Tuntutlah ilmu sebanyak mungkin
Sampai mendapat gelar muflihin
Gelar dunia perlu dijalin
Dengan ajaran rabbul a’lamin
Jaman lae’, saya teringat bahwa saya ditemani mengawali dunia studi di Madrasah Ibtidaiyyah NW Sukamulia, madrasah swadaya para orang tua kita. Lazimnya anak-anak seusia saya mungkin, jika mengawali masa studi formal mereka, mereka ditemani oleh orang tuanya, entah ayah atau ibunya. Namanya juga anak-anak, masih usia 6-7 tahunan belum seberani anak muda yang pergi midang ke inan catu’na (pergi ngapel: baca Sasak), perlu diantar bahkan dibujuk-bujuk dulu. Bahkan, saya pernah melihat seorang anak diantar hampir empat tahun, baru memiliki mental pergi ke madrasah sendiri. Ya, itulah proses, terkadang cepat dan terkadang sebaliknya.
Berbeda dengan anak-anak sekarang, jaman ite laek jek memang jarang ada PAUD dan TK. Anak sekarang pake PEMPERS ite laek jek ngodu KAMBUT. Saat itu, Anak anak seusia 3-6 tahunan besar di sawah, kebun dan di tempat bermain anak-anak REPOK lainnya, bahkan berlanjut sampai khatam MI. Saya masih ingat, bagaimana saya takut disuntik, takut disuruh bernyanyi di depan, takut disuruh menjadi petugas Apel, dan ketakutan lainnya. Aran jek kelas 1 masih, rame dengan nyanyian, idusan, tangisan, pesualan, bahkan nyenyerot jadi warna harian bapak ibu guru kita. Haha, sepanjang lima kelas, kecapret sik toin batur kemi, sambil nangis sebelo-belo langan. Belum lagi, ada sungai dekat madrasah, selalu kering dan di setiap genangan air menjadi markaz berkumpul untuk qada’ hajat, inne. Ala kulli hal, begitulah dinamika studi masa kecil.
Saya sadar, usia MI yang 6 tahun itu sudah berlalu dan menjadi kenangan. Ada banyak para teman dan guru yang telah meninggal, banyak teman yang sudah menikah dan bahkan menjadi sukses juga dalam bidang masing-masing.
Maulana mengatakan, “Tuntutlah ilmu sebanyak mungkin” , salah satu bait dari wasiat renungan masa. Sebenarnya ada banyak redaksi amr (perintah) menuntut ilmu pada bait syair yang lain, seperti ayo hai saudara, ayo hai saudari, tuntutlah ilmu setiap hari, jangan bermegah kesana kemari, agar selamat belakang hari, dan utlub bijiddin wala taksal wala tahini, innal uluma takunu ahsana safuni, dan inak amakku, si demen lek agame, silak serah anakde, beguru agame lek madrasah sak arak due dan banyak lagi. Untaian bait-bait yang indah penuh gugahan dari maulana menyemangati kita dalam belajar, meraih ilmu. Bait itu seakan mengisyaratkan kepada kita urgensi ilmu dan posisi ilmu dalam kehidupan beliau. Beliau menyadarkan kita semua, Sasak khususnya dan manusia secara umum, bahwa dengan ilmulah perubahan ke arah yang baik bisa dilaksanakan. Ilmu menjadi pondasi terkuat membangun pradaban, bukan cerita apalagi dongeng belaka. Ingatkah kita, bagaimana maulana belajar, bagaimana maulana menimba ilmu tanpa ada pemilahan, tanpa ada lelah dan bosan, tanpa keluh kesah layaknya kita. Seusianya, usia anak muda jaman itu, lebih memilih ngarat, ngaro dan melupakan ngaji sebagai eksistensi keberadaan manusia sesungguhnya. Ingatkah kita juga, bagaimana surban beliau terbakar karena nikmatnya belajar, harus ada perlawanan dalam bathin beliau antara pergi mengaji dan menemani ibunda beliau yang sedang sakit keras, dan pilihannya tetap mengaji. Ingatkah kita juga, bagaimana ketika Makkah dalam suasana pemberontakan dan madrasah Saulatiyyah diliburkan, beliau masih sempat menimba ilmu mujarrabat.
Lanjutannya, Sampai mendapat gelar muflihin. Dalam dunia akademik, Gelar muflihin jelaslah tidak ada. Gelar- gelar yang ada sesuai dengan jurusan dalam bidang studi yang diambil. Maulana menggunakan gelar produk pribadi yang terilhami oleh gelar-gelar dalam alqur’an bagi individu yang berkualitas, atau sebaliknya. Kata al-muflihin terambil dari kata falaha yang berarti dua; pecahan dan kekekalan, kemenangan dan keberuntungan. Kata ini juga bermakna sahur, karena manusia kuat menjalankan shaum jika dia makan sahur. Kata al-falah juga terdapat pada azan hayya alal falah (mari menuju kemenangan sejati). Ini berarti, menuntut ilmu sebanyak mungkin, bertujuan mendapat gelar muflihin. Gelar muflihin gelar hakiki yang menjadi idaman dan dambaan para penuntut ilmu akhirat, menjadi pribadi yang meraih kemenangan dan keberuntungan sejati yang bersifat kekal. Alangkah beruntungnya kita meraih gelar ini.
Tapi ingatlah! gelar dunia perlu dijalin, Dengan ajaran rabbul a’lamin. Maulana menyuguhkan sajian kajian yang berkelas dan mewakili keluasan pengetahuan dan kebijakan yang dimilikinya. Ketika kita diantarkan kepada keindahan pribadi ukhrawi, beliau tetap menarik kaki kita, mengingatkan dunia tempat hidup dan kehidupan kita saat ini. bagaimanapun hinanya dunia dalam pandangan sebagian sufi, dunia tetaplah dunia sebagai penghantar ke kehidupan berikutnya. Sebab itulah, gelar dunia perlu dijalin, diambil dan dituntut dengan sepenuh hati dalam mendapatkannya. Ya, dunia birokrasi tetap meminta ijazah terakhir kita, berlegalisir lagi. Bisa jadi, kebahagiaan fisik akan terhambat bahkan terabaikan gara-gara tidak ada gelar dunia ini. Menjadi wajib pula menjalinnya, jika menuntut kesejahteraan yang wajib meraihnya.
Terakhir, raihlah gelar dunia itu dengan semangat ketuhanan yang kuat. Jangan hilangkan ilahiyyat dalam tradisi menuntut kita. Jangan membeli skrifsi thesis disertasi, dan jangan membeli ijazah. Ijazah masyarakat itulah ijazah mengkilat dan merekalah yang menjadi ikutan sejati!
Ciputat, 18 April 2015




