GELAR TUAN GURU BAJANG (TGB) (Sejarah Lama Terulang Kembali, Dari Ninik Sampai Cucu M. Zainul Majdi)

banner post atas

Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa

Gelar Tuan Guru Bajang (TGB) adalah gelar murni dari masyarakat. Gelar spontanitas dari jamaah setelah mengetahui kualitas keilmuan M. Zainul Majdi muda. Sebuah histori penyematan yang membuat kita bisa berkata, “Sejarah lama terulang kembali.”

Kok bisa demikian (sejarah lama terulang kembali), bagaiman sih ceritanya?

Iklan

Nah, berdasarkan penuturan TGH. M. Azhar, bahwa pada tahun 1828 M. berdirilah Desa Pancor. Sekarang dikenal dengan Kelurahan Pancor. Kepala Desa pertamanya bernama Jero Mehram. Orang Sasak, tapi dipanggil Jero. Sehingga salah satu nama kampung di Kelurahan Pancor ada yang bernama Jerone.

“Salah satu kebaikan sang Kades adalah ia pernah mewakafkan sebidang tanahnya untuk pembangunan masjid Jamik at-Takwa Pancor sekarang ini.” Begitu cerita Tuan Guru yang merupakan salah satu murid Maulana Syaikh tersebut.

Namun, –lanjut TGH. Azhar– dalam perjalanan waktu, Sang Kades Jero merasa kesepian mengurus masjid seorang diri. Maka pda saat itu, ia teringat bahwa di Kelayu ada TGH. Umar yang memiliki putra tamatan Makkah bernama TGH. Badrul Islam.

Setelah mencari tau, dan usut-diusut akan ada kemungkinan “peluang” (dijodohkan dan mau tinggal di Pancor), maka tertariklah ia untuk menikahkan putrinya. Dengan harapan agar di kemudian hari bisa dijadikan patner berjuang mentakmirkan masjid Jamik Pancor ini.

Singkat cerita, sepakatlah Tuan Guru Umar dengan Kades Jero Mihram untuk menikahkan putra-putri mereka.

Setelah biduk rumah tangga dibangun, si mertua pun minta agar Tuan Guru muda yang sedang menjadi pengantin baru tersebut, untuk tinggal bersamanya di Pancor agar ada yang menjadi pengurus masjid Jamik At-Takwa ini.

TGH. Badrul Islam pun tinggal menetap di Pancor. Kehadirannya yang dibekali dengan kebeningan ilmu dari Makkah, membuat jamaah dan masyarakat menerima dan merasa mendapat berkah darinya, serta ingin berlama-lama dengannya.

Namun, وتلك الأيام نداولها بين الناس (begitulah hari-hari ini akan terus berputar dalam poros kehidupan manusia). Setelah puluhan tahun berlalu, Sang Tuan Guru pun disapa masa tua. Saat itulah jamaah bertanya-tanya; “Siapa gerangan yang akan bisa menggantikan pemimpin agama sekelas Tuan Guru ini?”.

Rupanya, jamaah Pancor kala itu tidak mengetahui kalau Datuk Majid (Ayahanda Maulana Syaikh) telah pergi menyekolahkan putranya (Saggaf) ke Makkah. Dan memang, Datuk Majid sendiri sengaja tidak menceritakan “rihlah ilmiah” putranya.

Belasan tahun berlalu, Sanggaf muda yang telah berganti nama menjadi Muhammad Zainuddin sudah menyelesaikan pendidikannya di Shaulatiyyah Makkah, dan atas restu para gurunya beliau pun pulang ke tanah air (Pancor).

Berita kepulangan putra Datuk Majid ini diketahui oleh para jamaah. Terutama, mereka yang selama ini menanti-nantikan sosok pengganti TGH. Badar. Akhirnya, mereka pergi salaman, menjemput dan seketika itu mereka langsung ramai-ramai menyematkan panggilan, “Tuan Guru Bajang”.

“Itulah sejarahnya. Bahwa di masjid At-Takwa ini telah ada sejarah lama yang di situ telah terdengar panggilan ‘Tuan Guru Bajang’ untuk Maulana Syaikh saat masih muda.” Kata Tuan Guru Azhar.

Rupanya, sejarah itu adalah produk waktu setiap saat. Dengan kata lain, semua kita adalah pencipta sejarah. Apa yang kita kerjakan hari ini, menjadi sejarah bagi generasi kita kelak di kemudian hari. Ternyata, apa yang dialami TGH. Badar dahulu, juga dialami Maulana Syaikh di kemudian hari.

Di usia senja Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid atau terlebih selepas wafatnya, jamaah Pancor selalu bertanya-tanya; “Siapakah kiranya yang patut dan layak menggantikan Maulana Syaikh?.”

“Rupanya orang-orang tidak mengetahui M. Zainul Majdi muda itu sedang sekolah di Al-Azhar Cairo Mesir. Mereka tidak mengetahui, karena hal itu tidak digembar-gemborkan dan dia sendiri tidak sampai selesai Ma’hadnya.” Kata Tuan Guru Azhar bercerita dalam vidio yang bisa didownload itu.

Sekitar tahun 2001, setelah M. Zainul Majdi muda menyelesaikan Masternya, ia pun pulang ke kampung halamannya. Berita kepulangannya membuat penasaran para jamaah. Sehingga mereka meminta kepada TGH. Azhar (shahibul kisah) selaku ketua pengurus masjid Jamik At-Takwa Pancor, pun didesak untuk mengundang alumnus Mesir itu.

Permintaan para jamaah pun dikabulkan TGH. Azhar. Sampai di satu malam, mereka didatangkan M. Zainul Majdi muda untuk ikut shalat berjamaah Isya bersama-sama. Para jamaah pun membeludak malam itu. Lalu, selesai shalat Ketua masjid tersebut memperkenalkan dan mengulas tentang keluarganya.

Jamaah yang sedang diliputi hening mendengar riwayat pendidikan M. Zainul Majdi muda yang gemilang, seketika itu para jamaah histeris mengatakan bahwa “Sejarah lama terulang kembali.” Sekaligus mereka menyentempel ulama muda itu dengan sebutan “Tuan Guru Bajang” sampai berkali-kali.

“Alhamdulillah, apanyangbkita ungkapkan dulu itu ditulis dalam sejarah. –Ma syaa Allah– sekarang ini yang mengenal beliau dengan sebutan Tuan Guru Bajang atau TGB itu bukan di Lombok, NTB saja, tapi di seluruh Indonesia.” Begitu kenang TGB. Azhar menutup ceritanya sembari mohon maaf mungkin ada kekhilafannya.

Walhasil. Ternyata gelar Tuan Guru Bajang (TGB) adalah sebuah sejarah lama yang terulang kembali. Dan bagi saya (penulis) bisa membaca sisi kesamaan antara TGB dengan Niniknya sebagai berikut;

Pertama, jejak gemilang pendidikan TGB tersimpan penuh misteri di publik jamaah Pancor kala itu, layaknya jejak pendidikan Sang Ninik yang juga menjadi kejutan setelah kepergian TGB Badar.

Kedua, antara cucu dan Ninik sama-sama memperoleh “Ijazah termulia” (meminjam istilah Maulana Syaikh sendiri), yaitu ijazah masyarakat berupa pelimpahan kepercayaan dari jamaah akan intlektual beliau, dan sekaligus sama-sama memperoleh penyematan gelar “Tuan Guru Bajang” dari jamaah langsung.

Ketiga, sama-sama menyandang gelar Tuan Guru Bajang setelah mengalami sleksi alami dari sifat kritis jamaah dan masyarakat di tempat kelahirannya. Jadi, gelar Tuan Guru Bajang yang disandang Muhammad Zainul Majdi muda adalah bukan “gelar klaim”.

Terakhir, ada saya pernah dengar seorang guruku berujar, bahwa Maulana Syaikh pernah berkata, “Saya akan tetap bajang”. Kata Maulana ini tentu menjadi misteri dan menjadi pertanyaan panjang.

Namun menurut hemat saya, bisa jadi fakta sekarang inilah jawaban dari pernyataan Maulana tersebut. Di mana fakta saat ini bahwa M. Zainul Majdi hingga detik ini masih dipanggil Tuan Guru Bajang (TGB). Meski, TGB sendiri berulang kali menyetop panggilan khas tersebut, sebab usianya juga sudahbtak muda lagi.

“Nasi sudah menjadi bubur” (sudah kadung Nusantara memanggil dengan sebutan “TGB”, tak lagi bisa distop). Kini, TGB hanya bisa menjadikan panggilan itu sebagai sebuah amanah dan tanggung jawab untuk selalu berkhidmat bagi umat.

Semoga TGB selalu sehat wal aifiat!.

Wa Allah A’lam

PP. Selaparang, 08 Oktober 2020 M.