Dakwah TGB (59) MEDIA SOSIAL BUKAN DUNIA MAYA

banner post atas

Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa
Acara webiner nasional dua bulan lalu yang diselenggarakan oleh Wasathiyah Center Indonesia (WCI) dengan tema “Dakwah Wasathiyah di Era Revolusi 4.0” dihadiri empat narasumber berbobot salah satunya Prof. Dr. (H.C.) Dahlan Iskan.

Setelah keempat narasumber memberikan pemaparan pembuka dilanjutkan oleh Dr. TGB. KH. Muhammad Zainul Majdi, Lc., MA. selaku sahibul bait. Dalam pemaparannya beliau menyampaikan tiga hal penting persfektifnya mengenai media sosial yang digandrungi banyak orang.

“Setelah mendengar pemaparan empat narasumber kita, maka pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan tiga hal.” Kata TGB mengawali paparannya.

Iklan

Pertama, kemajuan media sosial sebenarnya adalah bagian dari kemajuan ilmu dan teknologi.

Menurut alumni Al-Azhar Cairo ini, semaju-majunya ilmu dan teknologi itu tetap dalam kerangka وما أوتيتم من العلم إلا قليلا . Bagi beliau, mau sebanyak, semaju atau sehebat apapun ilmu dan teknologi tetap dalam konteks قليلا (sedikit sekali).

Dengan memahami makna ayat 85 dari surah al-Isra’ tersebut, maka Tuan Guru Bajang tidak pernah merasa khawatir, dan beliau juga mengajak kita untuk tidak perlu takut berlebihan terhadap masa depan agama atau akan runtuhnya nilai-nilai kebaikan oleh maraknya media sosial ini.

“Saya punya keyakinan yang sangat kuat, bahwa pada akhirnya semua kemajuan ilmu dan teknologi itu akan membawa kepada spiritualitas baru dan semakin kita merasa kehadiran Allah Yang Maha Tidak Terbatas.” Tegas ulama tafsir asal Nusa Tenggara Barat ini.

Kedua, TGB mengajak kita perlunya mengevaluasi pemahaman tentang dunia nyata dan dunia maya. “Saya orang yang tidak setuju dunia media sosial itu termasuk dunia maya.” Katanya mengutarakan persfektif yang berbeda.

Pandangan ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) ini dikuatkannya dengan argumen bahwa kurang nyata apa media sosial ini?, padahal ia sudah menjadi bagian dari hidup kita.

BACA JUGA  Danramil Nogosari Dampingi Tim Asistensi Supervisi Polda Jateng

Bahkan –lanjutnya–, dia kurang apa bila kita melihat dari dampaknya di suatu masyarakat yang dari generasi ke generasi telah ditempa oleh nilai-nilai baik yang demikian kuat, akhirnya bisa buyar kohesifitas sosialnya dengan konten-konten yang ada di media sosial.

Jadi, ” Bagi saya, media sosial adalah الواقع المعاش (dunia nyata yang senyata-nyatanya).” Kata TGB. Mengapa demikian? Karena pengaruhnya sudah merasuki kehidupan manusia dari bangun tidur sampai tidur kembali, dan merasuki semua dimensi kehidupan kita baik individual atau sosial.

Oleh karenanya, ulama yang pernah menjabat sebagai Gubernur NTB dua priode 2008-2018 ini mengajak; oleh karena media sosial ini bagian dari dunia nyata, maka mari kita meresponnya sebagaimana kita menghadapi hal-hal lain di dunia nyata.

“Jangan karena media sosial dianggap dunia maya, membuat kita tidak awas. Padahal, ia sudah bagian dari hidup kita. Mari kita hadapi ia dengan sungguh-sungguh!.” Tegasnya.

Ketiga, media sosial itu adalah sesuatu yang tidak bisa kita tolak. Terlebih, setelah ia banyak dijadikan sebagai bagian dari sumber ilmu pengetahuan. Meskipun, ada sebagian orang yang masih memperdebatkan muatannya antara; porsi ilmu pengetahuan dan propaganda, atau porsi berita dan gosip.

Namun, bagi cucu Pahlawan Nasional dari NTB ini mengatakan, kenyataan media sosial secara faktual banyak sekali di antara kita yang menjadikannya sebagai refrensi utama –bahkan– pada konteks membangun kehidupan keagamaan. Mulai dari meme-meme yang sederhana sampai ujara-ujaran yang kompleks dalam suatu pengajian.

“Media sosial itu sangat berpengaruh.” Akui ketua PBNW tersebut.

Wa Allah A’lam!

Bilekere, 18 Februari 2021 M.