Salah satu dari tiga golongan yag dipuji Allah setelah golongan Muhajirin dan Anshar (al-Hasyr: 8-9) adalah mereka yang selalu berdoa memohonkan ampunan bagi sesama mu’min terutama yang telah meninggal dunia dan saling menyayangi karena tidak adanya sifat dengki dan dendam.
وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ *رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ* ࣖ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, _”Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha
Allah juga mengajarkan doa yg dipanjatkan Nabi Ibrahim a.s. yang memintakan ampunan bagi sesama mu’min…
*رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ* ࣖ
_Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat)_
QS.Ibrāhīm [14]:41
Demikian juga sunah Rasulullah saw menganjurkan umatnya untuk saling mencintai dan membantu serta saling berdoa antar sesama, diantaranya adalah hadis di bawah ini.
Bahkan Rasulullah saw menjamin sebagai doa yang mustajab (doa yang terkabul).
عَن أَبي الدَّردَاءِ أَنَّ رسُول اللَّه ﷺ كانَ يقُولُ: *دَعْوةُ المرءِ المُسْلِمِ لأَخيهِ بِظَهْرِ الغَيْبِ مُسْتَجَابةٌ، عِنْد رأْسِهِ ملَكٌ مُوكَّلٌ كلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بخيرٍ قَال المَلَكُ المُوكَّلُ بِهِ: آمِينَ، ولَكَ بمِثْلٍ* رواه مسلم.
Dari Abu Darda r.a. Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuan dia adalah mustajab. Di dekat kepalanya ada seorang malaikat yang ditugasi untuk mengamini, setiap dia berdoa kebaikan untuk saudaranya. Sang malaikat berkata, “Amin. Engkau pun akan mendapat hal yang serupa”. HR. Muslim.
Para ulama dalam memaknai hadis ini dengan menjadikan wasilah (perantara) bila mempunyai hajat tertentu, maka mereka akan mendoakan saudaranya dengan terpenuhinya hajat tersebut, karena mereka yakin doa tersebut mustajab bagi saudaranya dan dirinya karena diaminkan malaikat.
Sebagian ulama juga tidak berdoa untuk dirinya, namun selalu berdoa utk saudaranya muslim. Sebagai contoh Imam Nawawi bila khataman Al-Qur’an, berdoa dengan doa yang begitu panjang utk kebaikan kaum Muslimin, dari ampunan, kesejahteraan, kebaikan dunia dan akhirat hingga berdoa agar harga-harga di pasar tidak memberatkan kaum Muslimin. Beliau menutup doanya dengan ungkapan yang mencakup seluruh kebaikan yg telah diminta, Ya Allah, jadikan diriku bagian dari mereka.
Sungguh teladan yang begitu Indah dari generasi awal. Marilah kita mencontoh mereka agar bisa saling mendukung dan menyayangi sesama Muslim…



