Cerpen Ke-22: HP yang Tertukar

Cerpen Ke-22: HP yang Tertukar

Cerpen Ke-22: HP yang Tertukar

Hari Selasa, 27 Januari 2026, saya mendapat amanah mengajar di SMP Laboratorium Jakarta. Pagi itu saya mengajar Tahfidz Al-Qur’an sekaligus menjalankan tugas sebagai guru Bimbingan dan Konseling. Setelah selesai mengajar Tahfidz di SMP sekitar pukul 09.15 WIB, saya bersiap melanjutkan tugas mengajar Tahfidz di SMK Laboratorium Jakarta.

Sebelum berangkat, saya sempat mengecas ponsel di ruang guru SMP karena baterainya masih kurang dan perlu ditambah. Di dekat ponsel saya yang sedang dicas, terdapat ponsel milik salah seorang rekan mengajar. Karena terburu-buru menuju SMK, tanpa saya sadari saya mengambil ponsel yang ternyata bukan milik saya.

Saya baru menyadari kekeliruan itu ketika hendak memulai pelajaran di SMK Laboratorium Jakarta. Saat ponsel saya lihat dengan saksama, ternyata ponsel tersebut bukan milik saya. Seketika itu juga saya merasa kaget dan tidak enak hati. Tanpa menunda waktu, saya segera kembali ke kantor SMP Laboratorium Jakarta untuk mengambil ponsel saya yang sebenarnya.

Sesampainya di ruang guru SMP, saya mendapati suasana sedikit panik. Ternyata rekan saya, Ibu Zaskia, sedang kebingungan mencari ponselnya. Ia bertanya kepada rekan-rekan guru,

“Bapak Ibu melihat HP saya tidak?”

Namun, semua menjawab serempak, “Tidak.”

Dengan wajah bingung, Ibu Zaskia berkata, “Tadi ada di sini, kok tiba-tiba menghilang.”

Tak lama kemudian saya masuk ke ruang guru dan memberanikan diri menyampaikan,

“Maaf, Bu. Ini HP Ibu ya. Ternyata ketukar dengan HP saya yang sedang dicas. Mohon maaf sebesar-besarnya, Bu.”

Setelah itu, rasa lega bercampur malu menyelimuti hati saya. Walaupun masalah telah selesai, tetap ada perasaan tidak enak karena telah membuat rekan sendiri kebingungan.

Dari peristiwa sederhana ini, saya belajar bahwa kita harus selalu teliti terhadap barang milik sendiri dan tidak tergesa-gesa dalam bertindak. Kesalahan kecil, jika tidak segera disadari, bisa menimbulkan kesalahpahaman, bahkan menyakiti perasaan orang lain. Alhamdulillah, rekan saya dapat memaklumi kejadian tersebut.

Semoga cerita pendek ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita semua agar lebih berhati-hati, jujur, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis : Marolah Abu Akrom/Ust. Amrullah (Jurnalis media SinarLIMA,  guru BK SMP Laboratorium Jakarta dan SMP Nahdlatul Wathan Jakarta)

 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA