Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 22) Adanya Dokumen Tentang Kewalian Maulana Syaikh

banner post atas

Ada suatu hal yang sangat menarik bagi penulis dalam menguatkan eksistensi Guru besar kita, Sulthaanul Aulia, al-`Aalim al-`Allamah al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sebagai seorang ulama besar yang telah memiliki kepangkatan kewalian. Dan kepangkatan dalam kewalian yang dimiliki beliau dan telah disebutkan dalam sebuah dokumen yang di jamin keaslian (orisinilitasnya) dan kebasahannya pula. Dan dokumen atau data primer tersebut ditemukan di tempat yang sangat tertutup (ruang khalwat) dalam rumah beliau dan ditemukan setelah wafatnya.

Ketika penulis melakukan penelitian tentang menelusri jejak kewalian dan kekaromahan Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid ini, maka saat inilah dokumen tersebut dikeluarkan dan penulis tentunya memohon izin untuk memuatnya secara eksplisit dalam buku ini.
Mengenai keabsahan dokumen yang dimaksud, bagi pimpinan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta (Al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi), dalam hal ini, beliau sampai memberanikan diri untuk bersumpah kepada Allah Subhanahu wa ta`ala. Artinya, dalam pandangannya mengenai keberadaan dokumen ini adalah tentu sangat orisinil dan tidak diragukan lagi, sekalipun beliau sendiri tidak mengenal secara langsung, siapa yang menulis dan bahkan siapa yang mengetik tulisan tersebut.

Meski demikian, setidaknya dengan ditemukan dokumen tersebut di dalam rumah atau di kediaman Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sendiri setelah wafatnya, tentu dapat menjadi alasan kuat mengenai keabsahannya juga. Dan sepertinya tidak mungkin dan bahkan sangat jauh dari berbagai kepentingan, bagi seseorang yang bermaksud mencoba spekulasi dengan mengada-ada atau merekayasa dan memberanikan diri untuk melakukan kebohongan publik tentang diri beliau dengan mengatasnamakan para wali Allah lainnya.

Iklan

Dalam konteks ini, setidaknya ada dua pernyataan penting dalam dokumen yang dimaksud yang menjelaskan tentang kewalian Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dan kepangkatan yang dimilikinya dalam kewalian itu. Untuk dua pernyataan yang dimaksudkan adalah adanya pernyataan al-Imam al-Ghazali di suatu tempat bernama, “Jabal Qaf” yang menjelaskan tentang Maulana Syaikh sebagai salah seorang wali Allah yang banyak berdo`a untuk keselamatan umat dan pernyataan Malaikat Jibril `alaihissalam tentang pengangkatan salah seorang isteri beliau sebagai Wali al-Khawwash, seperti berikut.

a. Pernyataan Imam al-Ghazali di Jabal Qaf

Dalam dokumen yang tertulis pada tanggal 26 Oktober 1980 ini, menyebutkan sebuah pernyataan yang disampaikan oleh al-Imam al-Ghazali dengan menyebutkan tentang masalah Kewalian Sulthaanul Aulia, al-`Aalim al-`Allamah al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid ini, termuat dalam sebuah judul yang mengatakan, “Penyebaran Minyak Pancoran Emas”.

Untuk lebih jelasnya substansi yang tertuang dalam redaksi Dokumen yang dimaksud, maka dalam tulisan ini, penulis hanya sekedar akan mengambil intisarinya, seperti berikut ini.

“Sebagai catatan atau keterangan awal tulisan dalam dokumen ini, terdapat keterangan atau penjelasan yang menjelaskan tentang rombongan ribuan para Wali Allah yang memulai keberangkatannya dalam penyebaran Minyak Pancoran Emas yang di mulai dari Lombok, lalu menuju Tailand, Jiddah, Mesir, Gunung Sinai, Jabal Nur dan Jabal Qubaes, Baitul Maqdis, Masjidil Haram, Madinah dan terakhir menuju ke Jabal Qaf.

BACA JUGA  Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 11) Sifat Wali Allah dan Wali Syetan

Dan yang dimaksudkan dengan istilah atau nama Jabal Qaf adalah suatu tempat yang tinggi yang dikelilingi oleh tembok dari air.
Ketika rombongan wali Allah telah sampai di depan tembok air Jabal Qaf tersebut, ada sebelas orang dari mereka maju ke depan. Lalu, tembok air tersebut berubah sebagai tanah dan batu. Dan setelah itulah rombongan dapat melanjutkan perjalanan untuk bisa masuk menuju ke dalam Jabal Qaf yang ditempuh dalam perjalanan sekitar sehari.

Dan setelah rombongan sampai dan masuk di Jabal Qaf itu, sudah ada al-Imam al-Ghazali beserta ribuan wali Allah lainnya.
Selanjutnya, Siti Darmatasiah (nama seorang wali perempuan dan mungkin saja nama lain dari Dewi Anjani) menyerahkan surat kepada al-Imam al-Ghazali dan dibagi dimuka seluruh Wali Allah yang hadir.

Selesai surat dibagikan kepada semua yang hadir, al-Imam al-Ghazali berkata, seperti berikut ini;

“ Setahu saya, para wali Allah yang ada di seluruh tanah Arab maupun juga yang berada di luar tanah Arab, tidak ada yang aku ketahui yang memohon do`a untuk keselamatan ummat sedunia, kecuali Maulana Syaikh (Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid) di Pancor.

Oleh karena itu, beliau mendapat keberkahan yang berlimpah-limpah tidak terputus setiap harinya, umpama tali yang dikaitkan pada tujuh petala bumi sampai tujuh petala langit, tidak putus, karena kebaikan beliau.
Semoga beliau panjang usia dan anak cucunya menjadi pejuang agama dan organisasi.

Apabila beliau meninggal dunia, beliau bersama kita disini. Dan perjuangannya diteruskan oleh anak cucunya dan murid-muridnya.”

Setelah selesai penjelasan al-Imam al-Ghazali seperti di atas, terkait dengan isi dokumen selanjutnya, masih ada tiga lembar tulisan yang menjelaskan beberapa persoalan penting tentang penyebaran Minyak Pancoran Emas tersebut. Dan diakhir dokumen ini, tertulis, “Pimpinan Sidang di Jabal Qaf:

1. Imam al-Ghazali
2. Syaikh Abdul Qadir Djaelani
3. Datuk Lukamn al-Hakim”. 25

Memerhatikan pemaparan di atas, maka kita mendapatkan sebuah kesimpulan dari pernyataan al-Imam al-Ghazali yang mengatakan bahwa “ Setahu saya, para wali Allah yang ada di seluruh tanah Arab maupun juga yang berada di luar tanah Arab, tidak ada yang aku ketahui yang memohon do`a untuk keselamatan ummat sedunia, kecuali Maulana Syaikh (Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid) di Pancor”.

Dengan pernyataan al-Imam al-Ghzali tersebut, maka sangat terang dan jelas sekali tentang keberadaan Guru besar kita, Sulthaanul Aulia Al-`Aalim Al-`Allamah Al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sebagai seorang ulama besar yang telah memiliki kepangkatan kewalian di sisi Allah Subhanahu wa ta`ala.

BACA JUGA  Babinsa dan Satgas covid Verifikasi Hajatan Warga

b. Pernyataan Malaikat Jibril `Alaihissalam

Selain dokumen yang tertulis pada tanggal 26 Oktober 1980 seperti di atas, ada lagi dokumen menarik lainnya, yang tertulis tangan pada malam Senin, tanggal 24 Mei 1970. Dan untuk dokumen yang satu ini, memyebutkan sebuah pernyataan yang disampaikan oleh Malaikat Jibril `Alaihissalam tentang pengangkatan salah seorang dari isteri Maulana Syaikh sebagai seorang wali dalam kepangakatan Wali al-Khawwash.

Selain itu, ada lagi sebuah pernyataan yang disampaikan oleh Malaikat Jibril `Alaihissalam yang menyebut dan menegaskan keberadaan maqam atau tingkatan kewalian Maulana Syaikh sebagai Wali Qutub Aktab Akbar, sebuah kepangkatan dalam kewalian yang paling tinggi.

Dan dalam dokumen yang tertulis dalam lembaran lanjutannya, termuat penjelasan tentang alasan, kenapa maqam atau tingkatan kewalian Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah sebagai Wali Qutub Aktab Akbar. Sementara maha guru beliau Syaikh Hasan al-Massyath sebagai wali dalam tingkatan Wali Qutub Aktab. Artinya, kenapa tidak sama dalam tingkatan Wali Qutub Aktab Akbar. Untuk dua hal penting ini, termuat dalam redaksi dokumen seperti berikut ini.

“ Sampaikan salam pada isterimu, mulai malam ini, ia diangkat menjadi Wali al-Khawwash oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dengan kekeramatan gurumun Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Wali Qutub Aktab Akbar dan kamu sendiri telah diangkat Allah menjadi sekretarisnya… (Jibril `Alaihissalam).

Dalam redaksi selanjutnya dan masih tertera dengan jelas dalam lembaran yang sama berikutnya lagi, disebutkan seperti ini;

“Benar, Malaikat Jibril menyampaikan pada malam itu dan benar pula pengangkatan isterinya menjadi Wali al-Khawwash oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan memang benar pengangkatan Maulana Syaikh K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menjadi Wali Qutub Aktab Akbar.

Selanjutnya, untuk penjelasan maqam atau tingkatan kewalian Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah sebagai Wali Qutub Aktab Akbar. Sementara maha guru beliau Syaikh Hasan al-Massyath sebagai wali dalam tingkatan Wali Qutub Aktab, berikut redaksinya;

“Lebihnya Maulana Syaikh (Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid) dari Syaikh Hasan Massyath adalah karena menurut perbedaan tempat. Syaikh Hasan al-Massyath di Makkah adalah negara Islam yang aman. Sedangkan Maulana Syaikah adalah di Indonesia negara yang kacau, banyak saling fitnah memfitnah.

Syaikh Hasan al-Massyath menjadi Wali Qutub Aktab, sedangkan Maulana Syaikh (Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid) menjadi Wali Qutub Aktab Akbar, karena tahan uji terhadap segala rintangan-rintangan dan segala macam fitnah.” 25

Dengan memerhatikan pemaparan di atas, maka kita telah mendapatkan sebuah kesimpulan yang semakin menambah terang dan jelas sekali tentang keberadaan Guru besar kita, Sulthaanul Aulia, al-`Aalim al-`Allamah al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sebagai seorang ulama besar yang telah memiliki kepangkatan kewalian yang sangat tinggi yang disebut Wali Qutub Aktab Akbar.