Oleh: Hasan Asy’ari, QH
(Khodim Ma’had Al-Qur’an Fityanul Ulum, Cinere)
Empat tahun sudah Ma’had Al-Qur’an Fityanul Ulum berdiri dengan tekad yang kuat: menjadi lembaga pendidikan yang menanamkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) sekaligus menyiapkan Sumber Daya Manusia unggul bagi agama dan bangsa. Dalam usianya yang relatif muda, Ma’had ini tumbuh menjadi salah satu oase ilmu dan keteladanan di tengah hiruk-pikuk kehidupan perkotaan.
Didirikan di bawah bimbingan khodimnya, Ustaz Hasan Asy’ari, QH — alumni Ma’had Darul Qur’an wal Hadits (MDQH) NW Pancor — Ma’had ini berkomitmen kuat untuk menjadi tempat yang memadukan kajian keislaman klasik dengan semangat kebangsaan modern. Visi ini diterjemahkan dalam bingkai moderasi beragama, di mana ilmu dan akhlak berjalan seiring, dan perbedaan menjadi kekayaan, bukan pemisah.
Menjaga Tradisi, Menyapa Zaman
Misi utama Ma’had Al-Qur’an Fityanul Ulum adalah menghadirkan sistem pembelajaran yang terbuka terhadap isu-isu keislaman kontemporer, tanpa meninggalkan khazanah keilmuan masa lalu. Setiap harinya, para santri belajar bersama tenaga pengajar yang kompeten — sebagian besar lulusan magister dari berbagai perguruan tinggi Islam di Jakarta. Diskusi keagamaan, kajian kitab, dan kelas tematik berjalan dinamis, membangun karakter berpikir kritis namun tetap beradab.
Tak berhenti di ruang kelas, Ma’had juga aktif menyelenggarakan seminar, bedah buku, dan pelatihan kader dai yang kemudian bersafari dakwah pada bulan Ramadhan ke berbagai daerah. Kegiatan ini melatih para santri menjadi juru dakwah yang peka terhadap realitas sosial, membawa risalah Islam yang ramah dan menyejukkan, bukan yang kaku dan memecah-belah.
Menjalin Ukhuwah, Melampaui Sekat
Salah satu ciri khas Ma’had ini adalah keberaniannya menjalin komunikasi lintas mazhab bahkan lintas agama. Dengan semangat kebangsaan, para santri diajak untuk berdialog, memahami perbedaan, dan menguatkan titik-titik persamaan. Di sinilah moderasi beragama bukan sekadar teori, melainkan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Seperti pesan para guru mulia, “Kita tidak bisa menutup mata atas keberagaman; justru dari sanalah kita belajar membangun bangsa yang kokoh dan damai.”
Lumbung SDM Organisasi dan Bangsa
Dalam perkembangannya, Ma’had Al-Qur’an Fityanul Ulum menjadi salah satu lumbung kader yang menyiapkan SDM bagi organisasi NWDI. Melalui berbagai kerja sama, Ma’had membantu para santri mendapatkan beasiswa studi S1, sekaligus mendampingi mereka dalam proses pengabdian sosial dan organisasi.
Kini, banyak alumni Ma’had yang aktif di berbagai lini — dari kepengurusan Himmah NWDI Jakarta, Pemuda NWDI, hingga kiprah di dunia politik, pendidikan, dan dakwah sosial. Mereka membawa semangat khidmah dan nilai-nilai Aswaja ke tengah masyarakat.
Pesan dari Guru Mulia
Kehadiran Ma’had ini di tengah kota menghadirkan suasana unik: kehidupan urban yang berpadu dengan kultur pesantren. Saat kunjungannya, Syaikh TGB Dr. Muhammad Zainul Majdi berpesan agar Ma’had ini menjadi tempat penguatan ajaran Aswaja yang mampu berdialog dengan zaman, serta menjadi sumber pancaran ilmu dan amal yang mempererat persatuan umat dan mendukung kemajuan bangsa.
Pesan itu menjadi kompas moral bagi seluruh civitas Ma’had. Bahwa perjuangan keilmuan dan kebangsaan tidak pernah boleh berhenti. Dari pesantren kecil ini, harus lahir generasi yang cerdas, berakhlak, dan siap memimpin peradaban.
Penutup
Empat tahun perjalanan bukan waktu yang lama, namun cukup untuk menanam akar yang kokoh. Ma’had Al-Qur’an Fityanul Ulum telah membuktikan bahwa nilai-nilai Aswaja bisa hidup dengan indah di tengah tantangan zaman.
Jayalah terus Ma’hadku,
Semoga panjang usiamu,
Bermanfaat dan berguna
Bagi agama, bangsa, dan sesama.




