Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
الحمد لله الذي لين قلوب عباده عند وجود الزلل .و الصلاة و السلام على نبينا محمد ، واله وصحبه اجمعين اما بعد
Yang terhormat : Pengurus Masjid…., para hujjaj, para asatidz dan segenap jamaah shalat isya dan tarawih yang dirahmati Allah SWT.
Puji dan syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah melunakkan hati hambanya yang sedang dalam amarah, emosi, dan sedang menghadapi berbagai guncangan saat menghadapi hiruk pikuk konflik pada kehidupan sehari-hari di atas dunia.
Shalawat dan salam semoga terus tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang telah mencontohkan kepada kita tentang bagaimana menghadapi dan menyikapi berbagai bentuk permasalahan dan konflik yang sedang dilanda oleh umat manusia.
Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia
Saat menjalankan ibadah puasa, bukan hanya membatasi makan dan minum, melainkan juga menenangkan hati dan menjaga sikap untuk menghindari konflik dan berusaha tetap stabil dalam mengontrol emosi.
Menjaga hati tetap tenang dan positif bisa menjadi suatu tantangan, terutama ketika dihadapkan pada situasi yang kurang menyenangkan. Disini akan kita coba memberikan tips tentang bagaimana menjaga ketenangan hati saat berpuasa dan saat menghadapi konflik.
Pertama: Menganggap Konflik Sebagai Peluang. Meningkatkan Kualitas Diri Ketika sedang dihadapkan pada konflik atau situasi sulit, dipandang sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri. Berpuasa bisa membantu mengendalikan emosi dan perilaku kita, sehingga bisa merespons situasi kurang menyenangkan dengan bijaksana dan sabar. Tidak ada hal yang sia-sia saat mencoba mengendalikan emosi di tengah situasi yang sulit.
Kedua: Melakukan Refleksi Diri Secara Teratur. Berpuasa tidak hanya akan membantu kita menahan diri dari godaan makanan atau minuman selama Ramadhan, tetapi juga membantu melakukan introspeksi dan refleksi diri. Ketika berhadapan dengan konflik atau situasi kurang menyenangkan, yang diperlukan adalah introspeksi diri yang lebih dalam lagi.
Mencari momen tenang di suatu tempat untuk merenungkan diri dan mencari tahu apa yang menyebabkan emosi kita tidak stabil. Dari sinilah akan bisa disadari bila ada sikap atau tindakan yang kurang tepat. Sehingga kita mampu merenungi dan memperbaikinya.
Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia
Ketiga: Berkomunikasi Dengan Baik dan Benar. Seseorang dengan ketenangan hati selalu bisa mengendalikan dirinya saat berbicara, mencari kata-kata yang baik dan benar. Berbicara dari hati ke hati, tidak terburu-buru di dalam mengutarakan pernyataan. Mendengarkan terlebih dahulu apa yang orang lain katakan. Mencoba untuk menempatkan diri pada posisi orang lain. Menjaga empati dan berbicara dengan bahasa yang baik selalu menjadi solusi meskipun dalam situasi konflik.
Hal penting yang harus diperhatikan adalah Dampak buruk menggunakan sosial media ketika menghadapi konflik, sebaiknya jangan terlalu sering memposting pernyataan-pernyataan yang menyudutkan atau mengkritik orang lain dalam media sosial. Selain tidak akan membawa solusi, hal tersebut bisa menimbulkan masalah yang lebih besar dan lebih sulit untuk diselesaikan nantinya. Menjaga sikap profesional dan tidak membiarkan emosi yang sedang memuncak merusak konflik yang ada.
Intinya, menjaga ketenangan hati selama berpuasa dan saat menghadapi konflik bukanlah hal yang mudah. Ketika kita bisa menjaga sikap dan tutur kata, tentunya bukan tidak mungkin salah satu konflik yang ada bisa di selesaikan dengan jalan damai.
Mudahan apa yang telah disampaikan tadi ada manfaatnya bagi saya dan para pendengar yang berbahagia. Manfaat yang bisa diperoleh dan dinikmati di dunia dan akhirat.
Demikian kultum yang bisa saya sampaikan pada malam ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya bagi kita semua.
Wallahul mafiq Wal Haadi ilaa Sabilirrasyad
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Oleh: Muhammad Fathi



