadi dengan jurusan Pendidikan Agama Islam pada tahun 1977.
2) Fakultas Syari’ah Hamzanwadi dengan jurusan Muamalat didirikan pada tahun 1978.
3) Fakultas Dakwah Hamzanwadi dengan jurusan Komunikasi Penyiaran Agama Islam (KPI) pada tahun 1978.
4) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Hamzanwadi dengan jurusan Bimbingan Konseling, Jurusan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, MIPA, dan IPS, pada tahun 1978.

Pada perkembangan selanjutnya, lembaga-lembaga tersebut berubah menjadi Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama Nomor SK.E/216/1996 Tanggal 17 Desember 1996. Selanjutnya pada tahun 1987, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid juga mendirikan Perguruan Tinggi di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), yang diberi nama Universitas Nahdlatul Wathan. Tahap awal terdiri dari 4 (empat) fakultas, yaitu:
1) Fakultas Pertanian, jurusan Teknologi Pertanian dan Budidaya Pertanian,
2) Fakultas Ilmu Administrasi, jurusan Administrasi Negara dan Administrasi Niaga,
3) Fakultas Sastra, jurusan Sastra Indonesia, Sastra Inggris, dan Sastra Asia Barat/Sastra Arab,
4) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Jurusan Matematika dan Biologi.

BACA JUGA  SYAIR INSPIRATIF (60) MANFAAT MENGHAFAL AL QURAN

Keempat Fakultas dan Jurusan tersebut memperoleh ijin pertama dengan status Terdaftar berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Dengan Surat nomor: 0389/0/1991 tertanggal 22 Juni 1991 dan diperpanjang ijin penyelenggaraannya pada tahun 2005 dan 2006. Kini, Universitas Nahdlatul Wathan Mataram telah memiliki sejumlah fakultas tambahan yakni: (1) Fakultas Peternakan, dengan Program studi Produksi Ternak dan Nutrisi Makanan Ternak, (2) Fakultas Agama Islam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, (3) Fakultas Ilmu Kesehatan, dan (4) Fakultas Hukum. Universitas ini dikelola di bawah Yayasan Pondok Pesantren Darul Mujahidin Mataram. Selain universitas, yayasan tersebut juga mengelola madrasah dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini hingga Menengah Atas.

Dengan berdirinya institusi-institusi tinggi tersebut lengkaplah media pendidikan yang dikelola. Dan untuk memudahkan pengelolaan institusi yang ada di Pancor, dibentuklah suatu badan pendidikan yang dinamai Yayasan Pendidikan Hamzanwadi Pondok Pesantren Darunnahdhatain Nahdhatul Wathan (YPH PPD NW) Pancor, pada tahun 1982, sesuai Akte Notaris Nomor 244 tanggal 27 Desember 1982 dan keputusan Pendiri Yayasan Pendidikan Hamzanwadi Nomor Istimewa tahun 1982 tentang Pembentukan Yayasan dan Pelimpahan Wewenang, Tugas Serta Tanggung Jawab. Kecuali Mataram dikelola oleh suatu badan yaitu Yayasan Pendidikan Darul Mujahidin Nahdlatul Wathan.

Selain itu, TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid juga ikut aktif mendorong pembentukan lembaga pendidikan Tinggi Negeri yang ada di Nusa Tenggara Barat, salah satunya Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram, yang kini (pada tahun 2017) sudah berubah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram. Tampaknya tidak berlebihan jika Prof. Dr. Djoko Suryo (Guru Besar Sejarah Universitas Gadjah Mada) menyematkan TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sebagai “Perintis pejuang pendidikan kebangsaan Indonesia berbasis kearifan lokal”. (Rahman)