Oleh Zulkarnaen
Hizib Nahdlatul Wathan (NW) umumnya merupakan wirid atau amalan bagi warga NW. Hal ini jelas ditulis oleh Maulanasyeikh di Hizib ini sendiri; anda bisa konfirmasi di pendahuluannya. Bahwa setiap muslim yang mencintai dirinya, agama dan bangsanya, seharusnya menekuni dan mengamalkan hizib tiap pagi-sore. Selaku generasi ke-3 dari NW, saya menemukan hizib NW ini sudah menjadi kultur orang-orang di desa–meskipun mereka bukan abituren, mereka mengikuti abituren yang mengajak mengamalkan hizib setiap malam senin biasanya, kadang satu sekali sebulan; abituren NW dalam hal ini ikut menyebarkan hizib NW.
Hizib NW sebagaimana diketahui dan merupakan satu dari karya-karya Maulanasyeikh. Inilah yang menarik bagi kader-kader Himpunan Mahasiswa NW (HIMMAH NW); karena ia karya! Bagi kader HIMMAH NW, hizib NW bukanlah sekedar do’a, wirid atau semacamnya, namun sesuatu yang istimewa. Disebut istimewa karena bagi kader HIMMAH NW, hizib NW mengandung nilai-nilai dasar, karakteristik kader HIMMAH NW sendiri dalam konteks poksi yang diberikan Maulanasyeikh.
Tentu hal ini tidak bisa dilihat jika menggunakan kacamata biasa; sebagaimana umumnya banyak warga NW melihatnya an sich do’a, wirid semacamnya. Memang inilah demarkasi kader HIMMAH NW dengan warga NW yang lain; secara sederhana, cara pandang, pikiran kader HIMMAH NW tidak sama dengan jama’ah pengajian NW.
Hizib NW kemudian dilihat dalam perspektif yang lebih dalam. Ia dikaji dengan menggunakan hermeneutika; satu pendekatan untuk memahami teks. Karena memang kader HIMMAH NW dibekali dengan pengetahuan semacam ini; konsekuensi dari hal ini kemudian, HIMMAH NW harus menjadi mitra kritis dengan modal pengetahun tersebut. Inilah satu poksi dari HIMMAH NW yang bisa dipahami dari Maualanasyeikh berdasarkan setting sosial HIMMAH NW ini didirikan. HIMMAH NW digariskan sebagai intelektual NW.
Untuk lebih memperjelas, HIMMAH NW ada setelah Ma’had Darul Qur’an wal Hadits (MDQH). Setting sosial saat itu; tahun 60-an ketika terjadinya pertarungan dua ideologi besar di bangsa ini; antara komunisme dan sosialisme; hanya ada dua pilihan saat itu, anda komunis atau sosialis. Maulanasyeikh kemudian membuat MDQH untuk mencetak ulama’ Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) dan membuat HIMMAH NW untuk menjawab isu-isu kebangsaan.
Dua lembaga ini dihajatkan sebagai respon terhadap masalah kebangsaan saat itu. Sehingga jelas kemudian soal poksi HIMMAH NW dan demarkasinya di tubuh NW.
Hermeneutika kemudian menjadi satu implikasi logis dari hajatan Maulanasyeikh terhadap HIMMAH NW. Kader HIMMAH NW harus dibekali dengan pengetahuan semacam hermeneutika dan sejenisnya untuk merealisasikan tugasnya.
Kurang lebih, seperti guyonan yang banyak dikatakan bahwa “timur itu kaya akan konten, namun kurang dalam metodologi; barat kaya akan metodologi, tapi kurang akan konten”. HIMMAH NW dalam pengkaderannya harus dibekali dengan metodologi-metodologi itu, selain harus kaya akan konten supaya dalam perspektifnya. Karena seharusnya seperti itu; merupakan hal yang harus diterima dan dipelajari oleh setiap kader.
Hizib NW dalam pendekatan hermeneutika yang paling klasik kemudian sarat akan ekspresi terhadap kondisi perjuangan Maulanasyeikh. Beliau banyak menyebut do’a perlawanan sebagai respon terhadap kolonialisme. Menyebut mazhab keislaman sebagai respon terhadap pertarungan ideologi yang bisa berdampak tidak baik terhadap keyakinan ummat Islam.
Menyebut arah perjuangan NW sebagai penegasan terhadap segenap kader NW, dan lain seterusnya dari sekian banyak do’a yang ditulis oleh Maulanasyeikh di dalam hizib NW. Dan ini baru satu pendekatan; hermeneutika klasik yang konsen pada kondisi psikologi pengarang sebuah teks. Maksud saya, masih ada beberapa hermeneutika yang lain yang bisa digunakan untuk mengkaji hizib NW lebih dalam dan dengan perspektif yang berbeda.




