Umumnya manusia sebelum masuk jenjang berumah tangga ketika masa pacaran seperti orang kebanyakan merasa betapa indah, nikmat dan bahagia hidup ini. Bahkan ada yang sangat berani mengatakan “dunia terasa milik berdua”, padahal dunia ini sangat luas tak mungkin dapat dijangkau. Ada juga ungkapan “demi cintaku padamu gunung kan kudaki, lautan kan kusebrangi”.
Adanya ungkapan ekstrim seperti itu karena betapa dalamnya cinta mereka, seeolah-olah mereka menemukan kecocokan dan keserasian yang sangat tepat. Tidak ada tanda-tanda hubungan mereka akan berpisah.
Tibalah saatnya pernikahan itu tiba, alangkah bahagia diawal bulan madu. Namun seiring bertambahnya bulan dan tahun, muncullah berbagai badai menerpa rumah tangga mereka. Orang-orang yang berumah tangga yang hanya bermodalkan cinta dan hawa nafsu biasanya mengalami kegoncangan yang dahsyat tidak jarang berakhir dengan perceraian. Rasa cinta yang dulu bergelora hanya tinggal kenangan, yang ada adalah pertikaian, salah paham dan egoisme.
Dalam Islam menikah itu bukanlah hal yang sederhana, memang pada awal mulanya harus ada rasa cinta dalam diri mereka. Tetapi tidak cukup dengan hal itu, hendaknya menikah itu diawali dengan niat yang benar dan ilmu yang cukup untuk mengarungi bahtera rumah tangga yang panjang.
Kalau kita merujuk kepada konsep Al Quran surah Ar Rum ayat 21, bahwa untuk memperoleh rumah tangga yg indah dan bahagia hendaknya memenuhi tiga unsur pokok yaitu sakinah, mawaddah warahmah. Ketiga unsur ini wajib ada dalam setiap kehidupan rumah tangga, sehingga rumah tangga itu terasa laksana di surga walaupun rumahnya sangat sederhana. Lihatlah rumah Rasulullah SAW walaupun kecil panjangnya tidak lebih dari 5 meter dan lebarnya 3 meter beratap pelepah kurma, tapi didalamnya penuh dengan suasana indah dan bahagia sehingga beliau bersabda “baitii jannatii, rumahku laksana surga bagiku”.
Sakinah adalah suasana rumah tangga yang tenang, damai, rukun, nyaman dan tentram. Diantara upaya agar suasana sakinah ini terus terjaga yaitu suami istri saling memahami hak dan kewajiban masing-masing, membangun komunikasi yang harmonis, keterbukaan, saling menyemangati dan saling menghargai.
Mawaddah adalah cinta yang tulus dan dalam. Suami istri yang benar-benar saling mencintai terlihat dari lisan dan sikap mereka. Pada waktu-waktu tertentu lisan tidak berat mengucapkan “saya mencintaimu”. Ini penting, dengan sering mengucapkan kalimat cinta, akan menjaga dan memperkuat rasa cinta yang sudah tertanam dalam jiwa. Kemudian dari sikap terlihat betapa semangat mereka melakukan segala tugas dan tanggung jawab yang berkaitan dengan rumah tangga.
Warahmah adalah rasa sayang yang tulus dari waktu ke waktu sampai ajal menjemput. Rasa sayang ini akan terus terucap dari bibir mereka. Rasa sayang adalah penyempurna dari rasa cinta yang ada. Orang yang hanya cinta tetapi tidak sayang itu adalah cinta palsu. Jadi sayang itu adalah keseluruhan dari rasa cinta yang begitu halus, tulus dan murni. Walaupun sudah tua rasa sayang itu tidak pernah pudar. Mereka rela melakukan apa saja karena terdorong rasa sayang yang menyelimuti jiwa mereka. Mereka yang terus saling menyayangi akan terlihat indah seluruh penampilan baik dalam fisik, pakaian, ucapan, pelayanan dan lain-lain. Inilah diantara rahasia membangun rumah tangga yang langgeng dan abadi dari dunia hingga ke surga.
Semoga uraian hikmah hari ini menjadi spirit untuk menjadikan rumah tangga yang indah penuh bahagia.
Jakarta, 19 Shafar 1441 H/18 Oktober 2019 MP
enulis : Marolah Abu Akrom




