Penulisan buku ini merupakan aktualisasi mahabbah (kecintaan) penulis kepada Maulana Syaikh dan mencintai perjuangan sucinya. Penulis bersyukur kepada Allah yang telah memberi anugerah sebagai murid langsung beliau ketika belajar dan bersimpuh di Ma’had Darul Qur’an wal Hadits (MDQH) NW Pancor dari tahun 1991-1995. Bahkan, Maulana Syaikh telah menambahkan nama bagi al-Faqir, sehingga memiliki nama lengkap Muslihan Habib. Buku kecil sederhana ini semoga menjadi hujjah kecintaan dan salah satu bakti murid kepada gurunya, yang masuk dalam hadits Nabi Saw. “Anta ma a man ahbabta : Anda senantiasa bersama dengan orang yang anda cintai”, atau dalam riwayat lain. “Al mar-u ma man ahabba yauma al-qiyamah : Seseorang senantiasa akan bersama orang-orang yang ia cintai pada hari kiamat”.
Banyak argumentasi penulis berani mengatakan bahwa Maulana
Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sebagai Wali Allah. Hal ini karena adanya kesaksian dan pernyataan para ulama yang diyakini kaum muslimin sebagai wali Allah, seperti: Abuya Kyai Haji Muhammad Dimiyati ulama dan wali Allah dari Pandegelang Banten. Beliau menyebutkan kepada Tim Wartawan Sinar Lima di NW Jakarta dengan mengatakan bahwa gurumu Maulana Syaikh Zainuddin adalah Wali Allah. Penulis pernah berziarah dan wawancara untuk penulisan buku Visi Kebangsaan Religius dengan tokoh ulama Betawi, Muallim Kyai Haji Muhammad Syafi’i Hadzami. Di teras ruang mengajar rumahnya, beliau pajang gambar Maulana Syaikh yang berukuran besar. Beliau berkata kepada penulis, “Secara lahiriah, saya belum bertemu dengan Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Akan tetapi, secara bathiniyyah dan rohaniyyah, al-Hamdulilah, saya telah mengenal secara dekat dengan beliau”. Dan berbagai argumtasi atau alasan kuat dan orisinil lainnya yang penulis akan paparkan selanjutnya dalam buku ini.
Oleh sebab itu, bukanlah sesuatu yang aneh, jika para Wali saling menyebut sesama Wali dan mengabarkanya kepada khalayak. Sebagai contoh, Syekh Al-Akbar Ibnu ‘Arabi, melalui salah satu risalahnya, mengabarkan kepada kita tentang banyak Wali Allah, yang sebagian adalah guru-gurunya.
Pernyataan di atas akan lebih baik dipahami dengan mengatakan bahwa “Hanya seorang Wali yang mengenal kedudukan Wali.” Kedudukan ini lebih bersifat spiritual, dan karenanya dibutuhkan perspektif spiritual (kasyaf) pula untuk mengetahuinya.
Misalnya lagi, ketika kita mengenal “Wali Songo,” dan disepakati oleh masyarakat awam bahwa mereka Wali Allah. Orang-orang awam tidak mungkin mengetahui dari para wali itu mana yang memiliki peringkat lebih tinggi. Kita, orang awam dan termasuk penulis, tidaklah mengetahui, mana diantara wali-wali itu yang memiliki kedudukan Quthb, Autad, atau Abdal. Namun demikian, kita satu jenis Wali yang maqamnya aneh dan membingungkan. Wali ini mengetahui semua detail alam, karena sekaligus mengumpulkan beberapa kedudukan. Wali jenis ini, sepertinya sulit untuk diklasifikasikan ke dalam salah satu maqam Wali saja, bisa jadi Wali ini Cuthb, atau mungkin juga bukan, dan hanya Allah Subhanahu wa ta’ala serta mereka yang diberi tahu olehnya yang bisa mengenal dengan pasti kedudukannya.(fathi)
Moga Manfaat




