Dakwah TGB (33) 5 TUJUAN POKOK DISYARIATKAN AGAMA (Ulasan Khutbah TGB di IC NTB)

banner post atas

Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa

Khutbah Jumat Tuan Guru Bajang di Islamic Center Mataram (9-10-2020 M.) mengupas lima hal pokok tujuan dari disyariatkannya agama, diutusnya nabi, dan diturunkannya kitab suci al-Qur’an.

Lima hal itu ialah; حفظ الدين (menjaga agama), حفظ النفس (menhaga jiwa), حفظ العقل (menjaga akal), حفظ النسل (menjaga keturunan), dan حفظ المال (menjaga harta).

Iklan

“Ribuan ayat al-Qur’an, dan segudang khazanah dari sunnah Rasulullah, semuanya kembali kepada lima hal pokok ini.” Kata Tuan Guru Bajang menyimpulkan.

Karena itu, dalam ulasannya TGB mengatakan:

Pertama, حفظ الدين (menjaga agama) menjadikan kita wajib berdakwah dan beramar makruf-nahi mungkar, agar agama ini senantiasa hidup di tengah-tengah kita sebagai suatu masyarakat.

“Supaya agama tidak hanya ada pada ucapan, tapi terwujud pada sikap, perilaku, dan interaksi sosial kita.” Kata TGB mengingatkan.

Demikian pula tujuan dari disyariatkannya ritual-ritual ibadah seperti shalat, puasa, zikir, berdoa dan lainnya, agar cahaya agama ini terus terpancar dan tetap terjaga dalam diri kita masing-masing.

Kedua, حفظ النفس (menjaga jiwa). Agama dengan tuntunannya mensyariatkan kita, untuk mengkonsumsi makanan yang dalam bahasa al-Qur’an, disebut حلالا طيبا (halal lagi baik), agar kita kuat dan sehat. Karena keduanya merupakan modal berharga dalam beribadah.

Demi terwujudnya perlindungan jiwa, –kata TGB– maka agama menyuruh kita berobat saat sakit, dan Allah menyediakan hukuman yang sangat berat, bagi orang yang menghilangkan nyawa orang lain. Istilah al-Qur’an disebut القصاص (memberi balasan setimpal bagi pelaku).

Ketiga, حفظ العقل (menjaga akal). Terkait hal ini, ada sebuah atsar mengatakan:لا دين لمن لا عقل له (tidak ada agama bagi orang yang tak memiliki akal). Maksudnya?

BACA JUGA  Hikmah Pagi : Laksana Menggegam Bara Api

Agama ini hanya dibebankan kepada orang yang memiliki akal. Dengan kata lain, agama ini harus diterima dengan kesadaran. Kata TGB, andai seluruh penduduk bumi ini tak memiliki akal, maka hilanglah agama. Sebab, agama tidak disyariatkan bagi orang gila.

Untuk menjaga akal ini, caranya –menurut TGB– kita pun disuruh terus belajar, agar akal yang dimiliki ini senantiasa berfungsi. Sama halnya dengan berolah raga, tujuannya ialah agar pungsi otot dan badan ini terus terjaga, sehat dan berfungsi.

Sementara itu, di sisi lain, Islam sangat melarang kita mengkonsumsi segala yang bisa menyebabkan hilang akal. Baik yang konkrit semisal; khamer, narkoba dan lainnya. Maupun yang tidak konkrit seperti; mengkonsumsi berita-berita bohong, hoaxs, dan fitnah, yang semuanya bisa merusak akal dan fikiran.

Nah, resep agama untuk hal yang terkait dengan berita, –masih kata TGB– adalah agar kita فتبينوا memprevikasi, mengkroscek kebenaran berita tersebut, agar kita tidak sesat dan menyesatkan. Bahkan, agama menyuruh kita, meski berita itu benar adanya, tapi tidak ada manfaatnya disampaikan, maka simpanlah ia!.

“Ambil yang benar dan sampaikan yang bermanfaat.” Kata ulama tafsir alumnus Al-Azhar Cairo Mesir tersebut menuntun kita.

Keempat, حفظ النسل (menjaga keturunan), maka dalam Islam pernikahan pun disyariatkan. النكاح سنتي (menikah adalah sunnahku) kata Nabi saw. Ini menjadi warning, bahwa Islam sangat mengecam setiap hubungan yang ada unsur penghinaan bagi manusia, merusak nasab keturunan, dan menjatuhkan harkat dan martabatnya.

Selain itu, maka Islam mewajibkan menutup aurat, menghindari zina dan semua mukaddimah-mukaddimahnya. “Dunia ini tidak mungkin mampu menjadi tempat berkah, kecuali ia didiami oleh generasi-generasi yang saleh.” Ulas TGB.

Kelima, حفظ المال (menjaga harta). Kita pun mengetahui bahwa Islam menyuruh kita menghidupkan ekonomi, membuka pasar-pasar dan pusat perbelanjaan, serta usaha-usaha kesejahteraan masyarakat agar dibangun.

BACA JUGA  Wafatnya Rasulullah

Bahkan, saking pentingnya perkara ini, maka dalam satu riwayat disebutkan, bahwa ada satu dosa yang tidak bisa diampuni, kecuali dengan bekerja mencari harta, yaitu dosa meninggalkan mencari nafkah.

Itulah lima hal yang harus senantiasa ada dan terjaga di tengah-tengah kita. Antara yang satu dengan lainnya, harus berjalan bersamaan. Walau, –memang– pada saat-saat tertentu urutannya bisa berubah.

TGB mencontohkan seperti عصر الوباء pada masa pandemi sekarang ini. Para ulama mengajarkan, bahwa yang harus diprioritaskan adalah حفظ النفس menjaga jiwa. Meski, yang lain tetap dilaksanakan atau dikerjakan.

Shalat berjamaah tetap jalan. Pendidikan tetap dijalankan. Aktivitas ekonomi tetap berjalan. Tapi, semuanya berlangsung dengan penyesuaian dan berdasarkan ketentuan protokol kesehatan. Shaf shalat berjarak. Menggunakan masker dan lain sebagainya. Semua itulah yang disebut وسطية الإسلام .

“Islam tidak hanya mendidik kita melahap mentah-mentah teks agama. Tapi, menempatkannya dengan tepat pada tempatnya masing-masing.” Kata TGB menutup ulasan khutbahnya.

Wa Allah A’lam!

Bilekere, 10 Oktober 2020 M.