Oleh: Abah_Rosela_Naelal_Wafa
Hebat! Ulama bicara hari ini. Kebenarannya bisa terbukti seketika. Bisa pula selang seminggu, sebulan, setahun atau rentang waktu lebih lama. Yang jelas, ucapan mereka tidak akan sia-sia. Justru, pengaruhnya bisa lama dan langgeng. Tak lekang oleh ruang dan waktu.
Tepat sepuluh hari yang lalu, Syekhona TGB al-Hafidz dalam ceramahnya di Denpasar Bali, 27 Nopember 2021, ia menyampaikan perihal pentingnya kita menjaga dan memperhatikan *tuntunan* dan *tatanan* secara bersamaan.
Karena, “Islam hadir untuk menjadi tuntunan dan juga tatanan.” Katanya dengan tegas.
Dalam penjelasannya, ulama alumnus al-Azhar Kairo Mesir itu menyebut, bagian yang termasuk tatanan adalah semua alam raya ini yang demikian indah dan sangat teratur dalam kendali-Nya.
Pernyataan beliau itu dikuatkannya dengan Kalam Allah berikut ini.
الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِنْ تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِنْ فُطُورٍ .
“(Dia) Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS. al-Mulk: 3).
Maha benar Allah dengan firman-Nya.
Langit di pagi hari bisa dipandang dengan keindahanya yang sangat mempesona. Demikian pula sawah-sawah yang terhampar hijau –semisal di Ubut–, semuanya tercipta dengan kuasa-Nya. Itulah ciptaan Allah Yang Maha Sempurna dan tidak bisa diduplikasi oleh pelukis hebat siapapun dan dari manapun. Kata Syekhona menjelaskan.
Selain tatanan alam raya. Ada pula tatanan kemanusiaan berupa ukhuwah atau persaudaraan. Karena itulah dalam Islam, menyambung persaudaraan disebut silaturrahim. Sementara kata “rahim” bermakna tempat kita terhimpun.
Di dalam rahim, Allah menjamin kehidupan dan kebutuhan janin. Seonggok bayi yang ada di dalamnya, tidak perlu sibuk berusaha mencari makanan. Dia Yang Mahakuasa langsung mengantarnya melalui ibu yang makan. Di dalam rahim pula, janin (kita) terlindungi dari segala bahaya, hujan dan panas.
Perihal jaminan keamanan bagi janin seperti itu, biasa disebut sebagai tatanan kasih sayang.
Maka, “Siapa pun yang merusak tatanan kasih sayang, itu seperti orang yang membelah rahim dari seorang wanita.” Kata Syekhona TGB, sambil menegaskan bahwa tindakan merusak itu adalah dosa besar.
Selanjutnya. Selain tatanan, ada juga tuntunan. Pada tuntunan itu tercakup perintah-perintah Allah seperti salat, puasa, zikir, dan istigfar atau lainnya. Tuntunan agama tentang salat sudah jelas. Tuntunan puasa, juga jelas. Semua tuntunan-Nya telah jelas termuat dalam kitab suci dan sunnah nabi.
Nah, antara tatanan dan tuntunan, harus jalan beriringan.
Syekhona TGB menerangkan, siapa saja yang rajin menjalankan tuntunan agama, tapi merusak tatanan yang Allah ciptakan, orang itu tidak akan menjadi saleh.
Demikian pula, orang yang mati-matian menjaga tatanan. Pandai melestarikan alam. Lihai menjalin hubungan sosial. Tapi tuntunan beragama ia tinggalkan, maka sama tidak baiknya dengan orang yang pertama.
Karena itu, tidak boleh ada ketimpangan pada keduanya. Tidak cukup, hanya salah satu yang jalan, dan yang lain stagnan. Sehingga manakala keduanya sejalan, maka disitulah tempat yang disebut dengan “Wasathiyaul Islam” (moderasi beragama).
Dengan kata lain. “Wasathiyaul Islam” itu adalah seimbangnya dunia dan akhirat. Dunia hasanah. Akhirat juga hasanah. Tatanan dan tuntunan beriringan. Lahir dan batin, aktif berdua dalam kehidupan.
Adapun relevansi bahasan Syekhona TGB terkait “tuntunan dan tatanan” tadi, dengan kenyataan peristiwa saat ini, seperti gunung Semeru meletus dan banjir bandang di Gungsari, Batu Layar, dan di beberapa titik di Lombok Tengah, Lombok Timur sampai di Bima, adalah pada pasal menjadikannya sebagai “muhasabah” (introspeksi) diri.
Bencana (hari ini) sangat erat relevansinya, dengan sejauh mana ketaatan kita menjaga tuntunan dan tatatanan secara beriringan. Sebab banjir bukan makhluk baru. Bahkan ia telah menjamah kaum Nabi Nuh as. Menelan korban jiwa kaum ‘Ad. Dan juga negeri Saba’.
Peristiwa banjir yang dialami kaum terdahulu bisa ditelaah dalam kitab suci. Antara lain bisa ditemukan pada surah Hud ayat 32-49, surah al-A’raf ayat 65-72, dan surah Saba ayat 15 juga 16.
Hanya saja, semua banjir yang terjadi memiliki sebab yang berbeda. Ada karena sebab “teologis” dan sebab “ekologis”. Dua istilah yang disederhanakan oleh Syekhona TGB dengan istilah “tuntunan” (teologis) dan “tatanan” (ekologis).
Banjir saat ini masuk pada sebab mana? Kita jawab sendiri.
Kalau –ternyata– sampai hari ada banyak perintah Allah yang dilanggar, atau ajaran agama tidak diindahkan, maka berarti banjir ini disebabkan ada tuntunan yang dilanggar (musibah akibat teologis). Kaum nabi Nuh mengalami banjir karena ini.
Namun, bila –ternyata– kita tidak akur dan tidak bersahabat dengan lingkungan. Pohon ditebang sembarang. Gunung-gunung digundul membabi buta. Maka, hasil diagnosanya berkata bahwa banjir itu akibat melanggar tatanan alam raya (musibah sebab ekologis).
Alangkah menyentuhnya Kalam Ilahi berikut ini.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. ar-Rum: 41).
Terakhir. Idealnya saat ini, mari perbanyak membaca doa tolak bala’.
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
“Ya Allah, hindarkanlah dari kami kekurangan pangan, cobaan hidup, penyakit-penyakit, wabah, perbuatan-perbuatan keji dan munkar, ancaman-ancaman yang beraneka ragam, paceklik-paceklik dan segala ujian, yang lahir maupun batin dari negeri kami Indonesia ini pada khususnya dan dari seluruh negeri kaum muslimin pada umumnya, Yaa Allah Tuhan Sekalian alam. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.
Dan alangkah indahnya doa yang diajarkan Rasulullah manakala kita tertimpa musibah.
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا
“Kita milik Allah semata dan sesungguhnya hanya kepada-Nya semata kita kembali. (QS. Al-Baqarah [2]: 156). Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah yang menimpaku, dan berilah aku ganti yang lebih baik daripada musibah yang telah menimpa.” (HR. Muslim)
Semoga makbul. Amiiin!
Wa Allah A’lam!
PP. Selaparang, 6 Desember 2021 M.
#StafPengajardiPPSelaparang
#KetuaIMMZAHSelaparang
#SekretarisPCNWDIKediri


