Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 5) Mukasyafah Maulana Syaikh

0
203
banner post atas

Guru Besar kita Sulthaanul Aulia Al-`Aalim Al-`Allamah Al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid merupakan seorang ulama yang telah mendapatkan derajat kewalian dan banyak terbuka baginya kasyaf atau ilmu ladunni atas diri beliau, sehingga terbuka pula hijab atau tabir pemisah antara hamba dan Tuhannya. Allah Subhanahu wa ta`ala membukakan tabir bagi beliau sebagai kekasih-Nya untuk melihat, mendengar, merasakan, dan mengetahui hal-hal ghaib.
Sebagai suatu ilmu, mukasyafah sesungguhnya tidak bisa disamakan atau disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain, terutama dengan ilmu eksak yang sering kali menandaskan kajiannya pada prinsip obyektif-nasionalis, sistematis dan empiris. Ilmu mukasyafah berbeda dengan ilmu-ilmu tersebut, sehingga al-Imam al-Ghazali menyebut ilmu mukasyafah ini dengan sebutan fauqa thuril ‘aqli atau di atas puncak akal. Sementara itu ilmu-ilmu yang lain hanya pada batas sesuatu yang dapat digapai oleh akal. Dan Ilmu mukasyafah hanya bisa didapat melalui nur dari Allah Yang Maha Kuasa Atas Segalanya.

Oleh sebab itu, perlu di pahami juga bahwa ilmu mukasyafah seringkali bertentangan dengan ilmu syariat yang ada, sehingga tidak bisa dijadikan landasan hukum agama. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa Nabi Musa `alahissalam sering membantah apa yang dilakukan oleh Nabi Khidir `alahissalam. Dan sebagai manfaat mukasyafah adalah untuk menjaga, mempersiapkan dan mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi terhadap diri seorang wali Allah, ataupun terhadap lingkungan, sehingga ia bisa mengantisipasi sedini mungkin.

Dengan terbukanya kasyaf bagi Guru Besar kita; Sulthaanul Aulia Al-`Aalim Al-`Allamah Al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, maka tentunya sebelumnya itu bagi diri beliau telah menempel Ilmu ladunni atau ilmu mukasyafah, sehingga mampu melihat dengan mata hati atau cahaya yang berasal dari Allah Subhanahu wa ta`ala.

Iklan

 

Dan Mukasyafah seorang hamba sebagaimana yang terjadi pada diri Maulana Syaikh, tentunya setelah melalui proses mujahadah, pembersihan dan pensucian hati untuk terpancarnya nur (cahaya) dari hatinya, sehingga tersibaklah seluruh rahasia-rahasia alam ghaib dan bahkan bisa berkomunikasi langsung dengan para Nabi atau Rasul dan ruh-ruh yang lainnya, termasuk Nabi Khidhir `alahissalam.

 

Dan penting kita sadari bahwa tidaklah bisa diraih ilmu ini, kecuali setelah mencapai tingkatan ma’rifat yang dilalui oleh latihan-latihan (al-riyadhah), ataupun dzikir-dzikir tertentu yang dilakukan dengan tiada henti, secara berkesinambungan (al-Istiqamah).