“KESETIAANMU MELAKSANAKAN SEMUA PERINTAH ALLAH DAN KEPASRAHANMU KEPADA-NYA ADALAH NIKMAT YANG AMAT BESAR BAGIMU.” Oleh : Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya, M.A

banner post atas

Ibn Atha’illah berkata dalam untaian kalimat HIKMAHNYA yang ke-110:

110 – مَتَى جَعَلَكَ فِي الظَّاهِرِ مُمْتَثِلاً لِأَمْرِهِ وَرَزَقَكَ فِي الْبَاطِنِ الاِسْتِسلاَمِ لِقَهْرِهِ فَقَدْ أَعْظَمَ المِنَّةَ عَلَيْكَ.

“Ketika Tuhan menjadikanmu secara lahir melaksanakan semua perintah-Nya dan menganugerahkan kepadamu secara batin sikap pasrah terhadap-Nya, maka pada hakikatnya Dia telah melimpahkan nikmat yang sangat besar kepadamu.”

Iklan

Kata kuncinya: “Kesetiaanmu melaksanakan semua perintah Allah dan kepasrahanmu kepada-Nya adalah nikmat yang amat besar bagimu.”

Allah meninginkan agar manusia datang ke dunia ini dalam keadaan suci. Kesucian itu telah diberikan oleh Allah kepada manusia dengan diberikannya fitrah keislaman sejak manusia berada di dalam rahim ibunya hingga dia lahir di alam dunia.

Ketika manusia berada di alam dunia ini, Allah tetap menginginkan pula agar manusia tetap dalam kesuciannya dan mempertahankan kesucian yang dibawanya sejak lahir. Untuk itulah Allah memberikan kepadanya perintah untuk beriman kepada-Nya dan beribadah kepada-Nya. Dengan beriman dan beribadah kepada-Nya, manusia dapat mempertahankan kesucian dirinya.

Akan tetapi, tidak semua manusia dapat mempertahankan kesuciannya itu karena sebagiannya beriman dan beribadah, sedangkan sebahagian yang lain kafir dan maksiat kepada-Nya. Yang beriman dan beribadah kepada-Nya adalah pilihannya yang berdasarkan petunjuk yang diberikan kepada-Nya. Yang tidak beriman dan tidak beribadah kepada-Nya juga adalah pilihannya, karena dia tidak mau menerima petunjuk Allah.

Bahkan, Allah menginginkan agar manusia kembali lagi kepada Allah dalam keadaan suci, sebagaimana suci yang dibawanya sejak lahir. Manusia yang dapat mempertahankan kesuciannya adalah manusia yang beriman dan beribadah kepada-Nya selama berada di dunia ini. Dengan iman dan ibadahnya itu dia dapat mempertahankan kesuciannya. Manusia yang seperti inilah yang akan kembali kepada Allah dalam keadaan suci. Sedangkan manusia yang tidak beriman dan maksiat kepada Allah adalah manusia yang tidak dapat mempertahankan kesuciaannya selama berada di alam dunia. Mereka inila orang-orang yang kembali kepada Allah dalam keadaan kotor. Kesuciannya dikotori oleh kekafiran dan maksiatnya.

BACA JUGA  Hikmah Pagi "Air Nanas panas".

Amal-amal yang dilakukan oleh hamba-hamba Allah dapat dibagi atas dua macam, amal yang lahir dan amal yang batin. Amal yang lahir adalah segala amal yang dilakukan oleh seseorang yang dapat dilihat, dapat didengar, dan disaksikan oleh orang lain. Amal-amal dalam bentuk ini, seperti syahadat (yang diucapkan, yang dilafalkan), salat yang dilakukan, zakat, sedekah, dan infak yang dikeluarkan, puasa yang dilaksanakan, haji yang ditunaikan, zikir yang dilakukan, dan berbagai ibadah lainnya yang dilakukan. Kalau engkau sudah dapat melaksanakan semua amal-amal lahir itu, maka engkau pada hakikatnya sudah mendapat suatu nikmat dari Allah.

Amal-amal batin adalah segala amal yang dilakukan secara batin, yang tidak diketahui oleh orang lain, seperti keikhlasan dalam beramal, ketulusan dalam melakukan amal. Orang yang ikhlas dan tulus adalah orang-orang yang melakasanakan amal-amalnya dengan penuh pasrah kepada Allah. Dia pasrahkan semua amal yang dilakukannya hanya karena Allah. Dia menyerahkan segala urusannya hanya kepada Allah. Jika engkau sudah melakukan hal yang demikian, maka engkau sudah mendapatkan nikmat yang besar dari Allah.

Kalau Anda sudah mampu melaksanakan semua perintah Allah dan pasrah kepada Allah atas apa yang engkau lakukan, maka pada hakikatnya engkau sudah mendapat Allah yang sangat besar. Itulah yang dikatakan Ibn Atha’illah dalam kalimat hikmatnya: “Ketika Tuhan menjadikanmu secara lahir melaksanakan semua perintah-Nya dan menganugerahkan kepadamu secara batin sikap pasrah terhadap-Nya, maka pada hakikatnya Dia telah melimpahkan nikmat yang sangat besar kepadamu.”

Ingat firman Allah di dalam Al-Qur’an: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali Imran […]: 159).

BACA JUGA  Tanya jawab seputar Ramadhan bagian 24

Perhatikan pula firman-Nya di ayat yang lain: “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal.” (Al-Ma’idah [5]: 11).