Kisah Inspiratif Pemuda Lombok Barat, Ketulusan seorang Murid Dalam Menimba Ilmu di Kota Tarim, Yaman

Kisah Inspiratif Pemuda Lombok Barat, Ketulusan seorang Murid Dalam Menimba Ilmu di Kota Tarim, Yaman

Sinar5news.com – Jakarta – Siang itu tampak seperti hari biasanya, teriknya panas matahari kota Tarim menyentuh kulit para penuntut ilmu dengan seragam jubah putihnya. Para masyaikh berdiri dengan penuh wibawa memimpin proses belajar mengajar di dalam kelas. Begitulah sedikit gambaran waktu siang hari di kota Tarim, Hadromaut, Yaman. Kota yang dikenal dengan julukan “Kota Para Wali”.

Diantara para pelajar, terlihat sosok pemuda dengan tubuh ramping mengenakan jubah putih sedang memperhatikan dengan seksama semua hal yang terucap dari lisan seorang Syaikh yang sedang menjelaskan materi pembelajaran. Pemuda tersebut bernama lengkap Lalu Abdul Rosyid Ma’ruf atau biasa disapa Ocit. Setelah jam pelajaran selesai, Ocit langsung menemui Syaikh tadi dan mengungkapkan keinginannya untuk bisa mendapatkan waktu pelajaran ekstra, alasannya adalah karena Ia masih membutuhkan bekal ilmu yang lebih banyak lagi untuk bisa disebar di kampung halamannya di Lombok, NTB.

Syaikh itu pun tersenyum mendengar keinginan Ocit tadi, kemudian ia memerintahkan Ocit untuk datang ke rumahnya yang berada di salah satu bukit di daerah Hadromaut pada malam hari. Singkat cerita, Ocit pun melaksanakan perintah Syaikh itu. Setelah tiba di kediaman Syaikh, Ocit diminta untuk membuka bajunya oleh Syaikh tersebut. Seketika Ocit pun kebigungan, namun karena rasa taatnya kepada syaikh Ia pun segera melaksanakan perintah tersebut. Tak lama setelah itu Syaikh menyuruh Ocit untuk menghadap tembok dan meletakkan tangannya disana. Dengan keadaan setengah telanjang di suatu gubuk di bukit yang jauh dari keramaian, rasa bingung ocit kian tumbuh, bahkan rasa bingung tersebut sekarang bercampur dengan rasa takut.

Belum sempat Ocit menjernihkan pikirannya tibatiba satu pukulan rotan mendarat di punggung Ocit yang pada waktu itu tak tertutup sehelai kain pun. Ocit mengerang kesakitan. Namun bukannya menghentikan pukulannya, Syaikh malah menambah pukulan tersebut hingga berkali-kali. Punggung Ocit kini dipenuhi luka memar. Setelah kejadian tersebut, Syaikh memerintahkan Ocit untuk memasang bajunya kembali dan segera kembali ke asrama tempat tinggalnya.

Setelah tiba di Asrama, Ocit masih berjibaku dengan rasa bingungnya. Alasan apa yang dimiliki Syaikh hingga Ia sampai melakukan hal tersebut pada dirinya?. Pertanyaan itu terus berputar di pikirannya, hingga rasa kantukpun menyerang dirinya. Ketika ingin membaringkan diri di atas kasur, ternyata punggungnya terlalu sakit untuk dijadikan tumpuan untuk berbaring, begitu pula yang terjadi ketika Ia berusaha untuk bersandar di tembok. Karena keadaan tak mendukung untuk istirahat, Ia pun mengambil kitab di rak bukunya kemudian menjalani malam dengan belajar.

Disaat Ia hanyut dalam belajar, suatu pemikiran pun hadir dalam dirinya. Ternyata maksud Syaikh memukul punggungnya hingga terluka adalah seperti ini, agar malamnya dihabiskan untuk belajar. Setelah kejadian tersebut, akhirnya Ocit memutuskan untuk mengurangi waktu istirahatnya dan memaksimalkannya untuk membuka kitab dan terus belajar lebih giat lagi. Hingga kini Ocit masih memperjuangkan waktunya untuk belajar di kota Tarim.

Di tahun 2015 lalu Ia terpaksa pulang kampung dikarenakan keadaan yaman yang kurang kondusif akibat konflik. Pada waktu itu, Ia memaksimalkan waktunya untuk menyebarkan ilmu yang telah Ia dapatkan di Yaman. Dalam kegiatan mengajarnya,  Ocit menggunakan metode pengajaran yang menarik. Hal ini membuat ia menjadi salah satu pengajar terfavorit di Pondok Pesantren tempatnya belajar dahulu di Lombok. Begitu banyak murid yang mencintai Ocit hingga ia dijuluki sebagai seorang inspirator, motivator, serta mentor bagi para muridnya.

Begitulah Allah SWT, terkadang banyak hal istimewa yang Ia berikan kepada Hamba-hambanya. Saking spesialnya, akal manusia pun tak mampu menjangkaunya. Di dalam Al-Qur’an sendiri Allah telah mengabadikan kejadian yang mirip seperti kisah diatas, yaitu di dalam surah Al-Kahfi ayat 60-82. Dijelaskan dalam ayat-ayat tersebut ketika Nabi Musa berguru kepada Nabi Khidir, namun Nabi Khidir selaku guru malah melakukan banyak hal di luar logika manusia normal yang membuat Nabi Musa selalu kebingungan bahkan menyangkal tindakan-tindakan tersebut.

Hingga di akhir perjumpaan, Nabi Khidir menerangkan bahwa semua itu memiliki alasan yang positif dan semuanya berasal dari ilham yang diberikan oleh Allah SWT. Semoga kita mampu menjadi orang yang senantiasa mengoptimalkan akal dan iman dalam berislam, sehingga kita digolongkan oleh Allah SWT ke dalam kelompok manusia yang bergelar ulil albab (Orang-orang yang berakal).

Imam Al-Qutb Abdullah Bin Alwi Al-Haddad: “Andai saja engkau mengeluarkan seluruh hartamu untuk mengunjungi Kota Tarim, maka apa yang engkau dapatkan akan lebih banyak daripada yang kau keluarkan.”

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA