TGB Zainul Majdi, politisi muda yang menggabungkan antara dakwah dan politik sebagai medan perjuangan. Mochammad Zia Ulhaq.
Diskusi mingguan HIMMAH NW Jakarta kali ini membedah sebuah Tesis yang ditulis oleh Mochammad Zia Ulhaq, mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah. Sore hari di Rumah Perjuangan HIMMAH NW tempat membedah tesis ini, Bang Zia, begitu sapaan akrabnya menjelaskan TGB adalah fenomena yang unik yang ditemukan pada kontestasi politik di Indonesia. Seorang ulama muda yang bernama TGB muhammad Zainul Majdi, penghafal al Quran yang juga seorang politisi, aktif dalam kegiatan poltik di Indonesia untuk pertama kali pada tahun 2004 sebagai anggota DPR RI. Kemudian pada tahun 2008 TGB maju pada Pilkada NTB. Keterlibatannya dalam politik diartikan sebagai medan perjuangan untuk karena ikut terlibat langsung dalam merancang dan mengambil kebijakan, jelas pemuda asal Cilegon, Banten ini.

Tesisnya ini, ungkap anak muda satu anak ini, mendukung penelitian-penelitan yang menyatakan bahwa seorang ulama sebagai tokoh agama mampu menjadi pelopor perubahan sosial dan politik di masyarakat. Seperti Geertz dan Horikoshi, yang menyatakan bahwa seorang tokoh agama adalah seorang yang memiliki keistimewaan, dia mampu menjadi sumber perubahan sosial masyarakat dan pesantern. Dia juga sebagai makelar budaya (cultural broker) memiliki pengaruh yang kuat dan mampu menjembatani berbagai kepentingan melalui Bahasa yag dipahami dan dimengerti oleh masyarakat.
Tesis ini juga tambahnya, membantah argumen yang menyatakan, seorang ulama atau tokoh agama hanya berada dalam lingkungan pondok pesantren dan berceramah saja. Seperti Eko Setiawan yang ditulis dalam jurnalnya, yang menyatakan keterlibatan Kyai dalam politik praktis akan melunturkan identitasnya sebagai tokoh agama, Kyai adalah orang yang fokus dalam lingkup kegiatan belajar mengajar di lingkungan Pondok Pesantren saja. Abdurrahman dalam jurnalnya, Fenomena Kyai dalam Dinamika Politik, bahwa seorang ulama adalah tokoh agama yang dihormati dan dekat dengan santri, bukan ulama yang terjun dalam politik cendrung menggunakan agama untuk kepentingan politiknya.
Menurutnya, pemuda berbadan kekar ini, kepemimpinan TGB sebagai Gubernur NTB dua periode, meningkatkan pertumbukan ekonomi sampai 9,9 persent. Melampaui pertumbuhan ekonomi secara nasional yang mencapai 4,9 persen. Bahkan bagi mahasiswa yang akan wisuda Februari nanti, pencapaian TGB ini yang kental dengan nilai-nilai Islam diantaranya : pertama, menghadirkan konsep halal dengan dibantu tokoh agama, tokoh adat, maupu pemuka masyarakat. TGB membuat tempat wisata dengan konsep wisata halal. Dengan memenangi ajang kompetisi The World Halal Travel Summit tahun 2015 di Abu Dhabi, Uni Emirate Arab (UEA) dalam katagori Worlds Best Halal Tourism Destination, Worlds Best Halal Honeymoon Destination, and Worlds Best Family Friendly Hotel. Kedua, menginisiani terbentuknya Bank NTB Syariah Membangun Ekonomi yang berkeadilan. Ketiga, menyemarakkan ibadah Ramadhan dengan mengundang imam-imam besar terkenal dari Timur Tengah. Keempat, mengubah slogan NTB dari Bimi Gora menjadi Bumi Al Quran.
Tesisnya menyakini bahwa retorika dakwah yang dilakoni TGB memiliki pengaruh yang besar dalam karirnya berdakwah dan politik melalui pesan dakwah, mendapat citra tuan guru yang religius, yang mana citra ini menghantarkannya Gubernur dua periode. Retorika dakwah dan politik TGB menurutnya, TGB mengkombinasikan keduanya. Retorika dakwahnya meliputi dakwah bil hikmah, mengajak bicara kepada akal manusia dengan cara yang baik dengan dalil-dalil ilmuah memuaskan, dengan bukti-bukti logika dan cemerlang. Kedua, retorika melalui metode mauizhah hasanah, mengajak berbicara kepada hati dan perasaan agar menyadari dan tergerak untuk mengamalkan suatu kebaikan. Ketiga retorika mujadalah billati hiya ahsan, melakukan dialog dengan keduabelah pihak secara sinergis, yang tidak melahirkan permusuhan.
Sedangkan retorika politik TGB menurut Zia, sapaan akrabnya, mengggunakan retorika politik deliberatif, suatu narasi dengan konsep untuk masa depan bertujuan mempengaruhi dan meyakinkan seseorang pada hal kebijakan-kebijakan pemerintah. Kedua, retorika politik forensic, suatu retoris yang menunjukkan suatu kebenaran yang ada pada masa lalu dengan mendasarkan argumentasi dengan bukti-bukti otentik. Ketiga, retorika demonstratif yang berorientasi pada memuji pilihan politik dengan memperkuat argumentasi dari kebaikannya dan menguak sifat negative lawan politik.
Kritik Zia dalam tesisnya ini, yaitu sikap politik TGB yang dianggap termasuk dalam kategori tipe rhetorically reflector (inkonsisten) dan tipe rhetorically sensitive (adaptif). Menututnya kedua tipe ini yang terbentuk melalui proses komunikasi retorika, lewat pernyataan atau narasi-narasipolitik. sikap dan identitas TGB dalam politik merupakan seorang yang tidak konsisten dalam sikap dan cenderung mengikuti keadaan dalam sikap politiknya. Ia menambahkan, itu terlihat dari beberapa kasus di lapangan diantaranya kegiatan politik TGB yang memiliki kedua identitas tersebut. Yang mana seorang politisi yang mudah berpindah tempat dari partai politik satu ke partai politik lain demi tujuan tertentu. Berdampak pada kebingungan pengikutnya dan terjadinya gesekan-gesekan di masyarakat lapisan paling bawah. Ini menajadi catatan bagi Zia, agar TGB menjadi kokoh dan instiqomah dalam mengambil keputusan yang bersifat politis, tidak mengambil suatu keputusan politik yang bersifat pribadi. Karena di belakangnya ada kader partai, ada masyarakat, ada umat serta murid-muridnya fanatic yang mengikuti jejaknya yang harus dipertimbangkan dengan matang, jelasnya sambal menutup diuskusi dan meminta tanya jawab. Wallahu alam (HIMMAH NW JAKARTA).




