3. Ada Cerita dari Wali Allah Lainnya Tentang Maulana Syaikh sebagai Wali
Dalam menelusuri bagaimana Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sebagai seorang Wali Allah, maka menurut penulis umumnya akan lebih baik dipahami melalui konsep, “Hanya Wali yang mengenal kedudukan Wali.” Kedudukan wali ini, memang lebih bersifat spiritual dan karenanya dibutuhkan perspektif spiritual (al-Kasyaf) pula untuk mengetahuinya. Misalnya, kita mengenal “Wali Songo,” dan disepakati oleh sebagian masyarakat awam bahwa mereka memang benar-benar Wali Allah. Tetapi, orang-orang awam tak mungkin mengetahui dari sembilan Wali itu mana yang memiliki peringkat lebih tinggi. Kita, orang awam, tidak tahu apakah salah satu dari Wali-wali itu ada yang memiliki kedudukan (al-Maqam) Quthb, Autad, atau Abdal.
Namun demikian, kita diberi tahu sendiri oleh para Wali lainya. Dan bahkan orang awam kadang juga bingung sebab sering kali ada seorang Wali yang dikabarkan memiliki beberapa kedudukan berbeda. Bagi al-Syaikh Al-Akbar Ibnu ‘Arabi, ia menyebut ada satu jenis Wali yang maqamnya aneh dan membingungkan. Wali ini mengetahui semua detail alam. Karena sekaligus mengumpulkan beberapa kedudukan, Wali jenis ini sulit untuk diklasifikasikan ke dalam salah satu maqam Wali saja. Bisa jadi Wali ini Quthb, atau mungkin juga bukan, hanya Allah Subhanahu wa ta`ala dan mereka yang diberi tahu oleh-Nya yang bisa mengenal dengan pasti kedudukannya.
Dan suatu hal yang paling lazim dari orang-orang awam mengetahui kewalian, seperti dalam penyebutan ulama tertentu sebagai wali Allah adalah karena ada Wali lain yang sudah masyhur mengatakan bahwa beliau itu adalah seorang Wali Allah.
Peryataan penulis seperti di atas, dapat kita perhatikan dalam sebuah kasus. Dimana berdasarkan kesaksian para murid dan putranya sendiri, ada seorang wali yang dipuji oleh Almarhum Abuya Dimyati dari Banten sebagai Wali yang mengumpulkan semua kedudukan Wali (Quthb). Sebaliknya, sang Wali itu sendiri juga menyebut Abuya Dimyati sebagai Quthb. Almarhum Syekh Habib Toha As-Syghaf juga mengatakan bahwa sang Wali itu adalah Quthb, juga Quthb al-Autad, juga Nujaba, juga Abdal, dan lainnya. Bahkan Wali itu sendiri juga “bingung” karena semua hal tentang dirinya berasal dari kesaksian pihak lain.
Memerhatikan sekilas pemaparan di atas, maka sebagai suatu hal yang paling lazim juga dari orang-orang awam termasuk penulis mengetahui kewalian Maulana Syaikh adalah karena adanya pernyataan yang disamapaikan oleh para wali lainnya yang sudah masyhur pula. Dan mereka mengatakan bahwa gurumu Maulana Syaikh Zainuddin itu adalah seorang Wali Allah.
Sebagai contoh nyata adalah pernyataan yang disampaikan oleh Kyai Muhammad Dimyathi (Abuya Dimyathi) misalnya, seorang ulama dan wali Allah terkenal di wilayah Pandegelang Banten, menyebut bahwa gurumu Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah Wali Allah. Informasi ini, kita mendapatkannya dengan jelas, setelah tim dari wartawan majalah Sinar Lima dari Ponpes NW Jakarta, ketika mereka berziarah dan shilaturrahim untuk wawancara ekslusif dengan Almarhum Abuya Kyai Muhammad Dimyathi di kediamannya di wilayah Pandegelang Banten.
Lebih jauh lagi, H. Murtadho Hadi dalam bukunya, “Jejak Spiritual Abuya Dimyathi”, menyebutkan bahwa suatu ketika Abuya Dhimyathi pernah melakukan suatu perjalanan intlektual dan spiritual menemui dan singgah pada ulama-ulama tertentu. Dan salah satu perjalanan intlektiual dan spiritual yang dituju dan disinggahi Abuya Dhimyathi adalah menemui Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul madjid di Pulau Seribu Masjid (Lombok, NTB).
Cerita menarik di atas, selanjutnya memunculkan suatu pertanyaannya, kenapa atau apa gerangan dari Abuya Kyai Dhimyathi harus menemui Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul madjid di Pulau Seribu Masjid di Lombok. Untuk lebih detailnya lagi, kira-kira apa maksud petemuan atau shilaturrahimnya?.Dalam buku tersebut, Murtadho Hadi menjelaskan sebagai berikut;
“Abuya Dhimyathi pernah melakukan suatu perjalanan intlektual dan spiritual menemui dan singgah pada ulama-ulama tertentu. Dan salah satu perjalanan intlektiual dan spiritual yang dituju dan disinggahi beliau adalah Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul madjid di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Dalam pertemuan khusus dua ulama besar dan wali Allah ini, tentunya tidaklah membahas tentang hal-hal umum, seperti ekonomi dan politik, misalnya. Tapi pertemuan ini lebih fokus pada hal-hal yang membahas tentang persoalan ma`rifat dan hakekat atau dalam bahasa sederhannya tentang kewalian.
Dan diceritakan pula bahwa dalam pertemuannya itu, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul madjid di Pulau Seribu Masjid sempat menangis dan terharu, karena melihat kehebatan ibadahnya Abuya Dhimyathi. Dimana saat ketemu, Abuya Kyai Dhimyathi tetap saja berpuasa dan tidak membatalkan puasanya, karena beliau selalu istiqamah puasa sunnah yang berlaku baginya sepanjang tahun dan sepanjang umur.
Sebagai contoh lainnya lagi, penulis pernah berziarah seorang tokoh ulama terkenal Betawi, yaitu Kyai Haji Muhammad Sayafi`i Hazami dan sekaligus bermaksud wawancara untuk keperluan penelitian dan penulisan buku yang berjudul, ”Visi Kebangsaan Religius Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid”. Di depan rumahnya, sudah terpajang gambar atau fhoto Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul madjid di Pulau Seribu Masjid yang berukuran besar. Dalam wawancara ini, penulis bertanya dengan mengatakan, apakah Kyai mengenal al-Syaikh Zainuddin?. Beliau menjawab dengan terang pertanyaan ini dengan berkata kepada penulis, “ Secara lahiriah, saya belum bertemu dengan Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Lombok. Akan tetapi, secara bathiniyyah dan rohaniyyah, al-Hamdulilah, saya telah mengenal secara dekat dengan beliau”.
Lain lagi cerita yang di muat oleh Dr. TGH. Abdul Hayyi Nu`man dalam sebuah buku yang berjudul; Orang Maroko Itu Sembuh di Lombok, kumpulan Keramat Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Dalam buku ini, memuat salah satu cerita menarik sebagaimana berikut ini.
“Di sebuah tempat di Sulawesi Tengah, tinggallah seorang Kyai yang banyak diziarahi orang untuk menanyakan berbagai masalah dan memohon nasehat. Namanya Kyai Ali Taita.
Lalu, pada suatu hari pergilah berziarah seorang murid Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, yang bernama Najmuddin. Ia adalah seorang perantau kelahiran Dasan Tumbu, Lombok Timur, NTB yang telah bertahun-tahun tinggal di Kabupaten Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah.
Memang agak sulit orang bertemu dengan Kyai Ali Taita. Tapi, lain halnya dengan Najmuddin. Ternyata ia ini dengan mudah sampai ke pintu rumah sang Kyai tersebut. Dan begitu sampai, ia mengucapkan salam. Sesudah menjawab salam, Kyai Ali Taita, dengan nada keras mengatakan:
”Kamu pulang saja ke Lombok. Saya kenal dan tahu gurumu, saya sering bertemu dalam musyawarah di Gunung Rinjani. Kamu pulang saja ke Lombok”.
Selain cerita diatas, terdapat juga satu cerita menarik lainnya lagi yang dimuat juga oleh Dr. TGH. Abdul Hayyi Nu`man dalam buku yang sama, tentang pernyataan seorang ulama dari pendiri Dewan Dakwah wal-Irsyad (DDI), KH. Abdurrahman Ambo Dalle. Dimana beliau menyebut Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid itu seorang waliyullah dan sebagai imam di alam ghaib. Dan bahkan beliau menyebut Maulana Syaikh Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul madjid itu sebagai imam semua waliyullah. Untuk lengkapnya cerita yang satu ini, dapat diperhatikan sebagaimana berikut ini.
“Adalah TGH. Atharuddin Pengadang Lombok Tengah, salah seorang murid Maulana Syaikh dan tamatan Madarasah Shalatiyyah Makkah, pada tahun 1993 dtugaskan beliau (Maulana Syaikh) sebagai pengasuh di madrasah Nahdlatul Wathan Baibunta Sulawesi Selatan.
Pada suatu hari, atas perintah Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, ia berkunjung ke Pare-Pare menemui KH. Abdurrahman Ambo Dalle, seorang ulama dari pendiri Dewan Dakwah wal-Irsyad (DDI) untuk menyampaikan salam beliau dan menyampaikan sebuah fhoto kenang-kenangan. Dan selesai shalat Maghrib, utusan beliau itu diterima di ruang tamu. Setelah menyampaikan salam beliau, selanjutnya TGH. Atharuddin memberikan fhoto beliau Maulana Syaikh itu. Dan begitu melihat fhoto tersebut, KH. Abdurrahman Ambo Dalle mengatakan;
“Beliau ini (Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid) adalah imam saya di alam ghaib. Beliaulah yang menjadi imam semua waliyullah.”
Dengan memerhatikan kisah dan penjelasan di atas, maka bukanlah sesuatu yang aneh, jika para Wali saling menyebut sesama Wali dan mengabarkannya kepada khalayak. Sebagaimana al-Syaikh Al-Akbar Ibnu ‘Arabi, misalnya, mengabarkan kepada kita tentang banyak Wali Allah, yang sebagian adalah guru-gurunya, melalui salah satu risalahnya.
Dan secara khusus mengenai kewalian yang dimiliki oleh Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, tidak jauh halnya seperti itu, yakni dengan adanya informasi dari para wali lainnya juga. Dan hal ini dapat memperkuat argumentasi dan keyakinan kita tentang keberadaan beliau sebagai seorang wali Allah yang tidak terbantahkan.


