KH M Suhaidi (Pimpinan Ponpes NW Jakarta) :Berbicara Tentang Korona

banner post atas

Pidato Pimpinan Pesantren NW JKT Tentang Corona

Dalam pidatonya usai pembacaan Hizib tadi malam, kamis malam jum’at 12/3/20 Kiyai H.M.Suhaidi Pimpinan Pesantren NW Jakarta menyampaikan banyak hal terkait virus corona.

Diantara isi pidatonya adalah bahwa salah satu dari tujuan pelaksanaan Hiziban Akbar adalah doa bersama untuk mendoakan bangsa dan negara kita Indonesia supaya terhindar dari virus corona yang sedang melanda berbagai negara, dan menjadi buah pembicaraan dari berbagai kalangan dalam tataran nasional ataupun internasional.

Iklan

Melalui doa bersama Hiziban akbar ini diharapkan, mudah-mudahan Allah yang maha kuasa menjaga Indonesia dari wabah virus corona, serta menghilangkan ketakutan yang ada dalam diri rakyat indonesia.

Dalam pidatonya di acara Hiziban Akbar tersebut, dihadapan para jamaah dan para siswa dari tingkatan SD, SMP dan SMA beserta para guru yang berada dibawah naungan Yayasan Mi’rajush Shibyan NW Jakarta, Kiyai H.M.Suhaidi menyampaikan dengan tegas tentang bagaimana kaum muslimin dalam menyikapi berbagai pandangan tentang virus corona.

Beliu menjelaskan tentang bagaimana cara pandang yang benar terhadap virus corona, dimana cara pandang orang beriman tidak sama dengan orang yang tidak percaya terhadap Allah. Karena orang beriman memiliki sandaran yang kuat yaitu Allah dan Rasulnya, Serta NW mempunyai buku doa khusus yaitu kitab Hizib Nahdlatul Wathan. Maka jangan terlalu takut kepada sesuatu.

Hati-hati itu bagus, waspada juga bagus, yang tidak bagus adalah berlebihan dalam takut terhadap corona padahal kita ini adalah orang yang beriman. Jangan samakan orang yang beriman dengan orang yang tidak beriman, dimana mereka yang beriman itu memiliki tempat sandaran yang kuat. Sedangkan orang yang tidak beriman hampa tidak ada tempat menyandarkan diri.

BACA JUGA  Lebarkan Sayap, Enam DPD Media Independen Online Indonesia NTB Terbentuk

Beliau mengingatkan kepada kaum muslimin supaya tidak melemahkan dirinya dengan sugesti yang salah, seperti sering menyebut dan mengingat tentang keganasan corona, sehingga dengan tanpa sadar, hal tersebut membawanya kepada takut yang berlebihan. Sebaiknya mensugesti diri dengan menggunakan hal yang baik.

Dalam menguatkan argumennya tentang begitu besar pengaruh sugesti, beliau menceritakan tentang kisah sahabat yang berjalan bersama Nabi SAW kemudian kakinya tersandung, sehingga keluar dari mulutnya ucapan suara menyebut “syaitan”. Mendengar hal itu Nabi menegurnya supaya tidak menyebut syaitan, karena hal itu bisa membuatnya menjadi semakin besar. Nabi mengajarkan supaya menyebut nama Allah, karena hal itu bisa membuat syaitan menciut menjadi semakin kecil seperti lalat.

Beliau mengajarkan kepada para jamaah untuk mohon perlindungan kepada Allah dengan membaca doa perlindungan dari bala’ dan musibah. Adapun doa tersebut adalah sebagai berikut;

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Artinya; Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya. (HR. Muslim)

Dan dilanjutkan kepada doa perlindungan yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Al-Tirmidzi

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
( ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ)

Artinya; Dengan Nama Allah yang bersama nama-Nya tidak ada sesuatu di bumi dan di langit yang bisa membahayakan. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (dibaca sebanyak tiga kali (maka) tidak ada sesuatu yang membahayakannya). HR. Abu Dawud dan Al-Tirmidzi. Fath.