Dakwah TGB (86) ALLAH: BERGEMBIRALAH DENGAN MAULID

Dakwah TGB (86) ALLAH: BERGEMBIRALAH DENGAN MAULID

Oleh: Abah_Rosela_Naelal_Wafa

“Saya datang dari Nusa Tenggara
Tiba di Penang disambut senyuman
Jumpa bapak-ibu yang berbahagia
Silaturrahim dalam kebaikan”

“Malam ini malam yang berkah
Maulid Rasul kita rayakan
Mari terus tingkatkan ukhuwah
Agar Malindo terus berkemajuan”

Demikian dua pantun yang disampaikan Syekhona Tuan Guru Bajang (TGB) saat menghadiri undangan Maulid Nabi Muhammad saw. di Malaysia pada tahun 2019. Acara yang dirangkai dengan Perayaan Hari Ulang Tahun Permai Utara Malaysia ke-39.

Deretan pantun tersebut dibuat seketika saat di arena acara. Pantun yang dibuat tiba-tiba karena MC dan Panitia yang memberi sambutan, semua pada berpantun.

Namun, yang menarik dari pantun ini –meski dibuat dadakan– adalah pesan yang ingin disampaikan Syekhona TGB, sungguh padat. Pesan yang dimaksud antara lain; TGB memotret sikap tuan rumah yang ramah dengan penuh senyum, dan pertemuannya dalam bingkai silaturrahim yang dihajatkan semoga berkah.

Selain itu, guru kita –TGB– berharap dan berdoa, serta mengajak dengan penuh kesadaran, untuk meningkatkan “ukhuwah” (persaudaraan). Semoga dengan ikatan persaudaraan ini, negeri Malindo bisa menjadi negeri yang berkemajuan.

Sebuah harapan dari Syekhona yang tersurat dari pantun-pantunnya, yang selaras dengan tema Maulid yang ada di spanduk belakang beliau yaitu: “Kita Tingkatkan Keteladanan kepada Rasulullah dalam Membangun Masyarakat Madani.”

Dan menurut hemat saya, kalau pantun tersebut diperas, lalu diambil sarinya, maka akan menjadi, “Bila ingin menjadi negeri atau bangsa yang berkemajuan, maka jalin dan eratkan persaudaraan. Semua niat baik akan lekas terwujud makanala kita menghimpun kerja kolektif anak bangsa.”

Demikian, kira-kira pesan yang bisa saya sarikan dari pantun yang beliau sampaikan. Meskipun, pada saat berpantun bagi sebagian orang ada sedikit kesan “bercanda”, semata untuk melonggarkan kepenatan, tapi bagi Syekhona al-Hafidz tak lupa pada pantunnya menyusupkan pesan-pesan religi. Di sini intinya.

BACA JUGA  H.Salman,S.Pd Terpilih Sebagi Ketua PAC NWDI Desa Kotaraja,Lotim-NTB. Masa Bhakti 2021-2026.

Pesan religius akan selalu dikenang.

Falhamdulillah, meski acara tersebut diselenggarakan dua tahun lalu di Malaysia, tetapi sampai sekarang masih relevan dan dibayang. Itulah kalau kata-kata yang disampaikan oleh sosok ulama yang asli berilmu dan beradab. Insyaallah!

Deretean paragraf di atas, insyaallah tulus dari hati penulis. Tidak ada maksud “mendewakan” atau mengkultuskan seseorang. Keilmuan dan keadaban Syekhona Dr. TGB. KH. Muhammad Zainul Majdi, Lc., MA patut diteladani oleh kader-kader NWDI yang masih muda dalam berdakwah.

BACA JUGA  Babinsa Bukuran, Sosialisasi 3 T dan 5 M, Putus Mata Rantai Covid-19

Berdakwah dengan bermodal ilmu dan adab, adalah sebuah keniscayaan. Namun selain keduanya, penting juga mengikuti “selera” jemaah. Di Pinang ini suka berpantun, maka Ulama yang pernah menjabat Gubernur NTB (2008-2018) siap melayani mereka dengan pantun juga, sehingga acara peringatan Maulid pun menjadi cair penuh kegembiraan, yang insyaallah berkah.

Bergembira saat Maulid dan atau bergembira dengan Maulid, adalah semestinya, sepatutnya dan sepantasnya. Kalau kata Syekhona TGB, bergembira saat Maulid adalah bergembira dan bersukacita pada momen yang tepat. Sebab, Allah sendiri yang menyuruh kita berbahagia padanya dan karenanya.

Kata beliau, jarang-jarang Allah swt. menyuruh kita bergembira dalam Alquran segamblang ayat 58 dari Surah Yunus berikut:

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Dengan ‘fadhl’ (karunia) Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”

Kata para ulama tafsir, yang dimaksud dengan “fadhlullah” (karunia) Allah ialah Alquran. Artinya, hadirnya Alquran bisa membuat kita bergembira. Atau kalau kita mau hidup bergembira di dunia jangan jauh-jauh dari Alquran. Pesan TGB.

Sementara makna “rahmati” pada ayat ini, disebut oleh para ulama dengan kehadiran Baginda Rasulullah saw. Maka kelahiran Nabi Muhammad mestinya disambut gembira, karena beliau menggembirakan. Dan, di sinilah sepatutnya kita bergembira dan menampakkan kesukacitaan.

BACA JUGA  Meskipun Prodi Termuda di UNHAM, Program Studi Farmasi Dapat Meraih PKKM dan Gelar Workshop Peninjauan Kurikulum.

“Mari letakkan kegembiraan dan kesukacitaan kita kepada hal-hal mulia seperti Maulid Nabi Muhammad saw. bukan pada hal-hal yang remeh-temeh.” Himbau Syekhona TGB al-Azhari.

Sekilas uraian singkat TGB ini memecah kebuntuan berpikir sementara orang yang anti Maulidurrasul. Saya sendiri bingung dengan mereka, Maulid tidak dibolehkannya, tapi perayaan kelahiran anaknya diselenggarakan.

Masak, lebih bergembira dengan anak sendiri, dibanding Baginda Rasulullah saw?

Walhasil, gembira dengan Maulid melalui sebuah perayaan, ternyata tak ada yang salah, justru disuruh oleh Allah melalui Alquran.

Wa Allah A’lam!

PP. Selaparang, 3 Rabiul Awwal 1443 H.

 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA