Demi Kebaikan (NWDI, NBDI & NW) Bersama

Foto : RTGB dan TGB Menunjukkan Hasil MoU.
banner post atas

Oleh: Abah_Rosela_NW

Alhamdulillah, hari ini kita (khususnya warga NW) cukup amat bahagia. Pasalnya, sejak tadi pagi media maya, baik @facebook dan WA-WA group diramaikan dengan foto pertemuan antara Syekh R.T.G.B. Muhammad Zainuddin Ats-Tsani dan Syekh T.G.B. Muhammad Zainul Majdi.

Tentu, selain berseliweran foto-foto yang memotret momen pertemuan yang diinisiasi Kemenkumham RI itu, juga banyak disertai tulisan setengah artikel, comen dan tulisan ala celetukan. Tulisan-tulisan itu pun tidak sedikit “diracuni” pikiran yang tak membangun perdamaian demi kebaikan (ormas NWDI, NBDI dan NW) bersama.

Iklan

Nah, lantas, sikap kita sebagai jamaah arus bawah harus bagaimana?

Menurut hemat saya, bila kita tidak bisa berkontribusi banyak demi persatuan organisasi ciptaan Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid (Pahlawan Nasional, Pendiri NWDI, NBDI dan NW), maka paling tidak kita membantu zuriatnya dengan menjaga tiga hal, yakni rem tulisan, lisan dan pikiran.

Maka, dengan telah berlangsungnya pertemuan “Kesepakatan Ishlah” tersebut, maka mulai saat ini kita para jamaah (terutama generasi muda) berhentilah “menulis” hal-hal yang melonggarkan “lem” perekat persatuan dan ishlah zuriat guru besar kita Maulana Syaikh.

Mulai sekarang, lisan kita juga mesti direm dari membicarakan kelaim posisi siapa yang “kalah” dan atau “menang”. Pilihan “saat ini” tidak pada tataran yang satu dimenangkan dan yang lain dikalahkan. Keduanya, telah sepakat berjuang bersama demi organisasi.

Yang tidak kalah pentingnya ialah kita mesti mejaga pikiran. Lisan yang berucap dan pena yang menggores tulisan, semuanya bermula dari pikiran. Pikiran yang baik, melahirkan tulisan dan ucapan yang baik pula. Sebaliknya pun demikian.

Karenanya, janganlah kita menggiring pikiran kepada hal-hal yang menodai keikhlasan Sang Pendiri (NWDI, NBDI, dan NW) dan kita yang berjuang saat ini, dengan pikiran yang curigaan kepada salah satu zuriatnya. Kedua belah pihak sama baiknya.

BACA JUGA  Petani Lobster Babak Belur Curi Motor

Sampai di sini, saya al-faqir bersikap lewat tulisan, lisan dan pikiran seperti ini:

“Jemari saya lengkap ada sepuluh, tetapi untuk perihal pertemuan “Kesepakatan Ishlah” ini, saya hanya bisa acungi DUA JEMPOL” 👍👍. Kedua ulama kita RTGB dan TGB sama-sama berjiwa besar. Keduanya saling mengikhlaskan dan memaafkan.

“Lisan saya pun masih pasih berucap dan bertutur ribuan bahasa dan kalimat indah, tetapi untuk perihal ‘Kesepakatan Ishlah’ ini saya hanya bisa berkata, SETUJU.” Bukankah shahibul bait lebih paham dari kita yang lebih sering di luar ring?

“Pikiran saya juga masih bisa berkelana bebas tak ada yang mengekang, tetapi untuk perihal ini saya hanya bisa; HUSNUZHON.” Anti berspekulasi yang tidak-tidak. No curigaan. Pikiran saya penuh keyakinan mengikut kepada guru pilihan hati.

Akhirnya, saya menyakini, dengan kita menjaga “tulisan, lisan dan pikiran”, ruang publik kita bisa lebih adem dan nyaman. Dan inilah yang dicontohkan dan diharapkan oleh Syekh TGB. Berikut tulisan beliau yang saya copas di @WA_Gema_NW:

Alhamdulillah suasananya baik.
Penuh persaudaraan.
Saling memaafkan.
Saling menghargai.
Saling mengakui.

Keduanya memiliki kesetaraan dalam meneruskan perjuangan Maulana Syekh.
Saling membantu.
Itu semua ada dalam Akta Kesepakatan Ishlah.

Sekolah, madrasah, majelis taklim, panti asuhan, dan seluruh amal usaha Nahdlatul Wathan memiliki kebebasan untuk memilih menginduk ke mana, apakah ke NW atau NWDI.

Tidak boleh ada intimidasi, persekusi, bullying, pengaduan ataupun laporan apapun terkait satu dengan yang lain.

Ini jalan terbaik saat ini.
Semoga Alloh memberi ridho-Nya.

T.G.B. Dr. K.H. Muhammad Zainul Majdi, M.A.

Wa Allah A’lam!

Bilekere, 23 Maret 2021 M.