Dikbud NTB Keluarkan 11 Strategi SMK Gemilang Karya, Cetak Siswa Terampil dan Siap Kerja.

Sinar5news.com – Mataram – Stigma masyarakat beberapa tahun lalu, banyak yang berpikir dan berpendapat bahwa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) hanya menghasilkan para pengangguran. Sehingga banyak dipandang sebelah mata dan masyarakat enggan masukkan anak-anaknya sekolah di SMK.

Iklan
Foto: Mesin Pengolahan Kopi dan Meja Kursi Karya Siswa SMKN 1 Kuripan Lombok Barat.

Akan tetapi, setalah dilantik pasangan Zul-Rohmi pada tahun 2018 yang laku, SMK menjadi pilot projects pertama yang dikembangkan sebagai industrialisasi di NTB. Dengan program yakni ‘SMK Gemilang Karya’ yang diluncurkan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (DIKBUD).

Seperti yang disampaikan Muhammad Khairul Ihwan Kepala Bidang SMK pada Dikbud NTB, bahwa program SMK Gemilang Karya memang tidak semulus apa yang dibayangkan, namun dari tahun ke tahun program ini mulai terlihat progresnya, meskipun butuh proses panjang untuk mewujudkannya.

Foto: Siswa SMKN 5 Mataram Lagi Membuat Batik Sasambo.

“Karena biasanya para lulusan SMK bingung, setelah lulus mau kemana, sehingga dilakukan revolusi besar-besaran di sistem pendidikan SMK waktu itu,”ungkapnya, Kamis (19/01/2022).

SMK Gemilang karya sendiri merupakan sebuah pengembangan arah kebijakan Pemprov NTB dalam dunia pendidikan yang bertumpu pada 11 strategi yang ada di dalamnya, yang mempunyai 2 tujuan.

Adapun tujuannya yaitu lulusan SMK harus terampil dan kompeten, kemudian lulusan SMK harus terserap. Hal itu maksudnya yakni terserap bekerja, terserap melanjutkan study, dan terserap berwira usaha. Dimana SMK saat ini di NTB sebanyak 99 SMK Negeri dan 235 SMK swasta dengan total jumlah lulusan pertahunnya 35.000 orang.

Dengan jumlah lulusan sebanyak ini, tentunya jika tidak dipetakan dengan seksama, mau dibawa kemana, maka boleh dikatakan NTB akan gagal mengelola pendidikan kejuruan, sehingga lahirlah 11 strategi SMK Gemilang karya.

Adapun Strategi tersebut yaitu refocusing SMK yang dimana bertujuan untuk memudahkan tata kelola, mengingat tata kelola yang baik adalah efektif dan efisien. Karena tidak mungkin satu sekolah melakukan kegiatan pengelolaan pendidikan beraneka ragam jurusan yang tidak ada kaitannya sama sekali.

Oleh karena itu, kata dia, SMK harus dikembalikan kemarwahnya semula, contoh SMK ekonomi rekayasa dan manufaktur atau dulu dikenal dengan sekolah STM, harus dikembalikan mengelola bidang tersebut sehingga tidak boleh ada jurusan pertanian di dalamnya demikian pula sebaliknya.

“Jangan ada SMK pertanian mengelola jurusan pertambangan, listrik, komputer karena itu akan menyulitkan tata kelola kita maka dengan program revolusi SMK kemarin semua sudah dikembalikan ke asalnya,” ucapnya.

Sehingga fokus refocusing adalah tujuan pertama Pemprov NTB, kemudian SMK harus segera menjadi BLUD, karena dengan sistem ini akan memudahkan tata kelola sekolah itu sendiri, sehingga industri bisa bersinergi dan melakukan perjanjian kerjasama dengan mudah.

“Sehingga hasil praktik anak-anak kita bisa dikolaborasikan, bayangkan saja kalau misalnya praktik yang menghasilkan produk jajanan roti akan terbuang sia-sia jika tidak dimitrakan dengan industri,” ujarnya.

Strategi berikutnya adalah pembelajaran berbasis produk, berbentuk kemasan dalam sistem pembelajaran atau teaching factory, yang pengertiannya akibat dari aktivitas kegiatan pembelajaran di sekolah maka akan melahirkan produk dan jasa.

Produk dan jasa yang lahir, sambung ihwan, harus bisa bernilai industri, sehingga bisa dijual dan diterima oleh masyarakat, karena itu merupakan indikator suksesnya sebuah praktik di sekolah SMK.

Selain itu, pembelajaran berbasis project yang dikemas dengan istilah kelas wirausaha, namun bukan klasing yang dilakukan tersusun seperti kelas industri akan tetapi kumpulan dari beberapa siswa baik itu lintas jurusan yang berkolaborasi menghasilkan sebuah karya industri.

“Seperti sepeda listrik ini dibuat dari hasil kolaborasi dari berbagai macam regu dan jurusan di luar jam sekolah atau yang disebut kelas wirausaha,”bebernya.

SMK Gemilang Karya juga menekankan Link dan Matc yaitu, perjanjian kerjasama industri dan sudah jelas ukurannya, bukan lagi nota kesepahaman yang tolak ukurnya tidak jelas, namun berbentuk perjanjian kerjasama, seperti ia mencontohkan ketika industri melakukan rekrutmen tenaga kerja maka harus memprioritaskan dari SMK mitranya.

Saat ini kata dia, siswa paling cepat beradaptasi sehingga harus diimbangi pula dengan kecepatan mengajar, maka dari itu, Guru harus magang di tempat-tempat industri baik satu minggu ataupun lebih tergantung dari konteksnya, sehingga program magang guru menjadi program wajib yang harus dilaksanakan oleh sekolah SMK di Nusa Tenggara Barat.

SMK juga harus memiliki bursa kerja internal, karena para alumni SMK harus bisa distribusikan untuk bekerja dan segala bentuk peluang harus mampu ditangkap, sehingga harus ada papan pengumuman di SMK tentang lowongan kemitraan untuk kelas wirausaha, dan semua dikelola oleh Sekolah itu sendiri.

“Nanti bursa kerja internal bisa bersinergi dengan bursa kerja di Disnaker dan bursa kerja yang lainnya, sehingga ini adalah tugas dari Pemprov NTB dalam rangka membantu lulusan SMK agar bisa bekerja,” katanya.

lebih Jauh ia mengatakan, bahwa ada beberapa industri yang membutuhkan siswa atau calon pekerjanya itu bersertifikasi, sehingga tidak mungkin dibiarkan lulusan SMK mencari sertifikat sendiri-sendiri yang berbiaya mahal, maka sekolah harus mampu menfasilitasi, oleh karena itu, sekolah harus memiliki lembaga sertifikasi profesi internal.

Namun ada sesuatu yang mulai luntur di siswa lulusan SMK saat ini yaitu, Pendidikan karakter, sehingga dikemas dalam bentuk Sabtu budaya atau budaya kerja SMK. Misalnya, membiasakan diri membersihkan bengkel sebelum bekerja, sedalam rentang waktu harus maintenance dan repair peralatan, kemudian ruangan kerja harus bersih untuk mencerminkan adanya keselamatan kerja.

“Hal ini harus dibudayakan di anak-anak kita seperti dari sisi pakaiannya dia rapi, pakai sepatu kerja, pakai kacamata dalam beberapa aktivitas-aktivitas lainnya,” paparnya

Strategi yang terakhir SMK Gemilang Karya itu adalah seluruh Insan sekolah baik itu guru dan siswa harus mengenal industri, dengan cara kunjungan atau yang disebut wisata belajar, sehingga pada saat mengajar guru bisa mencontohkan dari apa yang dilihat

“Guru-guru normatif juga jangan tinggal diam dia harus mengenal konteks jurusan yang diajarkan dan harus mengenal kemana anak-anak ini nanti akan bekerja, sehingga dalam pembekalan anak di materi tertentu bisa menyesuaikan diri saat mereka sudah masuk dunia kerja,” tandasnya.

Sehingga Ihwan berharap 11 strategi SMK Gemilang Karya harus dilakukan didalam sekolah karena pihaknya ( bidang SMK-red) sesuai instruksi dari kepala dinas Dikbud akan melakukan evaluasi setiap bulanya, sejauh mana kegiatan-kegiatan ini dilaksanakan oleh kepala sekolah dan jajarannya.

“Adapun bentuk evaluasinya kami minta bukti pelaksanaan berupa foto kegiatan, kemudian ada notulensi ada daftar hadir kemudian ada surat undangan, surat tugas dan berbagai bukti-bukti administrasi lainnya bahwa 11 strategi SMK Gemilang Karya sudah dilaksanakan dengan baik,” tegasnya.

Dengan terserapnya lulusan SMK ini diharapkan sejalan dengan visi misi Gubernur dan Wakil Gubernur NTB tentang industrialisasi. Sehingga lulusan SMK harus mampu mengambil peran dalam program itu sendiri, dan mampu menopang pertumbuhan industri kecil dengan teknologi dan kemampuan yang mereka dapatkan.

“Tidak boleh kita dengan program Industrialisasi ini, SMK malah menjadi pengangguran dan menjadi penonton di daerah sendiri,” ujarnya.

Oleh karena itu sejak dini harus disiapkan lulusan SMK yang berkompeten, supaya mampu menyerap peluang, mengingat NTB saat ini mempunyai banyak potensi, dan program industrialisasi olahan berbagai macam produk unggulan, yang banyak di olah dan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak sedikit serta yang hebat-hebat.

Melihat hal tersebut, Ihwan Meminta SMK harus segera mempersiapkan diri untuk menuju NTB Gemilang, dan mengajak para kepala sekolah dan guru untuk bahu-membahu bekerja keras demi mewujudkan siswa terampil dan terserap.

“Karena hanya itulah cara kita atau sebagai indikator bacaan masyarakat bahwa SMK itu sukses, yaitu suksesnya anak kita bekerja, suksesnya berwirausaha dan suksesnya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,” pungkasnya.(red)