Oleh: Abah_Rosela_Naelal_Wafa
Indonesia merdeka sejak 73 tahun silam. Pemimpin negera sudah 7 kali berganti. Sepanjang kurun waktu hampir satu abad, Republik Indonesia telah mengalami banyak romantika. Pasang – surut kondisinya dilalui dengan penuh dewasa.
Badai masalah bernegara tak jarang menyapa. Padahal baru Proklamasi. 18 September 1948 di Madiun, PKI mencoba merongrong pintalan persatuan tanah air. Gagal pada percobaan pertama, PKI kembali berulah merobek NKRI pada Gerakan 30 S/PKI 1965.
Di duga karena peristiwa G30 S/PKI, Orde Lama (Orla) lengser 1967. Lalu disusul Orde Baru (Orba) di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto.
Pemimpin berdarah Cedana itu terlalu lama di tapuk pimpinan. Lebih dari 30 tahun menjadi nomor satu. Krisis moneter tak terkendali. Ekonomi di ambang maut. Gelombang mahasiswa pun, mengepung gedung DPR RI 1998. Tuntutan mereka hanya satu. Turunkan Pak Harto.
Romantika diskursus pikiran atau ide “khilafah” juga kian menguat. Bila salah deteksi dan telat diagnosa, bangsa ini bisa kabur dan sekarat. Kontestasi politik nasional pun tak tanggung ditunggangi dengan ramuan nas-nas agama. Banyak rakyat awam terimingi dan terpikat. Pilpres 2019 puncak ide ini sangat terasa.
Pembelahan rakyat pada tahun tersebut betul-betul memuncak. Cebong dan Kampret dua kelompok yang bagai air dan minyak. Sama-sama di wadah bernama Indonesia, tapi ide dan pikiran tak bisa menemukan titik temu — walau– untuk sekedar saling menghormati. Sungguh ngeri, hampir saja tenunan negeri ini robek, dan tak terpintal kembali.
Namun –alhamdulillah, para pemuka agama dan tokoh-tokoh bangsa masih ada yang menjadi “ayah adil” di tengah perkelahian anak-anaknya. Masih ada di antara mereka yang siap “mendayung di antara dua gelombang” paham ekstrim kiri dan kanan. Sehingga negara Indonesia masih utuh sedia kala.
Sementara, romantika bernegara seperti ini di kebanyakan negara-negara lain, justru berujung pada kehancuran. Negara mereka yang semula kuat dan digdaya, robek seketika. Dan sungguh amat jauh kemungkinan, negara-negara itu bisa terpintal kembali.
Syekhona Dr. TGB. KH. Muhammad Zainul Majdi pada acara peresmian Pendopo Bapak H. Wikondo Rahardjo di Denpasar Bali, 27 Nopember 2021 menceritakan tentang Presiden pertama RI Bapak Ir. Soekarno memiliki banyak teman, sebagai sesama pemimpin bangsa.
Ada Gamal Abdul Nasir (w. 1970) pemimpin Mesir. Bung Karno dengan beliau sangat akrab. Saking akrabnya, nama Bung Karno sangat populer dipakai sebagai nama anak-anak orang Mesir. Sehingga sekarang, kalau kita bertanya nama orang Mesir yang berusia 45 atau 50-an tahun, tidak sedikit mereka bernama Ahmad Soekarno.
Bahkan, selain dipakai untuk nama orang. Nama Ahmad Soekarno juga dipakai untuk nama jalan elit di bumi seribu piramida itu. Sebuah jalan yang dilalui para diplomat-diplomat ulung. Tepatnya di derah _muhadditsin_.
Selain G. Abdul Nasir, Bung Karno juga mempunyai sahabat bernama Joseph Broz Tito (w. 1980), pemimpin Yugoslavia. Dia tercatat sebagai salah satu pendiri Gerakan Non Blok. Pada masa kepemimpinannya Yugoslavia sangat diperhitungkan khususnya dikawasan Balkan, namun setelah ia meninggal dunia, Yugoslavia dirundung konflik politik yang berkepanjangan.
Dan kenyataan hari ini. Yugoslavia sudah terpecah belah menjadi Serbia, Kosovo, Montonegro dan Bosnia. Pecah berkeping-keping menjadi empat negara. Ngerinya, sampai saat ini keempat “negara pecahan” itu terus perang tanpa berselang. Meski makan puluhan ribu orang. Innalillah!
Sikap ini kalau dalam Islam disebut “kufur nikmat”. Lupa akan nikmat Allah. Tidak pandai menjaganya. Nikmat berlimpah, namun disia-siakan. Akhirnya, diganti oleh Allah dengan musibah yang lebih besar.
Sementara –lagi sekali–, sebagai rakyat Indonesia kita masih utuh dan bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Meski masalah datang bertubi-tubi. Dan baru terasa, persatuan adalah nikmat terbesar yang Allah berikan. Alhamdulillah!
Maka, Syekhona TGB al-Hafidz mengajak kita untuk pandai-pandai bersyukur. Sebab dalam tuntunan kita beragama, maqam tertinggi itu adalah “maqamus syukri” derajat kesyukuran. Mari kita tampakkan kesyukuran itu dengan menjaga atau merawat persatuan, kesatuan dan keutuhan Indonesa.
“Menjaga Indonesia ini bukan kerjaan kita sebagai warga negara saja. Tapi, ini adalah tanggungjawab kita sebagai umat beragama. Tanggungjawab kita kepada Sang Pencipta terhadap nikmat-Nya.” Kata Syekhona Tuan Guru Bajang al-Azhari.
Terakhir. Syekhona berpesan agar semua hal-hal baik yang membawa kepada ketenangan, kedamaian, kebaikan, persaudaraan dan persatuan, hendaklah semuanya terus kita dukung dan diupayakan meningkat. Semoga!
Wa Allah A’lam!
Bilekere, 6 Desember 2021 M.




