Diskusi Umum Konferensi Internasional Studi Islam, H. Muslihan Habib : Korelasi Agama dan Kemanusiaan

Diskusi Umum Konferensi Internasional Studi Islam, H. Muslihan Habib : Korelasi Agama dan Kemanusiaan

Nilai-nilai kemanusiaan semacam ini tentu menjadi pijakan penting kita saat berinteraksi dengan banyak persoalan hukum. Prof. Quraish dalam banyak kesempatan sering mencontohkan sebuah sikap prioritas ketika kita dihadapkan pada sebuah situasi antara menunaikan ibadah haji, atau membantu keluarga dekat kita yang terlantar! Tentu membantu keluarga harus menjadi prioritas, sebab itulah nilai kemanusiaan.  “Agama ini diturunkan Tuhan untuk manusia. Bukan manusia untuk agama,” Kita perlu ingat, bahwa meskipun banyak hadis tentang pentingnya amal ibadah, juga diimbangi dengan banyaknya hadis yang menekankan tentang sifat kemasyarakatan dan kemanusiaan.

Pentingnya menghargai tamu, pentingnya menyenangkan hati tetangga kita sendiri, pentingnya interaksi sosial dan membantu sesama. Bahkan disabdakan kalau bakti kepada orang tua, pahalanya seperti berhaji, umrah, juga berjihad. Nabi Muhammad Saw sepanjang hayatnya lebih banyak didedikasikan untuk membela kaum lemah dan tertindas serta melawan keserakahan dan keangkaramurkaan.

Beliau lebih banyak menjalankan aneka bentuk ibadah sosial-kemasyarakatan ketimbang ritual-ritual keagamaan yang bersifat personal. Dalam sebuah kaedah fiqih juga dinyatakan: “al-muta’addiyah afdhal min al-qashirah” (ibadah sosial jauh lebih utama daripada ibadah individual).
Sebuah kisah yang dituturkan oleh imam Al-Ghazali bisa kita ambil hikmahnya. Bahwa seorang yang ahli ibadah, tak pernah tertinggal salat tahajud, namun akhirnya malaikat mengabarkan kalau itu tidak diterima, na’udzubillah.

Sebab dia hanya fokus kepada sajadah, hingga mengabaikan tetangganya yang kelaparan dan butuh bantuan. Manusia harus memiliki prinsip, nilai, dan rasa kemanusiaan yang melekat dalam dirinya yang bersumber dari agama. Manusia memiliki perikemanusiaan, tetapi binatang tidak biasa dikatakan memiliki peri kebinatangan. Hal ini karena binatang tidak memiliki akal budi, sedangkan manusia memiliki akal budi yang biasa memunculkan rasa atau perikemanusiaan. Perikemanusiaan inilah yang mendorong perilaku baik sebagai manusia.

Dalam Islam, tidak ada pemisahan antara ibadah yang bersifat vertikal dan ibadah yang bersifat horizontal. Sebagai kegiatan ibadah yang bersifat vertikal, shalat, misalnya, dilakukan untuk mengingat Allah. Ibadah khusus (vertikal) adalah tugas manusia sebagai hamba Allah, dan ibadah umum (horizontal) adalah tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Dengan demikian manusia sebagai hamba Allah dan khalifah merupakan kesatuan yang menyempurnakan nilai kemanusiaannya sebagai makhlik Allah yang memiliki kebebasan berkreasi dan sekaligus menghadapkannya kepada tuntutan kodrat yang menempatkan posisinya kepada keterbatasan.
Dalam Islam, ada dua kategori ibadah, yaitu (1) ibadah qashirah (ibadah individual) yang pahala dan manfaatnya hanya dirasakan oleh pelaku ibadah saja dan (2) ibadah muta’addiyah (ibadah sosial) dimana pahala dan manfaat ibadahnya tidak hanya dirasakah oleh yang bersangkutan tetapi juga oleh orang lain. Sebagai contoh “ibadah individual” ini adalah haji, umrah, puasa, salat, dan lainlainnya.

Sementara contoh “ibadah sosial” adalah menyantuni anak yatim, membantu fakir-miskin, memberi bantuan beasiswa pendidikan, menolong para korban bencana, menggalakkan penanggulangan kemiskinan dan kebodohan, merawat alam dan lingkungan, berbuat baik dan kasih sayang kepada sesama umat dan mahluk ciptaan Tuhan, menghargai orang lain, menghormati kemajemukan, dan masih banyak lagi. Semua itu merupakan bentuk-bentuk ibadah sosial yang memberi manfaat atau kemaslahatan kepada masyarakat banyak.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA