Sambutan Haru TGKH. Muhammad Suhaidi, SQ Menggetarkan Peringatan Hultah Ke-37 Yayasan Mi’rajush NW Jakarta

Sambutan Haru TGKH. Muhammad Suhaidi, SQ Menggetarkan Peringatan Hultah Ke-37 Yayasan Mi’rajush NW Jakarta

Sambutan Haru TGKH. Muhammad Suhaidi, SQ Menggetarkan Peringatan Hultah Ke-37 Yayasan Mi’rajush NW Jakarta

Jakarta – Sinar5News.com
Peringatan Hultah Ke-37 Yayasan Mi’rajush Nahdlatul Wathan Jakarta yang diselenggarakan pada Senin, 1 Desember 2025 di Masjid Hamzanwadi, berlangsung penuh haru dan menggugah hati. Jamaah yang memadati masjid dibuat terdiam dan beberapa terlihat meneteskan air mata ketika mendengar sambutan mendalam dari Ketua Yayasan Mi’rajush Shibyan NW Jakarta sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren NW Jakarta, TGKH. Muhammad Suhaidi, SQ.

Beliau memaparkan kembali sejarah panjang dan beratnya perjuangan merintis dakwah serta mendirikan yayasan ini sejak awal tahun 1980 hingga resmi berdiri pada 1 Desember 1988 berdasarkan SK PB NW nomor 15/Kpt/PB-NW/1988 yang ditandatangani oleh Drs. H. Lalu Gede Wiresentane selaku ketua umum dan Drs. H.M. Syubli selaku sekretaris umum.

Awal Perjuangan: Dari Mushola ke Mushola, Rumah ke Rumah

Dalam sambutannya, TGKH. Muhammad Suhaidi, SQ mengenang masa-masa awal dakwah yang dilakukan dengan sangat sederhana. Pada tahun-tahun awal itu, beliau mengisi pengajian kecil-kecilan dengan berpindah dari mushola satu ke mushola lainnya, dan dari rumah ke rumah, tanpa fasilitas, tanpa gedung, bahkan sering tanpa kejelasan biaya.

“Bergerak di Jakarta pada masa itu bukanlah perkara ringan. Kami berjalan dari satu tempat ke tempat lain dengan keyakinan bahwa dakwah harus terus hidup,” ujarnya.

Namun suasana ibu kota yang penuh tantangan menjadikan perjuangan semakin berat. Tekanan sosial, kurangnya dana, hingga berbagai ujian bertubi-tubi sempat membuat beliau hampir kehilangan kekuatan.

Dikuatkan Oleh Maulana Syaikh Melalui Mimpi dan Panggilan untuk Pulang ke Pancor

Dalam momen yang sarat emosi itu, beliau juga mengungkapkan bahwa kekuatan terbesar yang membuatnya bertahan adalah bimbingan dan doa restu dari Sang Maha Guru, Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.

Bimbingan Maulana Syaikh tidak hanya diberikan dalam bentuk nasihat langsung, tetapi juga datang melalui mimpi yang menguatkan hati ketika perjuangan terasa berat. Selain itu, beliau sering dipanggil pulang ke Lombok, ke kediaman Maulana Syaikh di Perguruan Hamzanwadi Pancor, Lombok Timur.

“Setiap kali beliau memanggil saya pulang, di sana saya menerima nasihat, petunjuk, dan arahan yang menjadi cahaya dalam gelapnya perjuangan,” ujar TGKH. Muhammad Suhaidi dengan suara penuh rasa haru.

Beliau juga menceritakan bahwa Sang Guru sering memberikan bantuan dana secara langsung untuk menopang dakwah di Jakarta. Bantuan tersebut menjadi penopang utama agar perjuangan tidak berhenti di tengah jalan.

“Beliau tidak hanya memberikan nasihat, tetapi benar-benar membiayai perjuangan ini,” tambahnya.

Dari Kesabaran Lahir Lembaga Besar

Berawal dari perjuangan kecil itu, akhirnya pada 1 Desember 1988 Yayasan Mi’rajush Shibyan Nahdlatul Wathan Jakarta resmi berdiri. Yayasan ini kemudian berkembang pesat menjadi pusat pendidikan, dakwah, dan pengabdian sosial di wilayah ibu kota.

Kini yayasan tersebut telah memiliki:

1. Majelis-majelis taklim

2. Lembaga pendidikan MDI, SD, SMP, SMA

3. Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta

4. Program sosial dan keumatan

5. Panti Asuhan bagi anak yatim dan anak tidak mampu

Di panti asuhan tersebut, anak-anak mendapatkan fasilitas gratis, mulai dari makanan, tempat tinggal, hingga seluruh biaya pendidikan sebagai wujud pengabdian sosial yayasan.

Sambutan yang Menggetarkan Jamaah

Sambutan TGKH. Muhammad Suhaidi, SQ malam itu menggugah banyak hadirin. Jamaah tampak larut dalam suasana haru ketika beliau mengisahkan pahit-manis perjuangan yang telah dilalui selama lebih dari tiga dekade.

Suasana masjid berubah hening ketika beliau mengungkapkan bahwa semua yang berdiri hari ini adalah buah dari keikhlasan, air mata perjuangan, dan keberkahan doa Sang Guru. Beberapa jamaah tampak menyeka air mata, merasakan betapa beratnya perjuangan yang telah beliau jalani.

Menyeru Jamaah untuk Melanjutkan Perjuangan

Di penghujung sambutannya, beliau menyerukan kepada jamaah dan para kader Nahdlatul Wathan untuk terus menjaga amanah perjuangan Maulana Syaikh dan menjadikan Yayasan Mi’rajush NW Jakarta sebagai ladang amal jariyah.

“Jika hari ini kita melihat lembaga besar berdiri, ketahuilah bahwa semua ini adalah karunia Allah dan keberkahan doa Maulana Syaikh. Perjuangan ini tidak boleh berhenti,” tegasnya.

Penutup

Peringatan Hultah Ke-37 ini tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga menjadi momentum refleksi dan syukur atas perjalanan panjang dakwah Nahdlatul Wathan di Jakarta. Sambutan haru TGKH. Muhammad Suhaidi, SQ menjadi pengingat bahwa sebuah perjuangan besar selalu bermula dari langkah kecil yang dijaga dengan kesabaran dan keikhlasan.

Diliput oleh Redaktur media SinarLIMA (Sinar5News.com), Marolah Abu Akrom/Ust. Amrullah 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA