Sinar5news.com -Labuan Haji- Petani cabe di Lombok timur (Lotim) Desa Labuan Haji mengeluh karena sulit mendapatkan air untuk mengairi tanaman. Hal ini karena sumber air sudah mulai berkurang.
Sulitnya mendapatkan air mengakibatkan semakin menurunnya hasil pertanian cabe. Hal ini karena kualitas kesehatan cabe rendah, bahkan pohon cabe banyak yang mati karena kekurangan air.

Hari demi hari kuantitas pohon cabe terus berkurang, karena hampir setiap harinya pohon cabe banyak yang mati sebab kekeringan kurang air.
Keterangan dari bpk joan selaku petani di Dusun Esot Gelumpang Desa Labuan Haji “Untuk mendapatkan air sangat sulit, karena air yang sekarang sangat sedikit. Sungai yang menjadi sumber utama pengaliran air sawah bisa dikatakan sudah kering. Adapun air yang ada sekarang untuk menyirami tanaman disedot menggunakan mesin berasal dari genangan air kali yang sangaja dibendung. Karena sedikitnya air, maka sekarang kita tidak bisa mengairi tanaman, hanya boleh disirami, itu pun kita mengelurkan uang untuk biaya air dan upah menyiram tanaman”
Kurangnya air berdampak juga kepada kualitas berat cabe. Karena kekurangan asupan air, mengakibatkan semakin ringannya timbangan buah cabe.
Bahkan yang peling parah harga cabe semakin menurun semenjak beberapa minggu yang lalu. Dari harga 30 ribu perkilo menurun ke 24 ribu, bahkan minggu ini (22/11/19) harga cabe menurun sampai 13 ribu.
Mengingat semakin sulitnya air, maka Kepala Desa Labuan Haji Bpk Fahmin mengingatkan masyrakat Labuan melali acara Maulad Nabi yang diselenggarakan di Masjid Dasan Esot Gelumpang (21/11/19) supaya hemat air dan banyak berdoa serta banyak bershalawat, mengingat sampai bulan November ini hujan belum turun.
Menurut Ust. Zul salah satu pengasuh Pesantren di Desa Labuan Haji, diantara solusi dalam menghadapi kemarau ini adalah harus banyak istighfar dan banyak bersabar. Apalagi dengan semakin banyaknya orang kaya bersodaqoh akan membuka rahmat Allah untuk segera diturunkan hujan. (fathi)




