Cerpen “Proposal Kebahagiaan Abadi”

banner post atas

. Hari pertama di tahun 2018 ini dipilih Marsul sebagai hari baik untuk mengatakan cinta. Banyak pertimbangan tentunya. Tapi yang jelas, di penghujung masa kuliahnya ini Marsul sudah menemukan kebahagiaan yang paling hakiki, ketimbang iijazah dan gelar sarjana yang sudah pasti akan diraihnya.

“Buat apa lulus kuliah, kerja, hidup pengap di kota, lantas mati begitu saja tanpa Qonia,” ucap Marsul dalam hati, sambil menginjak pedal dalam-dalam. Serta merta motor yang tidak enak dipandang itu berhenti di sebelah pohon jambu. Di situ, Marsul menanti Qonia tiba.

Beruntung sekali Marsul konsisten aktif di LPM kampusnya. Di sanalah ia mengenal Qonia, mahasiswa angkatan baru jurusan sejarah. Marsul memang patut bersyukur sebab selalu merasa beruntung. Orang gunung mana yang dapat kuliah gratis di kampus negeri ibu kota?

Iklan

Akibat meraih beasiswa, Marsul dinobatkan sebagai definisi orang cerdas di desanya. Marsul membuat wangi nama sekolah dan juga keluarga. Orang tuanya tentu gembira. Riwayat pendidikan keluarga yang paling banter lulusan SMA akan terputus sudah.

Marsul juga tidak merana di ibu kota. Tidak seperti mahasiswa rantau lainnya, Marsul tidak terbebani tagihan biaya indekos. Sebagai mahasiswa teknik mesin Marsul pun mujur, karena sering terima sambilan dari senior dan dosennya. Motor yang tidak enak dipandang itu adalah hasil dari uang bengkel sana-sini.

Kini, membayangkan Qonia akan menerima cintanya, Marsul makin menguadratkan rasa syukur itu.“ Menaklukan gadis ibu kota, siapa bilang tidak mungkin? Bismillah!” renung Marsul.

Sehelai daun pohon jambu luruh dan mendarat tepat di atas kepala Marsul. Renungan itu lenyap. Setelah membuka layar gawai, ia mendapati Qonia sedang melambai di seberang sana. Walau terhalang lalu-lalang kendaraan, ia tetap mampu menemukan kecantikan Qonia.

Bagai pahlawan sedang khawatir, Marsul sibuk memberikan isyarat tangan. Seolah-olah para pengemudi mobil itu tega menabrak Qonia yang hendak menyeberang.

“ Kak, sori ya lama.” Ucap Qonia sambil menerima helm dari Marsul. Setelah pipi tembam Qonia tenggelam dalam dekapan busa helm, Marsul menusukan kunci pada lubang di leher kemudi. Motor yang tidak enak dipandang itu pun melaju santai.

“Loh, masih panggil Kak? Jangan pakai pembeda.” Marsul seolah-olah protes. Diam-diam ia mendambakan disebut “mas”, lebih romantis pikir Marsul. Namun, pergaulan di LPM kampusnya itu menekankan budaya kesetaraan. Sehingga Marsul mengulang gaya penolakan sebagaimana dulu pernah ia terima dari kakak seniornya.

“ Iya deh, Kakak!” jawab Qonia mengesankan canda. Marsul ketawa bahagia. Ini salah satu hal yang membuat Marsul menyukai Qonia. Sebab, Qonia selalu kekeh dengan kata sapaan itu. Wanita yang paham unggah-ungguh, pikir Marsul.

“ Acaranya sudah mulai dari tadi, Kak ?” Qonia menjeling setiap kali berbicara. Marsul membiarkan kaca helmnya terbuka, agar wajah ayu di dalam kaca spion itu lebih kentara. Marsul suka sekali memandangi mata bening Qonia.

“ Tenang Nia, masih panjang kok. Pertunjukan ebeg itu beda dengan kuda lumping yang keliling ke rumah-rumah.” Sekuat apa pun Marsul menyetel lidahnya, betapa pun suaranya disaingi deru mesin kendaraan di sekitar, tapi logat bicara Marsul tetap nyata terdengar. Dialek itu selalu menimbulkan kesan lucu bagi Qonia..

BACA JUGA  H. Irzani Optimis Jika dipilih jadi Walikota akan Tuntaskan Masalah Sampah dan Banjir Kota dalam 500 hari pertama.

“ Untung tanggal merah. Berasa di kebumen ya, Kak?” Qonia kembali melempar canda. Lagi-lagi Marsul ketawa bahagia. Semesta benar-benar mendukung, pikir Marsul. Sepanjang cempaka putih hingga kawasan industri, jalan raya tidak padat seperti biasanya. Mirip semester pendek yang berkekuatan lebih untuk nilai mata kuliah, perjalanan itu pun terasa singkat namun penuh makna di hatinya.

Kain penutup corak batik mulai Marsul lucuti dari daun telinga, turun ke hidung, dan beringsut ke bawah dagu. Tidak peduli lagi soal polusi udara, ia hanya ingin leluasa bicara dengan wanita di balik punggungnya. Tema obrolan pun merambat kemana saja. Tentang perkuliahan, cita-cita, lagu kesukaan hingga makanan.

“Nia, nanti setelah liputan kita makan pancong balap, yuk?” Marsul telah merencanakan suatu adegan di warung langganannya. Sedangkan Qonia tidak tahu, bahwa ada secarik kertas bersemayam di dalam kantung flanel pasar senen yang dikenakan Marsul.

***

Panggung gembira dengan level setinggi lutut orang dewasa itu berdiri di samping tembok gudang pabrik. Di belakang panggung tersebut motor yang tidak enak dipandang itu berhenti.
“ Nanti wawancara Ibu Pri ya. Pembina komunitas ini.”
“ Iya Kak, Itu perlu banget buat data.”

Qonia menuju ke sebelah kiti panggung dan menemukan orang-orang duduk lesahan di dalamnya. Bapak-bapak sedang memainkan perangkat musik gamelan. Tiga wanita muda bersimpuh menyanyikan lagu. Tepat di hadapan panggung, berderet aneka sajian di atas meja panjang. Terlihat bergelas-gelas kopi hitam, dua ikat pisang, serta tumpukan kembang aneka warna. Sedangkan di sebelah kanan panggung terdapat permukiman warga. Tampak rombongan tim penari memadati sebuah rumah. Marsul baru saja pamit ke sana.

Nuansa musik tradisional itu begitu riang dirasakan Qonia. Dengan gawai, Qonia menangkap keriuhan di sekitarnya. Anak-anak, remaja, bapak-bapak, ibu-ibu, warga sekitar berkumpul membentuk semacam persegi panjang memenuhi tiap sisi lapangan warga itu. Suasana yang baru bagi Qonia.

Melalui sela-sela kepala kerumunan, Qonia menyoroti penari berbusana serba hijau asyik mengendarai kuda-kudaan dua dimensi. Terdengar kencrang-kencring muncul dari setiap gerak penari tanpa alas kaki itu.

Aplikasi kamera pun dilenyapkan. Qonia mulai mencatat keperluan tulisan untuk majalah kampusnya. Qonia begitu antusias, tapi entah kepada apa. Ini memang pertama kalinya Qonia liputan keluar universitas, sebab pemred LPM kampus sudah mempercayainya. Dan ini juga momen pertama kali Qonia jalan berdua dengan Marsul. Sungguh baik Marsul, mau menemani Qonia menyelesaikan tugas liputan. Tapi Qonia jadi heran, mengapa wajah Marsul terus muncul dalam kepalanya?

“Nia, kenalkan!” Marsul tiba di sebalah kiri panggung bersama wanita yang telah dijanjikan. Qonia lantas bersalaman sebagaimana menjumpai ibunya sendiri. Wanita ini harum sekali, pikir Qonia. Setelah menyisikan dua kursi plastik, Marsul undur diri ke belakang sana, mengambil jarak dengan mereka.

“ Komunitas ebeg ini latihan rutin di kemayoran Mbak. Kalau ini kami diundang oleh bos pabrik.” Qonia telah menodongkan gawai. Bunyi iringan musik tarian itu pun ikut terekam bersama suara wanita wangi ini. Logat bicara wanita wangi ini meningatkan Qonia pada logatnya Marsul.

BACA JUGA  Seekor Semut Berpesan kepada Kekasihnya

“Mereka kebanyakan pekerja kasar, pedagang keliling, kuli bangunan, orang rantauan, Mbak.” wanita wangi menuding ke arah para penari yang, sedang membentuk lingkaran, bergerak searah jarum jam. Qonia takjub. Betapa wanita wangi ini mampu memimpin banyak pria.

“ kalau mahasiswa belum ada. Temanmu itu tidak mau gabung. Padahal dulu dia aktif nari di kampung, bapaknya main kendang.” Qonia senang mendapatkan informasi ini. Qonia sempat menoleh, sejurus dengan punggungnya, Marsul tampak cengar-cengir di atas motor yang tidak enak di pandang. Senyum spontan Marsul manis juga, pikir Qonia.

Marsul melewati momen tatkala dirinya dipandangi oleh Qonia. Marsul khusuk betul menyelidiki isi secarik kertas itu. Marsul memang tidak main-main tatkala menyelesaikan surat cintanya itu. Marsul telah mendatangi kawan-kawan mahasiswa sastra. Tanya sana-sini tentang keindahan kata-kata.

Marsul didorong untuk mempelajari kelugasan WS Rendra, puisi Joko Pinurbo yang jenaka, serta manisnya diksi-diksi Sapardi. Maka, lahirlah surat cinta yang ia beri judul “Proposal Kebahagiaan Abadi” itu.

Lagu pengiring tarian silih berganti. Nyanyian-nyayian itu begitu akrab di telinga Marsul. Suasana ini membuat hati Marsul jadi makin menggebu-gebu. Tidak sabar ia ingin mempersembahkan secarik kertas itu. Marsul ingin menikmati reaksi tiap inci wajah Qonia, saat membaca Proposal Kebahagiaan Abadi.

“ wahai Qonia Engkau adalah kebahagiaan paripurna. Bersamamu, aku mau pulang ke desa dengan bangga,” Marsul mengulas kembali tiap kalimat dalam surat cintanya. Semoga hati Qonia dapat lumer seperti adonan kue pancong di warung langgannya. Semoga nanti Qonia menerima permohonannya, untuk saling mencintai secara resmi dan abadi. Doa Marsul dalam hati

“ Tarian itu mengisahkan nilai-nilai keprajuritan,” wanita wangi berhasil membuat fokus Qonia hadir kembali dalam percakapan. Rasa ingin tahu terhadap sejarah dan makna pertunjukan seni tari tradisional itu tergali dengan sendirinya. Sementara itu, suara nyanyian tiba-tiba berhenti. Iringan musik mengalun kian pelan.

“ Apa benar meraka sampai trance? kesurupan, bu?
“ oh janturan, Itu bagian dari pertunjukan, Mbak. ”
“ Mengandung kisah tertentu?
“ Konon, itu akal-akalan saja Mbak, untuk mengelabui penjajah. Ini mau masuk janturan..Coba lihat.”

Pria berpakaian serba hitam hadir di tengah lapangan. Asap putih membubung dari belahan kayu yang dijunjungnya. Aroma dengan kesan magis merebak. Bunyi pecut bersahut-sahutan, disusul iringan gamelan yang mendadak lebih bertenaga. Sebuah lagu pun dinyanyikan dengan vokal sopran.

Mimik dan sikap tubuh para penari berubah. Beberapa dari mereka menjangkang, bergerak perlahan-lahan, menyemuti meja sajian. Sejumlah penonton tiba-tiba ambruk, lalu tampak menggeliat. Beberapa dari mereka menyeruak kerumunan, bergabung ke tengah lapangan dan memamerkan suatu tarian.

“ Walah, temanmu ikut mendem! ” Qonia tidak mendengar jelas celoteh wanita wangi. Qonia merasa gamang, menyaksikan Marsul bergerak tidak karuan. Sedangkan secarik kertas itu luput dari genggaman Marsul, lantas terperosok di tanah. Dan Qonia hendak memungutnya.

Marendra Agung J.W.
Kelahiran Bekasi 1993. Mengajar di Jakarta. Menulis cerpen di sejumlah media daring.(Surel:prosamarendra@gmail.com)