sinar5news.com -Salah seorang guru tahfizh Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan (NW) Jakarta yang bernama Muhammad Azka Ad Dhiya yang saat ini berumur 15 tahun, menyelesaikan hafalan Al Qurannya hanya dalam waktu 7 bulan, subhanallah.

Muhammad Azka Ad Dhiya lahir di Lombok, 14 September 2004 salah seorang putra dari pasangan TGH. Muzammil, QH dengan Laila Intan El Bayati. TGH. Muzammil, QH adalah pimpinan Pondok Pesantren tahfizh Sunan Nurul Huda, Mantang Lombok Tengah NTB.
Menurut Azka (panggilan akrabnya) sudah mampu menghafal Al Quran 30 juz pada usia 10 tahun dalam waktu hanya 7 bulan. Ini merupakan suatu anugrah yang sangat tinggi yang Allah berikan kepadanya. Disisi lain sang ayahnyalah yang langsung menggembeleng Azka, sehingga mampu menghafal Al Quran dalam tempo yang sangat singkat. Ayahnya sangat disiplin membimbing 19 anaknya termasuk Azka, sehingga seluruh keturunnya hafal Al Quran pada usia anak-anak.
Azka bercerita tentang kedisiplinan ayahnya mengajarkan 19 anaknya, sehingga menjadi para penghafal Al Quran yang luar biasa. Kata Azka, “Setiap hari setelah shalat subuh, saya langsung menghafal Al Quran sampai pukul 08.00. Pukul 08.00-09.00 istirahat sambil bermain-main dengan anggota keluarga. Pukul 09.00-11.00 melanjutkan hafalan. Pukul 11.00-12.00 istirahat, shalat dan makan (ISOMA). Selepas shalat zhuhur sampai asar kembali melanjutkan hafalan. Setelah asar sampai magrib mengulangi hafalan yang telah dihafalkan dari pagi. Setelah magrib sampai pukul 22.00 menyetor hafalan lansung ke Ayah saya. Jadi setiap hari saya menghafal Al Quran antara satu sampai dua halaman”. Demikian cerita Azka yang disampaikan secara rinci.
Lebih lanjut Azka menyampaikan, “Sebenarnya menghafal Al Quran itu bisa dilakukan oleh siapa saja dan tidak mengenal batas usia, yang penting ada kemauan, semangat dan sungguh-sungguh, in sya Allah akan bisa hafal dengan sendirinya.” Jadi kepada semua para santri pondok pesantren NW Jakarta dan siapa saja yang membaca tulisan ini, mari kita selalu meluangkan waktu untuk selalu membaca dan menghafal Al Quran (pen).
Di Pondok Pesantren NW Jakarta Azka siap lahir dan batin untuk membimbing para santri yang ingin menghafal Al Quran dengan metode yang cepat. Kata Azka, “Saya menghafal Al Quran tujuan saya bukan untuk mengikuti lomba, walaupun waktu itu saya pernah mengikuti lomba tahfizh hingga tingkat kabupaten dan meraih juara satu, tapi saya tidak melanjutkan ke tingkat provinsi. Saya ingin focus membimbing dan menyebar luaskan hafalan Al Quran ini dan saya meniatkan untuk membimbing santri NW Jakarta. Ini adalah atas permintaan Ust. Drs. Badri, QH, karena kekurangan guru tahfizh. Alahmdulillah orang tua saya merestui untuk mengabdi di Ponpes NW Jakarta.” Demikian Azka menyampaikan dengan tegas, mantap dan penuh yakin.
Ketika Azka ditanya, suasana apa yang paling dirasakan selama menghafal Al Quran dan bagaimana mengulang hafalannya. Dengan tegas Azka menjawab, “Yang saya rasakan adalah suasana tenang dan damai yang luar biasa meliputi segenap jiwa. Dalam sehari saya berusaha untuk mengulang hafalan sebanyak 10 juz, bisa dimana saja dan kapan saja. Sambil duduk, berjalan atau berbaring. Sungguh Al Quran itu sudah mandarah mendaging dalam diri saya, sehingga sulit untuk dilepaskan”.
Semoga kisah inspiratif ini, menjadi penyemangat dan motivasi kepada pembaca untuk semakin akrab dan cinta kepada Al Quran, sehingga Al Quran ini menjadi bacaan harian yang sangat bermanfaat bagi peningkatan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. (Amr)
Jakarta, 25 Rabiul Awal 1441 H./22 November 2019 M.




