Kyai Hamzanwadi, Pahlawan Nasional Pengangkat Harkat Martabat Bangsa

Kyai Hamzanwadi, Pahlawan Nasional Pengangkat Harkat Martabat Bangsa

 

Oleh: Abdurrahman
> Wakil Ketua V PW Pemuda NW NTB

Banyak saksi sejarah yang memberikan kesaksian dan banyak literatur yang menggambarkan dan menjelaskan bagaimana pola kehidupan Almagfurlahu Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid dan kontribusi besarnya terhadap agama, nusa dan bangsa. Dalam konteks keislaman beliau merupakan Ulama sekaligus Waliyullah yang terkemuka di Provinsi Nusa Tenggara Barat disebabkan keilmuannya yang amat luas dan mendalam serta karomahnya baik semasa hidup maupun setelah beliau wafat. Kita tau bagaimana kondisi Lombok Nusa Tenggara Barat pada masa tempo dulu yang di kenal dengan masyarakat yang melekat dengan kepercayaan animisme dan benda-benda mati. Hal itu tergambar dalam buku Wasiat Renungan Masa karya TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid (Kyai Hamzanwadi).

“Bahwa di Lombok sebelum ini
Paham animis anutan asli
Sewaktu-waktu didatangi da’i
Akhirnya lahir Sultan Rinjani”

Paham dan kepercayaan tersebut merupakan ciri masyarakat Lombok saat itu. Hingga hadir Maualana Syaikh Kyai Hamzanwadi dan para Ulama lainnya yang meluruskan segala paham dan kepercayaan yang bertentangan dengan syariat islam yang selama ini di anut oleh masyarakat lombok. Pendekatan dakwah yang dilakukan oleh Maulana Syaikh selama hidupnya setidaknya ada dua pendekatan diantaranya adalah pendekatan Kultural dan pendekatan Struktural. Pendekatan dakwah beliau secara kultural tergambar dari cara dakwah yang dilakoni oleh beliau dengan berkeliling dakwah hingga ke pelosok-pelosok desa untuk memberikan pengetahuan dan ajaran islam yang Rahmatan Lilalamin kepada masyarakat dan mendirikan madrasah-madrasah tempat mendidik para santri.

Berawal dari pondok pesantren Al-Mujahidin pada tahun 1934 M. kemudian pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1356 H/22 Agustus 1937 M. beliau mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI). Madrasah ini khusus untuk mendidik kaum pria. Kemudian pada tanggal 15 Rabiul Akhir 1362 H/21 April 1943 M. beliau juga mendirikan madrasah Nahdlatul Banat Diniah Islamiyah (NBDI) khusus untuk kaum wanita. Kedua madrasah ini merupakan madrasah pertama di Pulau Lombok yang terus berkembang dan merupakan cikal bakal dari semua madrasah yang bernaung di bawah organisasi Nahdlatul Wathan *(Perjuangan dan Pergulatan TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid 1908-1997). Kedua madrasah ini juga yang kemudian melahirkan banyak para Dai dan Tuan Guru di Lombok yang hingga generasi hari ini merasakan manfaat kehadiran mereka di tengah-tengah ummat.

Sedangkan pendekatan dakwah beliau secara Struktural nampak ketika beliau menjadi Anggota Konstituante hasil Pemilu 1955, Anggota Fraksi Alim Ulama di DPRGR, Anggota MPR RI dari partai Golkar hasil Pemilu 1971 dan 1977, Anggota MPR RI Fraksi Utusan Daerah hasil Pemilu 1982, Amirul Hajj ke Makkah dari NIT (Negara Indonesia Timur) tahun 1947-1984, Anggota Delegasi NIT ke Saudi Arabia tahun 1948-1949, Anggota Penasehat MUI tahun 1971-1982 *(Pemikiran dan Kiprah Politik TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid). Seluruh jabatan struktural yang beliau emban sepenuhnya dalam rangka menjalankan dakwah untuk kemaslahatan agama, nusa dan bangsa. Bagi Kyai Hamzanwadi banyak hal-hal besar yang baik untuk ummat yang hanya bisa diselesaikan dengan keterlibatan langsung secara struktural di pemerintahan. Kedua pendekatan dakwah tersebut rupanya memberikan dampak perubahan besar bagi masyarakat lombok dan NTB pada umumnya hingga saat ini. Dari masyarakat yang memiliki kepercayaan animisme menjadi masyarakat yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, dari masyarakat yang terbelakang menjadi masyarakat yang memiliki peradaban.

Selain dalam konteks keislaman sebagai Ulama terkemuka, sosok Kyai Hamzanwadi juga kita bisa melihatnya dalam konteks Nasionalisme Keindonesiaannya. Beliau merupakan sosok Pejuang dan tokoh Nasionalis ulung. Hal itu tergambar dari Wasiat Renungan Masa karangan beliau:

Sasak yang tulen Nasionalisnya
Selalu dituduh sukuisme-nya
Sungguh penuduh sukuesme buta
Penuh buktinya di sana di sini

Negara kita berpancasila
Berketuhanan Yang Maha Esa
Ummat Islam yang paling setia
Tegakkan sila yang paling utama

Hidupkan iman hidupkan taqwa
Agar hiduplah semua jiwa
Cinta teguh pada agama
Cinta kokoh pada Negara

Dari butiran wasiat tersebut, memberikan gambaran bahwa konsep perjuangan beliau secara garis besar ada dua yakni Keislaman dan Kebangsaan. Sehingga dalam kalangan Nahdiyin sangat populer ungkapan “Hubbul Wathan Minal Iman” Cinta Tanah Air bagian dari Iman. Kalimat ini merefleksikan bahwa perjuangan keislaman itu senafas dengan perjuangan kebangsaan dan itulah konsep yang di terapkan oleh Almagfurlahu Maulana Syaik Kyai Hamzanwadi.

Peran Maulana Syaikh Kyai Hamzanwadi dalam melawan kaum penjajah bisa kita temukan dalam berbagai literaur sejarah. Berdasarkan kesaksian dari TGH. Nursaid dan H. Zainudin, seperti tertulis dalam kumpulan biografi singkat Calon Pahlawan Nasional TGKH M Zainuddin Abdul Madjid, dalam pendidikan, politik, dan transformasi sosial masyarakat Indonesia 2017. Bahwa sebelum terjadi penyerangan Markas Gajah Merah milik Tentara NICA tahun 1946 oleh Pejuang Rakyat dari Pancor. Maulana Syaikh memimpin rapat bersama para Laskar yang di pimpin oleh TGH. Faisal yang merupakan adik kandung beliau.

Dalam rapat, Maulana Syaikh menyampaikan beberapa hal. Pertama, harus melakukan penyerangan lebih awal ke markas NICA, sebelum NICA menangkap para pejuang, khususnya orang-orang yang aktif mengajar di madrasah. Kedua, perkuat iman dan niat dalam berjuang bahwa perjuangan ini adalah dalam rangka menegakkan agama Allah, dan mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamasikan. Ketiga, strategi harus betul-betul tepat.

Dari kesaksian sejarah tersebut menujukkan bahwa TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid merupakan tokoh utama dibalik penyerangan Markas NICA dan perjuangan melawan penjajah di Lombok. Sehingga wajar kemudian Pemerintah Indonesia mempersembahkan gelar Pahlawan Nasional kepada beliau sebagai penghargaan tertinggi dari negara atas perjuangan beliau dalam mendidik ummat melalui Madrasah dan Pondok Peantren yang beliau dirikan serta menjadi pelopor perjuangan dalam melawan penjajah di Lombok Nusa Tenggara Barat.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA