Hikmah Pagi : Mengharap Rahmat Allah Ta’ala

Hikmah Pagi : Mengharap Rahmat Allah Ta’ala

Dalam Surat Az-Zumar Ayat 53 Allah سبحانه وتعالى berfirman:
*قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ*
_Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”_

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
*آلفا جر الرا جى لر حمة الله تعالى آقرب الى الله تعالى من العابد القانط*
_“Orang durhaka yang mengharap rahmat Allah Ta’ala adalah lebih dekat kepada Allah Ta’ala dari pada ahli ibadah yang putus harapan.”_

Diriwayatkan dari Umar, dari Zaid bin Aslam bahwa ada seorang laki-laki dari umat terdahulu yang giat beribadah dan memperberat dirinya dalam ibadah, sedangkan ia adalah orang yang tidak mengharapkan rahmat Allah.

Ketika laki-laki tersebut mati dan bertanya kepada Allah: _”Ya Tuhanku, apakah bagianku di sisi-Mu?”_ Allah berfirman: _”Bagianmu adalah neraka!”_ Laki-laki tersebut berkata, _”Wahai Tuhanku, di manakah ibadah dan kegiatanku?”_ Allah berfirman: _”Engkau adalah orang yang tidak mengharap rahmat-Ku di dunia, maka pada hari ini Aku memutuskan engkau dari rahmat-Ku!”_

Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin dijelaskan bahwa hakekat “harapan” adalah kesenangan hati karena menanti sesuatu yang dicintai. Akan tetapi sesuatu yang dicintai itu harus dapat terjadi dan harus berdasarkan sebab.

Jika sebabnya tidak ada, disebut “tipuan” dan “kejahilan”.

Jika sebabnya tidak diketahui ada atau tidak ada, disebut “angan-angan”.

Jika dalam hati kita tergerak keadaan sebab tersebut dalam waktu yang telah lampau, disebut “mengingat”.

Jika dalam hati kita tergerak keadaan sebab tersebut dalam waktu sekarang, disebut “menemukan” dan “merasakan”.

Jika dalam hati kita tergerak keadaan dari sesuatu pada waktu yang akan datang, dan keadaan sesuatu tersebut sangat menguasai hati kita, maka disebut “menanti” dan “mengharap”.

Jika yang dinanti adalah sesuatu yang dibenci yang menghasilkan rasa sakit dalam hati, dinamakan “takut” atau “ketakutan”.

Jika yang dinanti adalah sesuatu yang dicintai yang menghasilkan kelezatan dan kesenangan, maka kesenangan tersebut disebut “harapan” atau raja’.

والله أعلم بالصواب

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA