Peristiwa pelintiran al-Maidah 51 oleh Pak Ahok, yang sedang menjabat Gubernur DKI Jakarta pada 2016, seketika menuai protes dari umat Islam.
Pemerintah pusat pun diminta memprosesnya secara hukum, tapi tak kunjung sigap mengusutnya. Bara yang terpendam di hati umat, mencuat dalam bentuk gelombang masa yang memenuhi Ibu Kota.
Di motori oleh ormas Front Pembela Islam (FPI) demo umat Islam terjadi berkali-kali. Yang terkenal ada 411, dan yang terbesar 212 (2 Desember 2016), yang rata-rata gelombang masa itu berlangsung pada hari Jum’at.
Sekian kali gelombang masa Islam minta keadilan, sekian kali pula tokoh-tokoh ulama dan para dai Indonesia banyak ikut mengambil bagian. Tercatat di antara mereka, ada AA Gym, Ustaz Yusuf Mansur, Syeikh Ali Jaber dan termasuk Tuan Guru Bajang atau TGB pada 411 (4 Nopember 2016).
Khusus, kehadiran TGB –meski hanya sekali– di 411, menjadi sebuah kelebihan tersendiri dan memberi surplus bagi kekuatan umat. Banyak media dan tokoh mengalihkan perhatian mereka kepada sosoknya. Mengapa demikian?
Sebab, TGB saat itu masih resmi menjabat sebagai Gubernur NTB. Bahkan, beliau satu-satunya Gubernur yang ikut serta pada 4 September itu. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai ulama yang berkapasitas dan mumpuni.
Sejak peristiwa itu, animo masyarakat semakin memprimadonakan TGB sebagai Ulama dan Umara yang diimpikan, dan diharapkan memimpin Indonesia ke depan. Banyak kalangan yang meliriknya dan menggadang-gadang ikut kontestasi Pilpres 2019.
Siapa sangka, di saat ghirah jamaah membuncah. Di kala perhatian dan harapan jamaah kepadanya berlimpah. Meski dielu-elukan menjadi RI-1 di semua lokasi dakwah yang dikunjunginya, dari Sabang sampai Merauke, TGB tetap tenang-tenang saja. Beliau tidak melambung. Tetap realistis atau –meminjam istilah beliau– menggunkan akal sehat.
Namun, jejak digital itu tak bisa hilang. Sepanjang tahun, setelah peristiwa Ahok sampai menjelang penyampaian keputusan dukungan TGB ke Pak Jokowi, teriakan RI-1 yang diikuti pekikan takbir senantiasa menjadi salam sambutan kehadirannya di medan dakwah, bahkan pekikan-pekikan takbir itu menyelinap di sela-sela ceramahnya.
Salah satu yang bisa kita saksikan, misalnya di Kabupaten Langkat Sumatera Utara pada tahun 2017. Meski demikian, TGB dengan penuh santun menyampaikan esensi takbir yang sesungguhnya.
Kata TGB bercerita. Bahwa dahulu pada zaman Rasul saw. diceritakan, takbir umat Islam itu menggetarkan sampai ke negeri Rum. Dari Madinah ke Rum. Rum=Romawi atau Konstatinovel yang sekarang jadi Istambul.
Kalau dihitung jarak keduanya sampai puluhan ribu kilo. Tapi, umat Islam takbir di Madinah, orang-orang yang ada di Romawi seketika gemetar. Lutut mereka ketar-ketir. Padahal jaraknya jauh dan sangat jauh. Dan itu baru hanya sekedar pekikannya saja.
Lalu, pertanyaannya. Kenapa sebegitu dahsyatnya bekas getaran pekikan takbir umat Islam itu?
Kata TGB, jawabannya minimal ada empat hal yang membuat ta’tsir atau bekas dari takbir itu begitu berpengaruh, yaitu:
Pertama, takbir umat Islam waktu itu adalah sebuah takbir yang benar-benar صدر عن صدق الإيمان . Takbir yang keluar dari semangat iman dengan disertai ketulusan hati dan jiwa para sahabat kala itu. Tulus nan murni. Tak ada embel-embel lain.
Kedua, takbir itu إستوفى شروط الإيمان والنصر . Sebuah takbir yang memenuhi syarat-syaratnya, sehingga mampu menggetarkan dan menyungkurkan siapa saja yang mendengarnya di hadapan keagungan Allah swt. Dan membuatnya layak memperoleh kemenangan.
Ketiga, pekikan takbir mereka adalah takbir yang memenuhi حق الأداب, dan menunaikan حق الله وحق الناس . Adabnya diperhatikan. Hak Allah dan hak sesama terunaikan.
Atau keempat, itulah takbir yang lahir dari orang yang menunaikan حبل من الله وحبل من للناس . Pekikan takbir yang lahir dari kesadaran akan kebesaran Allah dan jiwa yang mengasihi sesama.
“Seperti itu kekuatan pekikan takbir zaman dahulu.” Kata Tuan Guru Bajang.
Bagaimana dengan sekarang?
Rasa-rasanya takbir kita saat sekarang –jawab TGB–, belum sampai ke tingkat itu. Ta’tsir atau dampak dari takbir kita belum seperti itu. Padahal suaranya sama, semangatnya sama. Ketinggian suaranya pun bisa jadi sama, naik sampai sekian desibel. Tapi, mengapa tak berdampak dan tak berpengaruh?
Tuan Guru Bajang melanjutkan, jawabannya boleh jadi karena minimal empat hal berikut ini.
Pertama, belum sepenuhnya kita menunaikan hak-hak takbir itu. Pada diri kita, masih ada egoisme dan ke-aku-an yang mengeruhkan kesucian takbir. Padahal, kita sedang mengatakan “Allah Maha Besar”, tapi, kok kita merasa paling besar dan paling banyak di banding pihak lain.
Kedua, masih banyak tuntunan agama yang kita spelekan dan bahkan ditinggalkan. Ketiga, tuntunan-tuntunan Rasul saw. dinomorduakan. Dan keempat, mungkin silaturrahim kita belum maksimal. Silaturrahim dengan sesama anak bangsa masih berjarak.
Padahal, selain sebagai sesama anak bangsa, orang lain pun (selama ia manusia), kita masih diikat dan dilahirkan dari ayah dan ibu yang sama. Berasal dari jenis yang tidak berbeda. Sama-sama tercipata dari tanah. Nabi saw. menegaskan:
كلكم من آدم وآدم من تراب .
“Semua kalian berasal dari Adam. Dan Adam diciptakan dari tanah.” (Al-Hadis).
Bahkan, –masih kata TGB– kita sesama Islam pun masih berjarak. Hanya karena berbeda organisasi, kita pun enggan bertutur sapa. “Kok, organisasi yang semula sebagai مركوب kita jadikan sebagai راكب. Organisasi yang semula menjadi kendaraan yang ditunggangi menuju ridho Allah, berubah menjadi penunggang. Bahkan organisasi diporsikan melebihi syariat agama.” Kritik halus dari TGB.
Karena itulah, maka saran TGB adalah hendaklah kita menjadi muslim yang baik sebagaimana yang dikatakan Imam al-Hasan Basri ra. berikut ini:
إن الله لم يجعل لعمل المؤمن عجلا عند الله .
Bagi orang beriman itu tidak ada kata berhenti meningkatkan kualitas dirinya. Belajar, belajar, mengasah dan memperkokoh silaturrahimnya, merajut dan menjalin hubungan dengan baik kepada Allah dan sesama.
Mari “Teruuus kita belajar. Terus kita mengasah kemampuan diri kita. Memperkokoh silaturrahim kita. Memperbanyak majlis taklim. Sehingga pada akhirnya, mudah-mudahan takbir kita memiliki dampak yang membuat orang tunduk kepada Allah swt.” Demikian seru Tuan Guru Bajang.
Wa Allah A’lam!
Bilekere, 31 Agustus 2020 M.
*#Sekretaris_PCNW_Kediri
#Dakwah_Nusantara_TGB




