Selain cerita sebelumnya, ada cerita lainnya lagi yang berisikan tentang karomah Guru Besar kita Sulthaanul Aulia, al-`Aalim al-`Allamah al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang kaitannya dalam karomah Melipat Bumi dengan secarik kertas.
Dan cerita berikut ini, bersumber dari Drs. Abdurrahman Fajri salah seorang murid beliau dari Mantang Lombok Tengah yang penulis sarikan dari sumber buku sebelumnya.
Dan dalam cerita karomah Melipat Bumi dengan judul Secarik Kertas untuk Guru Suramin ini, diceritakan tentang seorang murid yang sangat setia mendampingi Maulana Syaikh. Dan memang murid yang satu ini pun sangat pemiliar dikalangan Nahdlatul Wathan dengan panggilan Guru Suramin.
“Pada suatu hari, seusai acara pengajian umum Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid di sebuah Desa di wilayah Dayan Gunung, di Kecamatan Bayan, Lombok Utara.
Saat itu, mobil yang ditumpangi Maulana Syaikh sudah terisi penuh. Sementara ada seorang murid setia yang juga ikut dalam rombongan tidak mendapatkan tempat duduk dalam mobil tersebut. Dan pada saat yang bersamaan pula, untuk kendaraan lain, seperti angkot atau pun ojek tidak ada alias sepi.
Menjelang mobil akan berangkat, sementara sang murid yang bernama Suramin belum bisa naik, maka saat itu Maulana Syaikh mengeluarkan secarik kertas dari sakunya dan selanjutnya diberikan kepada Suramin. Dan sepertinya, secaraik kertas tersebut beliau tulis-tulis. Dan setelah itu, berikan kepada sang murid setia itu, seraya berkata;
”Suramin…!, Bawalah ini dan kamu belakangan ya”. Kata Maulana Syaikh sambil memberikan secaraik kertas.
Lalu bergeraklah mobil dan melaju dengan cepat menuju Pancor, Lombok Timur, tempat kediaman beliau. Dan perjalanan dari Desa Dayan Gunung ke Pancor bisa memakan waktu tempuhnya, lebih dari dua jam lamanya.
Subhanallaah sebagai hal yang unik dan aneh, tapi nyata, setelah sampai di Pancor, ternyata sang murid (Suramin) yang tadinya diberikan secarik kertas dan suruh berangkat belakangan itu, ternyata telah sampai terlebih dahulu. Dan pada saat itu pun, ia membuka pintu gerbang dan menyambut kepulangan Maulana Syaikh. Dan sepertinya ia sudah lama atau lebih dahulu sampai di Pancor. Dan itu, hanya berkat secarik kertas itu dari Maulana Syaikh.”
Dalam cerita di atas, karomah Melipat Bumi yang dimiliki oleh Guru Besar kita al `allaaamah al-`aarifu billaah Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, sepertinya bisa saja dimainkan untuk orang lain, selain dirinya dan tentu dengan seizinnya. Dan seperti ini, banyak dilakukan oleh para wali lainnya.



