Hati-hati!
Jangan-jangan, dia diam di muka muara.
Tapi riuh dalam doa-doa.
Dan, bukankah doa adalah senjata terampuh dalam membalaskan luka? ☺️
Kawanku,
Jangan pernah menganggap orang lain kecil hanya karena kekurangan yang dia miliki!
Jangan pernah menganggap orang lain kerdil hanya karena ia memiliki banyak kelemahan di setiap sisi!
Kau tahu siapa kekasih Tuhan, junjungan Ummat manusia semesta alam?
Seorang rajakah DIA?
Seorang hartawankah DIA?
Bukan.
Dia hanya seorang penggembala.
Pedagang biasa yang tersimpan kemuliaan serta kejujuran di hatinya.
Dia tidak bergelimang harta.
Dia juga tidak memiliki ketinggian tahta.
Tapi apa yang membuatnya menjadi yang terpilih diantara sekian juta Ummat manusia?
Hati yang bersih, cint* yang tulus, serta keimanan yang tinggi kepada Allah membuatnya terpilih menjadi hamba Allah yang paling tinggi derajatnya.
Berhentilah kawanku!
Berhentilah menghinakan orang lain!
Tersebab bisa jadi, kamu yang mulia di mata manusia adalah yang paling hina dimata Tuhan-semesta.
Berhati-hatilah kawanku!
Berhati-hatilah dalam bersikap pada orang lain!
Tersebab bisa jadi, luka yang kau torehkan pada si hina akan menjadi doa-doa yang diamini oleh para malaikat semesta raya.
اِتَّقُوْا دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهَا تُصْعَدُ إِليَ السَّمَاءِ كَأَنَّهَا شَرَارَةٌ
“Takutlah kamu pada doa orang yang dizalimi, sebab ia akan diangkat naik ke langit seakan-akan percikan bunga api.” (Shahih Bukhari)
Hikmah renungan pagi




