CERPEN INSPIRATIF (10) GOES TO PACIFIC OCEAN (Part 2)

CERPEN INSPIRATIF (10) GOES TO PACIFIC OCEAN (Part 2)

Oleh : Abdul Quddus Al Majidi (SISWA KELAS 9 SMP PONPES NW JAKARTA)

Suara ombak saling sahut-menyahut ketika kami didalam kapal selam Wolfer I. Dihiasi oleh suara burung yang semakin lama semakin terdengar. Matahari pagi yang baru muncul menjadikan laut makin indah dengan pantulan cahayanya. Aku, Alexei, Brian dan yang lain sedang mempersiapkan peralatan selam. Seperti masker snorkeling, regulator, drysuit, dan alat bantu pernapasan dalam air Bouyancy Compensation Device/BCD, serta alat lainnya. Jaga-jaga aja, takutnya kenapa-napa…

Baiklah, ayo kita ke Samudera Pasifik dan menyelaminya. Sekarang kita berada di bawah permukaan laut. Kamu bisa melihat kehidupan disini. Terdapat banyak jenis ikan dan terumbu karang. Dan hai. Beberapa perenang sedang melambai ke arah kita. Pada kedalaman 20 meter, petualangan kita dimulai. kita bertemu orang lagi disini. Mereka adalah ‘Scuba Diving’ Atau yang biasa disebut para penyelam di kedalaman 20 sampai 40 meter. Tekanan air membuat Scuba Diving harus menggunakan perlengkapan khusus. Ini adalah kedalaman maksimum yang diperbolehkan oleh mereka. Hati-hati teman-teman, pada kedalaman 60 meter, terdapat 3 paus orca yang biasa hidup di perairan yang relatif dangkal. Hei, tahukah kamu. Pada rantai makanan di ekosistem laut. Paus orca (lumba-lumba) adalah predator tingkatan teratas. Berarti, mamalia laut ini tidak punya predator alami, sehingga tidak ada yang dapat memangsanya.

Tak lama, saya berjalan mendekati pintu koridor utama kapal selam ini. Dibawah suara air laut yang cukup mengerikan. Saya malah makin penasaran, gimana rasanya menyelam dengan peralatan selam yang kupakai sejak tadi.

“Luis, Where are you doing?” Alexei bertanya padaku. “Sebentar, saya mau keluar dulu. Mau nikmatin pesona samudera ini.” “Sekarang sudah di kedalaman 70 meter, berbahaya kalau menyelam sendiri. Sebaiknya jangan keluar dari kapal selam ini!” Kata senior saya. “Hei, kamu. Jangan keluar dari sini. Kamu tidak lihat, tekanan air saat ini sangat tinggi. Gak boleh keluar!” Tegas tuan Gilbert Allegro yang ngomel kepada saya. “Sebentar saja ya tuan Gilbert. Saya pergi bareng Alexei deh.” “Lah kok saya si? Saya aja belum berani menyelam di kedalaman ini. Gak, saya gak setuju kamu keluar dari kapal selam ini. ” Ungkap senior saya. Alexei menarik pundak saya dan makin marah ke saya. “Aku tau kamu temanku yang paling baik. Bisa gak sih, kamu jangan ngelawan perintah kami? Demi kebaikanmu juga.” Karena saya gak diizinin, saya pura-pura nurut aja dan kembali duduk di kursi paling depan dekat pintu utama. Alexei Vyatcheslavovna tertidur pulas, saya mengendap ke pintu kapal selam ini dan pergi ke luar.

BACA JUGA  Menteri Agama Fachrul Razi Dinyatakan Positif Covid-19
BACA JUGA  Menteri Agama Fachrul Razi Dinyatakan Positif Covid-19

“Apaan tuh? Seperti ada sesuatu sedang menuju kesini.” Tiba-tiba ada yang menuju kearah saya. Kirain saya ada penyelam lain yang sedang menuju kesini. Sementara kapal selam yang saya tumpangi sudah agak jauh ke dalam laut. “Sudahlah, nikmati keindahan bawah laut ini. Tunggu saya tuan Gilbert” Saya berteriak memanggil namanya, tapi ia tidak mendengarkan saya. Lagipula, teriak di dalam air ya mana kedengeran. Sosok itu makin terlihat jelas dan makin besar. Nampaknya itu bukan penyelam dari organisasi lain, tapi seperti ikan apa gitu. Saya penasaran, saya deketin ikannya. “Awas Luis!” Teriak seseorang. ZERR!! Ia menggunakan alat seperti tongkat setrum untuk membius makhluk tersebut. Penglihatan saya semakin buram. Saya melihat tabung oksigen (snorkeling) pada alat selamku yang makin sedikit. “Dekompresi.” Sama-sama kudengar suara jeritan sosok tersebut. “Cepat tolong dia!” Teriaknya. Penglihatan saya semuanya jadi hitam. “Apakah saya akan mati?” Hatiku bergeming. Yang kulihat sekarang hanyalah gelap dan hitam.

“Luis-Luis-Luis-Luis…” Terdengar suara yang cukup keras, “Luis, kamu tidak apa apa?” Seseorang bertanya….

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA