Hiduplah sesuai Rencana Allah

banner post atas

Beberapa bulan yang lalu saya pernah mendatangi seorang ustadz, karena saya sempat mengalami luka batin yang mendalam akhirnya saya diajak oleh seorang teman untuk mengunjungi ustadz tersebut untuk Berobat dan dalam setiap kali pertemuan dengan Beliau selalu menyarankan untuk selalu Hidup berdasarkan Rencana Allah, karena beliau paham betul selain Harapan ada Rencana yang terkadang bisa membuat Manusia kecewa begitu mendalam. Ketika seseorang Merencanakan hidupnya seseorang akan cenderung mudah untuk kecewa apabila Rencana tidak berjalan seperti yang  di inginkan. Untuk itu dalam setiap kali bertemu beliau tidak pernah lupa untuk mengingatkan “Hiduplah sesuai Rencana Allah”

Seperti yang saya alami pada tanggal 22 Agustus 2020 lalu, sepulang Pembekalan PKL (Praktik kerja Lapangan) dari Kampus saya  bersama teman-teman  berencana untuk mengunjungi salah seorang teman yang melahirkan, Rencana ini sudah jauh-jauh hari kami rencanakan namun baru bisa direalisasikan pada Hari sabtu sepulang Pembekalan PKL. Sehabis Shalat dzuhur  kami berangkat menuju tempat tujuan, namun siapa yang tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita satu menit ke depan bahkan satu detik ke depan, ketika tiba di tengah perjalanan saya mengalami Kecelakaan, motor yang saya kendarai tabrakan dengan sebuah Mobil yang mengakibatkan kaki saya luka parah dan motor saya rusak parah.

Dalam kejadian tersebut sempat membuat Kemacetan di TKP, saya masih sadar dan mencoba menenangkan diri sambil menahan rasa sakit, teman-teman yang Menemani saya pada saat itu terus mencoba menenangkan sambil memeluk saya, ada juga beberapa teman yang menangis histeris pada saat melihat kondisi saya seperti itu. Kaki saya luka parah dan yang saya lihat pertama kali adalah kondisi kaki saya yang robek dan ada yang terlihat tulangnya saja, mendapati kejadian tersebut saya belum bisa percaya bahwa itu adalah saya, saya  sempat bergumam dalam hati ‘ini bukan saya’. Tak lama kemudian saya dibawa ke Puskesmas terdekat menggunakan Ambulance,  di dalam Ambulan teman-teman tetap berusaha menenangkan saya sambil istigfar, sesampai di Puskesmas saya tidak langsung ditangani karena tenaga Kesehatan yang minim dan juga mungkin masih ngeri melihat kondisi kaki saya yang seperti itu.

Iklan

Setelah beberapa Menit Berada di Puskesmas saya baru ditangani oleh perawat di sana, kaki saya dibersihkan kemudian dijahit sebanyak Tujuh jahitan. Kalau berbicara sakit saya tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata, kuku kaki yang kelebihan dipotong saja sakitnya minta ampun apalagi kaki yang berpisah daging dengan tulangnya. Tapi dalam kondisi seperti itu saya merasa sangat bersyukur karena saya dikelilingi oleh Teman-teman yang sangat peduli dengan saya, dan kedatangan senior-senior saya membuat saya lebih bersemangat, seperti ada pancaran energi positif ketika mereka mengunjungi saya, dan hal itu membuat saya sangat Bersyukur.

BACA JUGA  Menjembatani bakat santri

Awalnya pada hari senin tanggal 24 Agustus 2020 saya akan Praktik Kerja Lapangan di Pengadilan Negeri Selong namun tampaknya Tuhan punya rencana lain yang mengharuskan saya untuk tidak mengikuti Praktik Kerja Lapangan. Ada banyak sekali Rencana-rencana yang akan saya lakukan pada hari-hari ke depan namun seperti di awal tadi di dunia ini tidak ada yang pasti selain Rencana Tuhan. Rencana hanya tinggal Rencana biar lah Hidup ke depan Tuhan yang Atur. Saya percaya setiap yang terjadi di Muka Bumi ini baik itu kejadian menyenangkan atau menyedihkan selalu terselip Hikmah dibaliknya. Saya tidak tahu apa maksud Tuhan memperlakukan saya seperti ini namun saya Yakin ke depannya Tuhan punya Rencana yang lebih Baik dan Ada Hikmah besar yang terselip didalam-nya.

Kadang saya berpikir “Kenapa harus saya?” yang terluka pada saat Kecelakaan itu namun dalam hati saya berkata “Memang harus saya” karena itu merupakan Takdir Tuhan yang sudah dituliskan jauh sebelum saya lahir ke dunia ini.
Sekarang yang harus saya Pikirkan adalah bagaimana saya bisa berjalan normal seperti biasa lagi, berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk benar-benar sembuh, dengan Kondisi kaki seperti ini apa yang bisa saya lakukan, saya benar-benar harus memikirkan bagaimana saya akan memulai Hidup dengan Kondisi yang baru, entah kaki saya akan kembali normal seperti biasa atau akan seperti apa. Sebelum kecelakaan itu terjadi saya sering Bercermin sambil memperhatikan tubuh saya sembari berkata “Kita tidak akan tahu kejadian apa yang akan menimpa kita ke depannya yang sewaktu-waktu bisa membuat kita kehilangan salah satu dari anggota tubuh kita” dan benar saja kejadian ini membuat saya menjadi tidak sesempurna seperti biasanya, dan membuat Saya menjadi versi yang Baru.

Namun dengan Kondisi seperti ini saya masih tetap harus menulis, mengejar target untuk mendapatkan Kartu Jurnalis, namun bukan semata-mata untuk sebuah Kartu melainkan lebih dari itu. Dengan menulis setidaknya saya mengabadikan setiap detak detik yang saya alami, dengan menulis saya bisa membagikan Pengalaman Pahit manis dalam hidup saya yang mungkin saja bisa memberikan dampak Positif untuk orang lain. Dalam setiap tulisan saya, saya ingin orang-orang mengambil pembelajaran darinya entah tulisan yang bersifat edukasi maupun pengalaman.
Setidaknya dengan mendapati kejadian seperti ini saya tahu bagaimana rasanya tabrakan dengan mobil, saya tahu bagaimana rasanya dibawa menggunakan Ambulance, saya tahu bagaimana rasanya dijahit, saya tahu bagaimana rasanya orang tidak punya kaki meskipun kaki saya masih normal namun kalau tidak bisa berfungsi seperti biasanya sama saja rasanya seperti tidak punya kaki.

Saya ingin orang-orang Belajar dari kejadian ini bahwa, segala rencana yang telah kita rancang dengan baik harus selalu melibatkan Allah didalamnya. Didalam setiap rencana yang kita rancang harus selalu menyandarkan semuanya pada Allah SWT, dalam setiap rencana harus dibarengi dengan ikhtiar dan tawakal supaya nanti ketika rencana tidak berjalan sesuai yang diharapkan kita bisa menerima kenyataan dan tidak Kecewa terlalu mendalam. Karena Manusia seringkali kecewa karena dirinya sendiri namun jarang ada yang menyadari bahwa kekecewaan itu berasal dari dirinya sendiri hingga tak sedikit orang yang Merasa Kecewa menyalahkan Tuhan padahal belum tentu rencana yang kita anggap baik memang benar baik untuk kita, kalau berbicara sudut Pandang, sudut Pandang Tuhan lebih luas, Tuhan tahu mana hal yang memang cocok untuk hambanya mana yang tidak cocok, dan Takdir manusia Proporsional tidak ada yang sama.

BACA JUGA  Perjuangan dan Cinta Demi Terangi Papua

Kita juga harus memahami esensi dari sebuah musibah, ketika Musibah menimpa seseorang bukan berarti Tuhan tidak sayang tapi justru Tuhan sedang menyelamatkan Kita dari hal-hal yang lebih buruk lagi, sama seperti yang saya rasakan mungkin dengan adanya Musibah Kecelakaan ini dapat mencegah saya dari berbuat dosa dan kesalahan-kesalahan besar lainnya atau dengan musibah ini Tuhan meninggikan derajat saya. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman :

فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 19).

Dari ayat di atas kita harus benar-benar paham esensi dari sebuah Musibah. Dan ayat di atas pula menjadi pedoman Hidup untuk kita semua bahwa segala musibah yang kita hadapi terdapat banyak sekali kebaikan didalamnya, dapat kita simpulkan juga bahwa tidak semua hal yang baik menurut kita dapat benar-benar membawa kebaikan dalam diri kita, karena kita hannyalah Manusia yang lemah, tidak bisa melihat hal-hal ghoib, hal-hal yang tersembunyi dibalik semua kejadian.

Adanya Musibah tak lantas membuat kita putus Harapan kepada Tuhan justru dengan adanya musibah semakin meninggikan harapan kita kepada Tuhan, musibah juga tak lantas membuat semangat hidup kita berkurang, selama Ruh masih menempel pada Jasad selama itu pula kita harus tetap bersemangat untuk melanjutkan hidup seburuk apa pun kondisi yang menimpa kita karena Hidup adalah Amanah untuk kita, tanggung jawab untuk kita kalau kita tidak bisa bertanggung jawab atas nya siapa lagi yang akan bertanggung jawab atas hidup kita.

Tidak salah apabila seseorang Memiliki banyak rencana dalam Hidupnya namun yang salah adalah ketika kita menganggap semua Rencana itu akan benar-benar terjadi.
Tidak salah apabila seseorang menyusun Rencana besar dalan hidupnya namun yang salah adalah ketika ia Lupa menyandarkan semua Rencana dan Harapannya kepada Tuhan