Dari “Amalunā” ke “Aʿmālunā”: Transformasi Gerakan Umat dari Idealisme ke Aksi Nyata

Dari “Amalunā” ke “Aʿmālunā”: Transformasi Gerakan Umat dari Idealisme ke Aksi Nyata

Sinar5news.com – Dalam sebuah rihlah dakwah TGB di salah satu Pondok NWDI, tepatnya di Ma’had Fityanul Ulum Sengon, Cinere Depok,Tuan Guru Bajang (TGB) Dr. Muhammad Zainul Majdi menyampaikan tausiyah kepada para santri dan khalayak yang hadir saat itu. Di tengah semangat beliau menuturkan salah satu syair perjuangan Maulana Syaikh Zainuddin Abdul Majid ninikda beliau dan juga sebagai Pahlawan Nasional, tiba-tiba beliau mengucapkan:

“A’mālunā fawqa an-nujūm” Karya-karya kami melampaui bintang-bintang.”

Sejenak kami ragu…
Apakah TGB keliru menyebutkan?
Bukankah dalam nash syair Maulana Syaikh, yang benar adalah “ʿĀmālunā fawqa an-nujūm”Cita-cita kami setinggi bintang-bintang?

Namun, semakin kami renungi, apa yang tampak sebagai kekeliruan, justru membuka cakrawala baru dalam memahami perubahan paradigma gerakan umat dari masa ke masa. Bukan kesalahan, tapi kami mencoba memahami secara implisit bahwa ini bentuk reinterpretasi yang luar biasa. Bukan bermaksud untuk melupakan sejarah, tapi melanjutkan dan memperkuatnya.

Pertama, Syair Maulana Syaikh “نحن فتيان العلوم… آمالنا فوق النجوم…” adalah pancaran idealisme luhur dari generasi kebangkitan. Beliau memimpin umat dari titik nol dari keterjajahan, ketertinggalan, dan kemiskinan. Maka tentu yang beliau bangun pertama adalah: Kesadaran akan harga diri, cita-cita yang membakar semangat, harapan sebagai energi perubahan, maka dalam konteks ini melahirkan jargon kebangkitan

“Cita-cita kami setinggi bintang.”

Kedua, Tentu, Ungkapan ini lahir dalam konteks kebangkitan umat pasca penjajahan panjang kepada umat, maka untuk bangkit, umat membutuhkan energi kebangkitan, membutuhkan idealisme besar, semangat membangun diri, dan keyakinan terhadap masa depan.

Maka pada awalnya, syair ini mampu membentuk ruh perjuangan Nahdlatul Wathan dan para santrinya, yaitu: semangat tanpa lelah, cita-cita tanpa batas. Pada masanya, istilah “ʿamalunā” (أمَلُنَا) menjadi simbol idealisme, cita-cita, dan semangat kolektif umat yang sedang bangkit dari keterpurukan kolonialisme, kebodohan, dan ketertinggalan, Ia mengekspresikan kesiapan batin dan niat luhur untuk berbuat demi kejayaan Islam.

Namun kini, secara implisit beliau menyampaikan bahwa zaman telah berubah. Umat telah memiliki akses terhadap ilmu, sumber daya, dan ruang gerak yang lebih luas. Maka, “ʿamalunā” (cita – cita, idealisme) saja tidak cukup saatnya beralih ke “aʿmālunā” (أَعْمَالُنَا), yakni aplikasi nyata dari cita-cita tersebut.

cita – cita atau idealisme yang tidak diterjemahkan ke dalam kerja nyata akan kehilangan makna. “Kini bukan lagi masanya umat Islam hanya menghidupkan semangat ‘amaluna’, tetapi harus naik level menjadi ‘a’maluna’. Jangan hanya semangat, tapi harus nyata; jangan hanya berencana, tapi harus bekerja.” Inilah perubahan paradigma umat Islam kontemporer dari pengagum sejarah, menjadi pembuat sejarah, dari umat pemimpi, menjadi umat pelaku, dari “umat yang berbicara”, menjadi “umat yang bekerja. Artinya, transformasi dari ʿamalunā ke aʿmālunā adalah panggilan bagi setiap Muslim hari ini untuk naik kelas secara spiritual dan sosial.

“Amal adalah bukti iman, dan aksi nyata adalah bahasa paling kuat dari cita-cita.”

Jika generasi Maulana Syaikh membangun semangat, maka tugas generasi hari ini adalah membangun sistem. Jika dahulu umat bangkit dengan amaluna, maka kini umat harus memimpin perubahan dengan a’maluna. Kalimat ini bukan mimpi kosong, tapi mantra peradaban. Ia mengajak setiap anak muda, santri, mahasiswa, atau aktivis Islam untuk: Berani bermimpi besar Menyusun strategi jangka panjang, melandasi semua itu dengan amal konkret (harakah) yang terstruktur (manhaj yang jelas)

آمالُنا فوقَ النجومِ، لكن أَعمالُنا على الأرضِ تُحققها.

Cita-cita kami di atas bintang, tapi amal nyata di bumi yang mewujudkannya

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA