Oleh: M. Rusli Nasir
Secara normatif, lambang seringkali diartikan sebatas penghias, seperti bendera atau vigura dalam sebuah ormas. Nyaris makna, spirit dan filosofi yang diungkap dalam diamnya tak pernah digali dan dibahas.
Tulisan kali ini mengajak, untuk kita menggali sejenak, makna yang tersirat pada lambang Yayasan Islam Selaparang yang telah berkontribusi banyak, bagi agama dan bangsa sejak zaman Belanda dan Jepang datang mengkoyak-koyak.
Menurut penuturan guru saya Ust. Drs. HL. Agus Efendi kepada penulis, “Lambang Selaparang ini telah mengalami empat kali revisi. Untuk lambang yang pertama dibuat oleh Mamiq Sin (Ayahanda Raden TGH. L. Pattimura Farhan). Untuk perubahan kedua, ketiga dan keempat yang terakhir sekarang ini dari saya sendiri”, kata beliau, 25 Juli 2019.
Seperti apa lambang itu, dan apa saja makna-makna yang hendak diungkapnya?
Secara umum lambang Selaparang tersusun komplit dalam bentuk, “Buku (Kitab) dan pena sebagai lambang dasar utama. Lumbung rumah adat Sasak menjadi latar. Diujung pena ada bulan dan bintang bersinar lima yang dilingkari merah putih segi lima sebanyak 17 buah.
Lalu, lambang inti tersebut dilengkapi dengan simbol berikutnya berupa selendang putih bertuliskan nama Yayasan Islam Selaparang Kediri, dan nama Yayasan ini ditulis dengan kombinasi tulisan Arab-Indonesia, dan terakhir di bagian paling luar ada seutas tali pita melingkar besar.”
Makna-makna atau spirit yang dikandung dalam diamnya ialah;
KITAB (Al-Qur’an & Turas) simbol pertama dan utama. Banyak makna dan pesan yang dikandungnya, antara lain:
Kitab (al-Qur’an) sebagai isyarat satu-satunya peninggalan Rasulullah saw. sebagai pegangan yang utama. Sebuah kitab suci yang menjadi pedoman meraih keselamatan dunia akhirat. Kata Nabi saw. bahwa tidak akan tersesat orang yang berpegang padanya.
Santri, alumni dan keluarga besar, serta para pecinta Pondok Pesantren Selaparang diajak bernaung di bawah lembaran-lembaran kitab suci, agar hidupnya bersih dan tertuntun rapi.
Kitab dalam makna sebagai “Kutub at-Turas” (kitab kuning) adalah sebagai pesan central dari Selaparang untuk semua yang ada keterlibatan hati dan bathinnya dengan pondok berkah ini, agar dengannya berkenan menjaga agama.
Menjaga agama? Ya.
TGH. L. Mahsun pernah berujar kepada penulis, “agama itu di kitab (kitab kuning).” Artinya, apabila ingin memahami agama lebih luas dan lebih konprehensif, maka galilah dalam kitab-kitab kuning karya ulama Ahlussunnah Wal Jamaah (ASWAJA).
Sementara itu, kitab dalam makna kedua-duanya (al-Qur’an dan Turast), bagi Selaparang memiliki history dan bukti otentik sebagai kelayakan penisbatan berlambang dengannya. Apakah itu?
Pondok Pesantren Selaparang memiliki satu “Pusaka Suci” berupa al-Qur’an yang bertulis tangan dengan tinta basah, dan telah berusia ratusan tahun.
Menurut sumber dari kalangan keluarga, umur al-Qur’an ini diperkirakan sekitar 500 tahun. Jika satu generasi berumur 50-70 tahun. Kini al-Qur’an tulisan tangan tersebut berada pada generasi ke-7. (Lihat biografi Syaikh TGH Abdul Hafidz Sulaiman hal. 217-220).
Maka dengan demikian, melalui bahasa diamnya, lambang tersebut sebenarnya telah menjadi penanda, bahwa Keluarga Besar Pondok Pesantren Selaparang sudah dewasa dalam menyikapi setiap problem dengan merujuk kepada kitab suci al-Qur’an.
Atau, makna lainnya bisa juga sebagai simbol harus merujuk kepada kutub at-Turats (kitab kuning) yang “muktabar”, seperti merujuk kepada kitab-kitab utama ulama dari empat mazhab yang disepakati, khususnya mazhab Syafii dalam fikih, Imam Ghazali dalam tasauf, dan Abu Musa al-Asya’ari dalam aqidah.
PENA, bagian inti kedua dari Lambang Selaparang.
Penempatan pena juga bukan sembarang taruh. Tapi, melalui pena ini ada upaya dari pembuat lambang, untuk menangkap pesan utama Syaikh TGH Abdul Hafidz Sulaiman selaku Pendiri Pondok Pesantren Selaparang berupa, harus ada usaha transpormasi ilmu melalui “kitabah” (tulisan).
Mungkin ada yang bertanya.
Bila demikian adanya, mengapa Syaikh TGH Abdul Hafidz Sulaiman tidak mewariskan ilmu melalui karya tulis?
Jawabannya, karena –bagi beliau– masih sangat banyak ilmu dalam kitab-kitab karya ulama terdahulu yang belum habis dibacanya. Sehingga menurut hemat saya, ini adalah bagian dari ketawadduan beliau terhadap ulama-ulama seniornya, di samping kesibukannya mengajar.
“Saya malu sama ulama-ulama terdahulu yang telah meninggalkan banyak kitab untuk dikaji.” Kata Ustazuna Muhammad Darwan menirukan bahasa Syaikh TGH Abdul Hafidz Sulaiman.
Walhasil, yang jelas ialah bahwa pena adalah senjata utama para santri. Sehingga, Syaikh TGH Abdul Hafidz Sulaiman saat mengajar selalu menekankan kepada para santri akan perlu dan pentingnya mendabit kitab. Demikian cerita Ustazuna Abdul Hakim Adeng.
LUMBUNG RUMAH ADAT SASAK. Lambang yang satu ini menjadi sebuah gambaran penting akan adanya pesan kesejahteraan lahiriyah.
Bila dua lambang sebelumnya (kitab dan pena) sebagai lambang yang memberi sinyal pemenuhan kesejahteraan batiniyah berupa ilmu, maka lumbung rumah adat Sasak ini sebagai bagian dari upaya memberi sinyal akan perlu kiranya kita memastikan kesejahteraan lahiriyah. Pengembangan ekonomi.
Kesejahteraan batiniyah dan lahiriyah terbingkai dalam satu pintalan lambang Selaparang.
BULAN BINTANG BERSINAR LIMA. Secara simbolik lambang ini bermakna; Bulan artinya melambangkan Islam. Bintang sendiri memiliki makna Iman dan Islam. Sedangkan sinar limanya menunjukkan rukun Islam yang lima.
Melalui lambang ini, Pondok Pesantren Selaparang ingin menegaskan kepada para santri dan seluruh alumninya, agar mereka hadir di tengah komunitas manusia sebagai bintang-bintang terang, yang berlandaskan Iman dan Islam. Menghadirkan diri sebagai buah didikan Selaparang yang berprestasi laksana bintang.
MERAH PUTIH. Jumlahnya tujuh belas.
Putihnya bersegi lima dan merahnya bersegi empat. Putihnya melambangkan kesucian. Merah berarti keberanian. Kesucian hati dan pikirannya berlandaskan Islam yang berukun lima. Keberanian dan ketegasannya bagaikan Khulafa ar-Rasyidin yang empat orang.
Sisi lain dari bagian lambang Merah Putih ini, tentu sebagai penegasan utuh akan ke-Nasionalisme-an para santri dan alumni Pondok Pesantren Selaparang. Juga sebagai terjemahan dari contoh baik yang telah diwariskan oleh Syaikh TGH Abdul Hafidz Sulaiman yang pernah menjadi anggota Konstituante utusan dari Lombok agar berbuat untuk bangsa.
Dengan kata lain, di mata Pondok Pesantren Selaparang, bahwa apa pun yang terkait dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), semuanya telah khatam dan final. Termasuk di dalamnya tentang kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17, dasar-dasar negara dan sistem pemerintahan.
Nah… kemudian selanjutnya, di bawah lambang utama dengan lima komponen berupa kitab, pena, lumbung rumah adat Sasak, bulan bintang bersinar lima, merah putih dengan sembilan sudut sejumlah 17, yang keseluruhannya menampilkan pesan dan makna akan perpaduan kesejahteraan batiniyah dan lahiriyah, juga penanaman nilai spirit keislaman dan semangat kebangsaan.
Maka, semua satuan komponen tersebut diwadahi oleh sebuah GULUNGAN SELENDANG warna putih yang bertuliskan “Yayasan Islam Selaparang”, sebagai isyarat pesan kepada semua putra-putri didikan Pondok Pesantren Selaparang untuk selalu ingat “Piring semula”, di manapun kalian berkhidmat dan mengabdikan diri.
Ikatlah diri kalian sebagai sesama alumni dengan satu wadah utama bernama “Yayasan Islam Selaparang” melalui satu sayap persatuan alumninya yang diberi nama, “Ikatan Santri Alumni Pondok Pesantren Selaparang” (ISAPAS).
Dan penulisan nama Yayasan dengan KOMBINASI TULISAN ARAB-INDONESIA, sebagai bagian dari bahasa cinta kepada bangsa Arab. Landasan sikap ini, paling tidak adalah hadis Nabi saw. –meski sebagian menilainya marfu– berikut ini;
أحبوا العرب لثلاث لأني عربي والقرآن عربي وكلام الجنة عربي .
“Cintailah Arab karena tiga hal, karena Nabi saw. orang Arab. Al-Qur’an berbahasa Arab, dan di dalam surga berbahasa Arab.” (HR. at-Thabrani).
Dan terakhir TALI PITA. Lambang paling luar ini membentuk bola dunia, dengan ikatan kuat di bagian bawah yang membentuk angka delapan (Agustus) sebagai bulan kemerdekaan. Ini adalah pesan kebangsaan untuk semua santri dan alumni Pondok Pesantren Selaparang agar mengisi kemerdekaan dengan semangat menabur kebaikan bagi semesta raya.
Wa Allah A’lam!



