Khutbah Jumat : Dakwah Transformatif Oleh : Habib Ziadi, M.Pd (Ketum PD NWDI Loteng)

Khutbah Jumat : Dakwah Transformatif Oleh : Habib Ziadi, M.Pd (Ketum PD NWDI Loteng)

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَ النَّاسَ بِهَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. أَيـُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قُلْ هَـٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّـهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّـهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ .أَمَّا بعد

Hadirin yang dimuliakan Allah

Sebagai makhluk sosial, manusia juga
membutuhkan hal-hal yang bersifat sosial pula. Manusia membutuhkan rasa aman, dihargai, diapresiasi, dicintai, dan
demikian seterusnya. Dan sebagai makhluk spiritual, sudah tentu manusia juga membutuhkan hal-hal yang bersifat spiritual pula, seperti kebutuhan untuk selalu dekat dan intim dengan Tuhan yang menciptakannya.

Lebih jauh dari itu adalah bahwa manusia membutuhkan rasa aman dari hal apa pun yang akan membuat manusia menjadi tidak aman. Sekiranya dakwah dipandang sebagai upaya untuk menyelamatkan manusia dari posisi tidak selamat (tidak berislam) di hadapan Sang Pencipta, maka kebutuhan manusia akan dakwah adalah sesuatu yang alami, manusiawi, dan tidak mengada-ada.
Alloh berfirman :
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”
(QS. Fussilat :33)

Istilah “dakwah” diungkapkan secara langsung oleh Allah SWT dalam ayat-ayat al-Qur’an. Kata “dakwah” di dalam al-Qur’an
diungkapkan kira-kira 198 kali yang tersebar dalam 55 surat (176 ayat). Kata “dakwah” oleh al-Qur’an digunakan secara umum. Artinya, Allah masih menggunakan istilah da’wah ila Allah (dakwah Islam) da’wah ila al-nar (dakwah setan). Oleh karena itu, dalam tulisan ini dakwah yang dimaksud adalah da’wah ila Allah (dakwah Islam).

Dakwah kepada Allah kata TGB M. Zainul Majdi adalah menyambung lidah Rasulullah Saw dan meminjam mimbarnya. Dakwah yang bijak serta bertanggung jawab dan mengedepankan persaudaraan. Dakwah harus mempersatukan yang berserak dan mendinginkan situasi saat tengah hangat.

Para dai dituntut menjadi transformer dalam istilah Kuntowijoyo. Mentransformasikan individu menjadi shalih dan masyaraakt secara kolektif. Dakwah transformatif merupakan model dakwah, yang tidak hanya mengandalkan dakwah verbal (konvensional) untuk memberikan materi-materi agama kepada masyarakat yang memposisikan da‘i sebagai penyebar pesan -pesan keagamaan, tetapi menginternalisasikan pesan-pesan keagamaan ke dalam kehidupan
riil masyarakat dengan cara melakukan pendampingan masyarakat secara langsung. Dengan demikian, dakwah tidak hanya untukmemperkokoh aspek religiusitas masyarakat, melainkan juga memperkokoh basis sosial untuk mewujudkan transformasi sosial.

Hadirin yang dimuliakan Allah

Umat Islam dibombardir dengan menjamurnya teknologi informasi yang muatan nilainya lebih banyak dipengaruhi
oleh masyarakat Barat. Maka kondisi dakwah di Indonesia semakin terpuruk dikarenakan umat Islam belum siap menghadapi kondisi tersebut baik secara mental, skill dan pendayagunaannya. Umat
Islam hanya terjebak dan terpesona dengan kecanggihan teknologi informasi yang datang dan merambah begitu cepat dalam kehidupan masyarakat.

Hadirin yang dimuliakan Allah

Kompleksitas dan multikulturnya kehidupan masyarakat menuntut adanya ruang gerak aktivis dan aktifitas dakwah yang lebih fleksibel, lebih mengena sasaran dakwah, mengedepankan toleransi, dan tidak mengkavling kebenaran sendiri.

Ajaibnya sebagian dai malah hadir mengundang keresahan dan kegaduhan di tengah masyarakat. Tradisi yang sejatinya Islami bahkan berakar di tengah ummat dicibir dan dicemooh. Seperti kasus yang tengah hangat hari ini di Lombok. Apalagi menganggap tradisi itu tradisi maksiat, menyelisihi Islam, dan menjurus ke syirik.

Para dai tidak boleh alergi terhadap perbedaan dan harus bijak saat menghadapi nya. Masyarakatpun perlu dilatih untuk itu. Sebab nash-nash agama sendiri membuka ruang terjadi perbedaan penafsiran. Selama itu masih dalam koridor ijtihadi dan furuiyah, perlu kelapangan hati menerimanya.

Hadirin yang dimuliakan Allah

Masyarakat yang didambakan oleh ummat Islam bukanlah masyarakat yang homogen
status sosialnya, bukan pula memandang status sosialnya tinggi atau rendah, pejabat atau bawahan, kaya atau miskin, melainkan derajat ketaqwaan dari amal ibadah yang dilakukannya. Untuk mencapai
semua itu dalam aktivitas dakwah perlu pendekatan ukhuwwah yang
lebih menghargai dan menghormati harkat dan martabat manusia, memanusiakan manusia, juga menggunakan pendekatan budaya lokal dan penggunaan teknologi informasi sebagai media untuk mencapai sasaran dakwah. Ketiga pendekatan tersebut jika secara serentak dijalankan oleh setiap muslim maka akan tercipta masyarakat muttaqien.

Allah berfirman di dalam ayat-Nya:

وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَـٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٍ۬‌ۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥۤ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ سَيَرۡحَمُهُمُ ٱللَّهُ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ۬

Artinya: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka [adalah] menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh [mengerjakan] yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS At-Taubah [9]: 71).

Para dai belum banyak membangun kajian yang bertitik tolak dari realitas yang ada di
masyarakat. Kejadian-kejadian yang menimpa umat Islam seperti
kemiskinan, kerusuhan, ketidakadilan supremasi hukum, ketimpangan ekonomi, disintegrasi, dan sebagainya belum banyak disuarakan di mimbar-mimbar.

Jadi hari ini ummat menanti dakwah yang lebih membumi. Kajian yang komprehensif dan solutif. Sajian yang menyentuh akar problematika hidup masyarakat. Peran dai bagaimana supaya akidah, akhlak, dan ibadah terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Bukan semata menjadi doktrinal dan ritual.

Sebagai penutup, menyampaikan kebaikan ataupun ajaran agama seluas-luasnya adalah perbuatan yang sangat terpuji dan dianjurkan dalam agama, tapi kita juga harus ingat, ajaran agama juga harus disampaikan dengan cara yang baik dan bijak, apalagi di media sosial yang sangat rentan disalahpahami. Sampaikan dan sebarluaskanlah konten yang maslahatnya sudah jelas, kalau memang masih diragukan, lebih baik ditunda dan ditahan dulu, agar tidak menimbulkan kemudaratan.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِن الآيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA